Bagian 45

964 49 0
                                        

Halooo menjelang Lebaran ada diskon PDF lagi.  Luka Hati Dita masuk dalam promo Pdf 100rb dapat 3. Cuss ke admin Ruri wa : 6282119314695. Hanya berlangsung hingga tanggal 27 Maret. Hanya sampai besok. Gassskeun.

=========
Keesokan harinya sebelum aku berangkat ke kantor, aku sadar jika banyak barang di dalam rumah sudah tidak lagi tertata seperti biasanya, padahal aku ingat tiap akhir minggu ikut turun tangan membantu Bik Sati, atau Mang dadang, perihal bersih bersih rumah.

Sejak informasi dari kepolisian tiga bulan lalu, jika pelaku perampokan rumahku sesungguhnya kerabat dari Mang dadang, seharusnya membuatku wajib memberhentikan dia sebagai tukang bersih-bersih di rumahku, namun aku masih ingat alasan dibalik kenapa Mang Dadang diterima kerja di rumah ini, sewaktu Dita, akan melahirkan, Mang dadanglah orang yang membantu Dita sampai di rumah sakit tepat waktu menggunakan motor butut miliknya bahkan tanpa tahu siapa Dita. Saat aku ingin membalas kebaikannya, Mang dadang menolak, dia hanya minta diberi pekerjaan agar memiliki gaji bulanan untuk makan anggota keluarganya.

Kerabat Mang dadang tetap dipenjara, namun aku tetap mempekerjakan mang dadang, dan memintanya tidak lagi mengijinkan siapapun masuk ke halaman rumah tanpa seizinku. Jam Kerja Mang dadang sebagai tukang bersih kebun dan halaman rumah, bisa dibilang tidak begitu berat, biasanya dia telah menyelesaikan semua pekerjaannya pukul sepuluh pagi. Rentan waktu yang tersisa jika tidak ada pekerjaan tambahan dia, Mang Dadang akan pulang pukul empat sore.

Saat Dita Kembali ke rumah aku berniat membicarakannya, aku akan mengikuti semua aturan Dita. Biasanya dia lebih paham pengaturan yang terbaik buat masalah ini. Aku menulis pesan buat Bik sati dan meletakkannya di meja makan. Isinya aku memintanya tidak perlu memasak makan malam. Malam ini akan ada makan malam perusahaan, dan aku berharap bisa melihat Dita di sana. Sungguh malang nasibku, karen harus berperang dengan diriku sendiri. Di sisi lain aku ingin tegas dan memaksa Dita pulang, tapi di sisi lain, akulah yang sejak awal mengijinkannya dan menganggap masalah ini akan kumenangkan. Dan inilah yang terjadi. Mengenai Mentari, aku masih belum mendapatkan kabar apapun, atau mencari kabar lebih jauh.

Saat tiba di lantai enam, dan aku melihat Rena, dan menanyakan perihal kabar Mentari.

“Pak, sepertinya masalahnya besar, Pak. Saya takut ngomong, Pak Rizwan yang tahu, tapi, Pak Rizwan juga udah dua hari ini ijin pak, katanya dia ada urusan keluarga.”

Aku mengerutkan dahi. Jika Rizwan dan Mentari sama-sama tidak masuk, maka aku pasti berada dalam masalah besar, ada beberapa analysis laporan yang hanya bisa dikerjakan oleh dua orang itu. Jika melihat hasil kerja staf yang lain, aku tidak yakin akan bisa diterima oleh pak Pria. Mengingat Pak Pria sangat detail dalam menilai laporan. Dia seolah tahu jika sebuah laporan atau proposal itu bernilai hanya dalam waktu lima menit. Pernah dalam sebuah pertemuan dengan para Direktur serta dewan direksi, ada hal kecil tapi fatal yang dilewatkan oleh timku dalam Menyusun format kegiatan, namun bisa ditemukan oleh Pak Pria hanya dengan menyaksikan presentase yang telah kami susun selama seminggu penuh.

