04. Adanya Kejanggalan

1K 101 20
                                        

Suarga
—04. Adanya Kejanggalan—

------

Alur mu bergerak lambat, menata kepingan takdir yang mulai retak.

------

"Dia memang sudah bahagia dengan keluarga barunya, namun dia sempat menitipkan sesuatu untuk mu."

Wilard langsung membuka matanya, menggagalkan tidurnya. Wilard mengambil tas sekolahnya dan mengeluarkan sebuah kotak kecil berwarna coklat.

Wilard duduk bersila diatas lantai, entah mengapa jantung nya berdegup ribut saat ingin membuka kotak itu. Namun akhirnya Wilard membulatkan tekad nya, ia membukanya dengan perlahan.

Sebuah foto yang tampak tidak asing membuat Wilard terpaku, foto yang dulu pernah ia simpan kini kembali lagi padanya. Wilard mendekapnya, setitik air mata sudah menetes membasahi pipinya.

Wilard tidak pernah mencari kecacatan keluarga nya yang sekarang, karena memang semua terasa begitu sempurna baginya. Namun Wilard tidak bisa berbohong jika ditodong pertanyaan mengenai rindu atau tidaknya dengan keluarga nya yang dulu. Terlebih, Wilard merindukan sosok itu.

Wilard buru-buru mengusap air matanya dan menyembunyikan foto itu kembali kedalam tas saat mendengar suara pintu kamarnya yang terbuka dari luar, ia melirik ke belakang dan menemukan Shankara lah yang kini mendekatinya.

"Kata bunda lo lupa bawa susu lo, jadi gue anterin aja." Shankara menyodorkan segelas susu berwarna coklat itu, namun Wilard terlambat menerimanya.

"Makasih bang."

Shankara mengerutkan keningnya, mengambil posisi didepan Wilard dan mengangkat wajah sang adik hingga kini mereka saling beradu pandang. Dan disitulah Shankara melihat wajah sembab Wilard, suara serak Wilard saat menjawabnya tadi membuatnya curiga.

"Lo kenapa?"

Wilard menggeleng, berusaha menjauhkan tangan Shankara namun ia malah merasakan Shankara semakin mencengkram pipinya hingga ia meringis.

"Jawab gue, Wilard!" Shankara menggertak tegas, membuat Wilard tersentak.

"Gue nggak apa-apa bang, lepasin gue!" Wilard membalas tidak kalah tegas, berhasil membuat Shankara langsung melepaskannya.

Dengan begitu Wilard mengusap kedua pipinya yang terasa sedikit nyeri akibat dari tangan durjana Shankara, ia menatap sinis Shankara yang hanya berekspresi datar seolah tidak merasa bersalah.

"Tanyain gue pake cara yang lebih halus lagi bang, gue nggak suka di kasarin!"

Shankara tidak menjawab, membiarkan Wilard yang kini naik keatas kasur dan berbaring dengan memunggungi dirinya. Wilard memeluk erat boneka dinosaurus miliknya, mengabaikan Shankara yang masih berada di tempatnya.

Shankara menghela nafas, mengusap kasar wajahnya. Shankara akui ia memang tidak sabaran, namun ia memang selalu begitu jika menyangkut soal Wilard. Shankara sendiri tidak mengerti, dirinya hanya khawatir dengan Wilard.

Shankara merangkak ikut berbaring menghadap Wilard, adiknya itu sadar dan berniat membelakangi Shankara andai saja Shankara tidak bergerak cepat menahannya. Menyingkirkan boneka dinosaurus itu dan menarik Wilard hingga menabrak dadanya.

Wilard berdesis, ia mendongak dan menatap kesal Shankara. "Sialan lo!"

"Gue aduin ke bunda kalo lo ngomong kasar."

Wilard makin kesal, dengan sengaja ia membenturkan keningnya dengan dagu Shankara hingga yang lebih tua terkejut dan memekik.

"Rasain!"

SUARGATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang