Bagian 40

1.5K 93 4
                                        

Asal istri dan keluargaku tidak boleh tahu 40

Oh tidak bukan seperti ini yang aku mau. Segera aku berdiri menghalangi Dita yang bergegas membuka pintu.

“Tunggu, Dit. Aku…sory sayang, maaf, bukan itu maksudku…aku, bukan itu maksudku, aku tahu kamu pasti ngerti maksudku, astaga… Dita, please, aku nggak pernah sekalut ini sebelumnya, aku hanya ingin kamu pulang, itu aja.”jawabku jujur.

Dita mengambil Langkah mundur berusaha menjauhiku.

“Aku udah bilang Mas, kalau mau aku pulang, dan nggak mau bikin semua ini tambah runyam, maka jangan memaksaku buat melakukan hal yang gak aku mau, bagian mana yang kurang jelas? Cape Mas, cape sebenarnya kalau dalam rumah tangga hanya kemauan Mas dan apa yang ada dipikiran Mas yang utama, pernah nggak? Sekali saja Mas prioritasin apa yang jadi kenyamanku? Apa yang tidak aku sukai untuk dilakukan?”

“Maka dari itu, aku pengen kamu pulang, maafin aku, aku salah pernah nyakitin hati kamu, aku salah, aku pengen kamu balik ke rumah, sama-sama kita benahin, kamu bantu aku berubah, ya, Dit? Please, aku kayak orang kehilangan arah di rumah gak ada kamu,”jelasku dan secara perlahan mulai mendekati Dita.

“Mas, sekali lagi aku bilang, setahun ya setahun, gak bakalan jadi enam bulan, kenapa? Biar gak ada kali lain, kesalahan yang sama terulang, dan sampai saat ini, apa Mas pernah minta maaf soal Mentari? Nggak kan? Apa penjelasan Mas tentang wanita bernama Mentari?”

“Dit, please, ini antara kita, gak ada sangkut pautnya sama Mentari, she is nothing, not everythink, you are my everything, Its You Dita, hanya kamu.”

“Mas, siapapun kalau lagi di posisi gak menguntungkan bakalan bilang kayak gitu, aku hanya mau kita sama-sama instropeksi diri, aku juga instropeksi diri, makanya aku pelan-pelan motifasi diri nurunin berat badan, biar gak lagi dengar kamu ucapin kata-kata menyakitkan soal badanku yang bikin kamu gak minat. Apa mas ingat? Sebelum ada enam bulan ini, hampir setahun hubungan kita renggang, Mas. Dan gak terhitung upayaku buat mengusahakan yang terbaik, tapi, apa?”

“Dit, sayang, please, makanya kita pulang bicarain semua dari hati ke hati, tolong Dit, ini suamimu yang minta, bukan orang lain,”mohonku pada Dita dan mulai menyentuh kedua bahunya.

“Mas harus siap kecewa kalau gitu, aku baru akan pulang ke rumah enam bulan lagi, itupun jika masih aku yang jadi pemilik rumah itu, bukannya tempo hari ada Mentari yang datang ke rumah?”

Hah? Bagaimana bisa?dua cicak? Bik Sati? Siapa yang memberitahu Dita?

“Jangan bikin ini makin sulit, Dit, aku hanya pengen kita baik-baik saja, pengen rumah tangga kita utuh.”

“Mas pengen semua baik-baik saja , tapi gak merasa bersalah bikin aku sakit kepala dengan omongin hal yang sama berulang kali, dan kenapa aku merasa setiap aku omongin soal Mentari, gak pernah ada yang selesai, Mas pintar banget ngalihin situasi. Gimana aku gak mikir yang tidak-tidak?”

“Ya tuhan, Dita, Mentari bukan siapa-siapa, bukan seseorang yang perlu kamu kuatirin bakalan merebut aku, aku ini manusia, bukan barang yang bisa direbut rebut, aku punya pikiran, dan pikiranku tetap sama kamu, jadi, apa lagi yang kamu permasalahkan?”

“Gini Mas, kita bicara enam bulan lagi soalan ini, oke? Sambil Mas pikirin lagi, apa benar Mas masih pengen sama aku, apa benar Mas akan berubah, kita sama-sama instrospeksi diri, Mas. Aku mau pulang, Tumbelina hanya sampai jam tujuh jaga anak-anak.”