Kata Pak Pria, dalam sebuah tim work, besar kemungkinan kesalahan kecil tidak ditemukan antara anggota tim karena masing-masing sibuk dengan hal yang besar dan tidak menyangka hal kecil, akan berpengaruh signifikan terhadap keberhasilan sebuah projek. Misalnya saja saat tim kami dipercayai menjamu tamu dari Venezuela serta Costarica, kami sibuk menyiapkan segala sesuatu mulai dari pernerjemah yang kompeten, isi penawaran, tapi lupa mempelajari karasteristik pribadi para klien. Hal-hal kecil sebenarnya, tapi akan sangat menentukan hasil kesepakatan jika dilakukan secara maksimal.

“Kamu tetap kontak dengan Mentari dan juga Rizwan, pastikan waktu mereka masuk kantor, ada yang harus aku omongin sebelum ke Kalimantan. Eh kamu jangan lupa yang kemarin ya,”kata pada Rena

“Yang mana pak?”

“Conecting room, pastiin itu.”

“EH..itu..saya, ehmmm apa gak melanggar etik pak?,”tanya Rena takut-takut.

Astaga, aku lupa kalau punya sekretaris kelewat lugu.

“Ren, sekarang kamu dengar ya, Dita itu istriku, benar-benar istriku, tapi kamu tidak saya ijinkan untuk menyampaikan ini pada siapapun, oke?” kataku dengan suara pelan. Wajahku mengkerut heran saat menyaksikan reaksi Rena.

“Ah, bapak jangan main-main, setahu saya, Bu dokter itu, pacarnya Pak Pria, malah gossip di grup sekretaris, Pak Pria udah nyiapain emas tujuh puluh kilo pak, buat lamar ibu dokter, jadi, bapak udah gak ada kesempatan, Pak,”jawabnya berapi-api, dan itu sangat sangat luar bisa menjengkelkan bagiku.

Astaga, ingatkan aku buat menyimpan foto pernikahanku di ponsel dan di seluruh sosial media, agar tidak terjadi hal seperti ini. Tapi,bukannya ini juga karena ulahku? Aku yang membatasi Dita ikut kegiatan kantor. Alamak.

“Rena, Dita istriku, kali lain kalau keadaan kondusif kuliatin foto pernikahan kami, eitss…ingat ya, jangan bergosip di grup WA sekretaris kantor, kecuali kamu ma uku roling di bagian produksi,” ancamku serius.

“Eh? i…iya pak. Tapi..tapi…apa tidak sebaiknya dibicarakan dulu pak sama Bu Dokternya Pak? Saya takut kena tegur pak, soalnya dia kan…diaa…pacarnya Pak pria, Pak.”jawab Rena lagi setengah meringis

Astaga haruskah aku pake bahsa isyarat buat meyakinkan Rena? Kurang bukti apa lagi kejadian lima hari yang lalu di apartemen Mentari?

“Ren, jadi kedatangan Bu Dita, di apartemen kemarin, marah-marah kamu piki8r karena apa?,”selidikku

“Lah? Kan dia dokter pak? Mungkin bapak yang nelpon agar bu dokter datang, atau Pak Rizwan, bisa saja kan?”

Aku butuh Panadol dosis tinggi. Pengen tak “HIH” kamu Rena.

Kabar penundaan keberangkatanku ke Kalimantan tiba malam harinya. Ada berkas yang belum rampung yang harus di selesaikan Naga dan juga Hilal, tim yang akan ikut bersamaku nanti. Aku menyampaikan pada Rena, dan masih melihat raut wajahnya yang seolah tidak percaya denga napa yang aku katakan. Well besok aku benar-benar akan membawa foto pernikahanku, agar Rena percaya. Karena tahu ada makan malam kantor, jadinya aku tidak Kembali ke rumah. Yang ada dipikiranku adalah bagaimana agar dapat tiba tepat waktu dan bisa melihat Dita secara langsung.

Ternyata rencana tinggallah rencana karena saat tiba di tempat  makan malam perusahaan, aku sudah melihat hal yang membuatku panas dingin.

LUKA HATI DITATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang