Asal istri dan keluargaku tidak boleh tahu 43
Aku masuk ke ruanganku dengan hati gembira. Saat melihatku, Rena mengejarku masuk ke ruangan sembari memberikan titipan Pak Anggara padaku. Sebenarnya dibanding bagian produksi dan pemasaran, tugasku termasuk kecil karena tidak termasuk dalam bagian yang menentukan keberlangsungan hidup perusahaan. Namun adakalanya aku masuk dalam tim negosiator saat menghadapi konsumen dari luar negri serta turun andil dalam beberapa kesepakatan.
“Pak hari ini staf dari bagian kita yang akan melakukan medical chek up, jadi saya sama Rizwan akan bergantian standbye,”ucap Rena padaku.
“Lo, Mentari mana, Ren?”tanyaku heran. Biasanya Rena berbagi tugas dengan Mentari.
“Tadi pagi Bu Mentari nelpon , katanya, gak bisa datang karena lagi sakit Pak.”
Mentari sakit?
“Kalau giitu, minta bagian Kesehatan jadwalin Kembali, ya,”
“Baik Pak.”
“Oh iya, setau saya, Bu Mentari gak ada keluarga di sini, setelah jadwal cek up, kamu telpon dia, atau jenguk sekalian, ajak Rizwan juga.”
“Baik Pak. Kalau begitu masih ada yang perlu saya bantu, Pak?”
“Ahm cukup Ren, oh iya, ingatin saya makan siang sama Pak Pria hari ini, Ya.”
“Baik, Pak.”
Aku Kembali terngiang peristiwa di lift beberapa menit yang lalu, hatiku bahkan masih bersemangat jika mengingat kejadian tadi pagi, semoga ada kali lain kami sering bertemu agar aku bisa Kembali merengkuh hati Dita, aku pasti melakukan apapun agar mendapatkannya Kembali.
Siang ini kami makan siang tak jauh dari kantor. Ada restaurant khas jepang yang telah di reservasi khusus terlebih dahulu sebelum kami datang. Perusahaan PT. GAW adalah perusahaan tambang Emas kedua terbesar di Indonesia. Dalam perjalanannya perusahaan ini berkali kali mengalami pasang surut, tetapi masa-masa krisis itu bisa di lewati karena andil besar Sansa Dewa, buyut dari komisaris utama PT GAW. Sudah bukan rahasia umum lagi, jika perusahaan swasta dalam pengoprasiannya tetap di pimpin langsung oleh anggota keluarga, namun berbeda dengan PT.GAW, meski komisaris utama dijabat oleh anggota keluarga, mereka tidak pernah turut campur secara langsung dalam manajemen perusahaan.
Selama dua belas tahun bekerja, aku selalu mengamati interaksi para atasan termasuk jajaran direktur, hingga jajaran manager. Dan inilah alasan kenapa aku betah, selain gajinya yang tinggi, apresiasi pada karyawan yang berprestasi juga sangat menjanjikan. Saat makan siang berlangsung aku ikut menjadi pendengar aktif saat menyaksikan keluhan divisi oprasional tentang laporan kuartal terhadap produksi, keluhan pemasaran tentang tingginya permintaann emas batangan, yah untuk yang terakhir aku tahu benar jika pembelian emas batangan sedang meningkat ratusan kali lipat dari biasanya.
Beberapa divisi mengusulkan agar kita menyediakan pecahan emas mini yang lebih variative atau lebih banyak disukai pasar, dalam hal ini divisi pemasaran pasti lebih lihai dalam mengidentifikasi selera pasar terutama kaum ibu-ibu kalangan menengah keatas yang menjadi target utama perusahaan kami. Saat aku asik menikmati makananku, tiba-tiba ada pembahasan yang membuatku mau tidak mau ikut memperhatikan.
KAMU SEDANG MEMBACA
LUKA HATI DITA
RomanceDita tidak menyangka jika perkawinannya dengan suaminya, Dygta akan berada diujung tanduk setelah semua yang dia korbankan, termasuk karirnya sebagai seorang dokter. Dygta tidak menduga jika wanita yang awalnya dia cintai sedemikian hebatnya bisa be...