Kupikir aku sudah kehilangan akal sehat saat melihat Dita menghindariku sedemikian rupa sehingga menggeser badanku agar menyingkir dari pintu dan tidak menghalanngi jalannya.

“Dit, kamu pulang hari ini, atau tidak sama sekali,”ancamku setengah marah.

Dita spontan berhenti dan berbalik menatapku. Wajahnya tanpa ekspresi. Senyum yang menyiratkan kelelahan terpancar dari sana.

“Memang kelebihan Mas adalah memberi ancaman, bukan dengan mendengar atau memperbaiki diri,”sahutnya getir, lalu melangkah tanpa menatapku lagi.

Sial. Sial. Sial.

================================

Aku bergegas meninggalkan Mas Dygta di klinik, tak lupa menitip pesan pada security agar memeriksa pintu klinik, kalau-kalau ada pintu yang lupa kututup. Emosiku lumayan tergerus setelah bertatapan dengan Mas Dygta secara langsung. Aku tidak tahu mana yang benar sebelum membutikan sendiri dengan kedua mataku saat bertemu wanita itu, Mentari. Ya Mentari. Aku harus bertemu, jika perlu bertemu enam mata.

Aku tiba di apartemen dengan pemandangan Deny yang duduk diatas kursi seolah dia telah menungguku begitu lama. Sebenarnya saat membenahi laporan di laptop tadi, aku ingin menghubungi  Deny dan menanyakan keberadaannya. Karena dia menghilang secara tiba-tiba.

“Dit, aku ingin tanya, siapa pimpinan PT. GAW? Bukannya pimpinanannya Namanya  Hartawan?,”cerocos Deny seolah itu adalah hal yang sangat dan amat penting baginya.

“Empat tahu lalu setahuku gitu, sekarang ada empat Direktur, dengan direktur utama  Pria Pamungkas, komisaris utama masih keluarga Sansa Dewa, ada juga komisaris independent yang beberapa juga masih di duduki dari kalangan Akademisi kampus, tapi masih keluarga Sansa Dewa juga, yah ujung ujungnya perusahaan itu dipegang keluarga mereka juga, ada apa Den? Kamu kok kayak panik gitu?,”sahutku sambil membantu tumbelina membenahi mainan si kembar. Sesekali aku bertanya gimana sekolah mereka hari itu.

Aku menghentikan aktifitasku saat menyadari tidak ada lagi suara Deny yang menginterupsiku. “Ada apa sebenarnya? Kamu kenal pak Hartawan Den?”

“Aku tidak kenal pak Hartawan, tapi, aku kenal Sabda Pria Pamungkas, aku mengenalnya lebih baik dari semua orang, mending kamu jangan dekat-dekat dengan pria itu deh, Dit,  atau kamu cari perusahaan lain aja asal bukan di sana,”tuturnya panik. Entah berapa kali si Deny mondar mandir bikin kepalaku pusing.

“Aku masih terikat kontrak Den, masih ada delapan bulan, nggak mungkin lagi, gajiku sebulan di sana lebih dari cukup, aku gak perlu ganggu uang dari Mas dygta, tunggu kami baikan baru uang yang dia kirim kupake, enak aja minta aku cari perusahaan lain, emangnya ada apa sih? Kamu udah ketemu tadi sama Pak Pria? Dia baik kok.”jelasku meyakinkan. Lalu tawa Deny menggelegar. Kupikir penyakit Deny lagi kumat.

“Seumur hidup aku tidak akan menunjukkan wajahku di hadapan si Pria baik hatimu, Dit. Udah, aku pamit pulang, besok aku hubungin dr. fadly kalo aku hanya bertugas sampai proses medical chek up aja, selanjutnya nggak lagi, aku pulang Dit,”sahut Deny dan langsung membuka pintu apartemen siap buat pulang.

Tapi aku melihat Deny berhenti saat dia membuka pintu. Badannya seolah membeku. Spontan aku berdiri dan melihat ke arah pintu. Ups, aku lupa bilang ke Deny kalau pak Pria juga tinggal di apartemen ini, dan sering mengantar anaknya Rama main ke unitku. Apakah aku telah berbuat salah?

Ah sudahlah apa peduliku, urusanku jauh…jauh…lebih rumit.

LUKA HATI DITATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang