Suarga
—32. Harus Pulih Dulu—
------
Aku akan sembuh, kembali menjelajahi arus yang siap menghantam ku lagi.
------
Riki mendengarkan dengan seksama, wajah ngantuk nya terlihat begitu malas namun ia tetap menyimak penjelasan pemuda di hadapannya. Tiyas di sampingnya bahkan sudah menyenggol nya, agar Riki bisa tetap fokus.
"Lo penjarain aja semua dah, hukum gantung juga nggak apa-apa!"
Raymond yang baru selesai menjelaskan pun dibuat berpikir sejenak, kembali meneguk cola miliknya. Mereka saat ini tengah berada di kantor polisi, Raymond yang mengajak karena ada hal penting yang harus mereka bicarakan.
"Kayaknya nggak sampe hukuman gantung juga, yang penting bokap gue udah ngurusin mereka semua." Ujar Raymond.
Tak lama kemudian sosok pria dengan seragam polisi rapih datang menghampiri, membuat mereka bertiga langsung bangkit dari acara duduk melingkar di teras dapan kantor.
Dia adalah papa nya Raymond yang bertugas disana, beliau juga yang langsung turun tangan ketika sang anak melaporkan adanya pengerusuh.
"Gimana, pa?" Tanya Raymond langsung.
"Ya harus ngelewatin masa pemeriksaan dulu, nggak bisa langsung lempar ke penjara gitu aja. Tapi emang bener mereka orang-orang yang kami cari selama ini, udah terlalu banyak laporan yang masuk tentang kejahatan mereka."
"Maaf, sebenernya apa yang mereka perbuat?" Tanya Tiyas dengan sopan.
"Mencuri, mereka sering menjambret di keramaian. Beberapa juga ada yang nekat membegal para pengendara, laporan ini sudah banyak kami terima namun sayangnya mereka selalu berpindah-pindah dan sulit dikejar."
Derto dan antek-anteknya memang sudah sering sekali menciptakan masalah dijalanan, kejahatan-kejahatan yang mereka lakukan sudah tidak bisa di maafkan begitu saja. Para warga pun sudah mengadu berkali-kali, namun entah bagaimana caranya Derto selalu berhasil membawa teman-teman nya untuk kabur dari kejaran polisi.
"Apa ada masalah yang serius sampai-sampai kalian berhadapan dengan preman seperti mereka?" Tanya pria itu, tangannya bergerak mengambil kaleng cola milik putrnya. Menghentikan Raymond untuk meminumnya lagi.
"Mereka yang memulai, kami nggak bakal menyerang tanpa alasan. Sayangnya salah satu dari mereka sudah melewati batas dan semuanya berakhir kacau balau, teman kami bahkan belum sadar sampai saat ini." Riki yang menjawab, mengingat sahabatnya yang masih terbaring di ranjang rumah sakit.
"Kalian masih terlalu muda, berhenti membahayakan diri kalian sendiri. Jika hal buruk terjadi, kalian belum bisa memilah mana yang akan kalian sesali di kemudian hari." Ujar yang paling tua dengan bijak, berusaha membuka pikiran ketiga pemuda di hadapannya ini.
Karena bukan tanpa sebab ia mengatakannya, sang anak pun sama bebal nya tidak bisa di bujuk bagaimanapun caranya jika sudah menyangkut perkara kelompok nya. Mereka bilang ini bukan hanya sebatas kelompok, mereka seperti menciptakan lingkaran keluarga yang begitu kuat dan tidak mudah dipecah belah dari arah manapun.
Namun mereka terlalu sering terlibat dengan mara bahaya yang selalu membahayakan nyawa mereka, bahkan banyak sekali kenakalan remaja yang sebenarnya mereka perbuat. Juga beberapa ada saja yang melewati batas, dan mereka kompak menormalisasikan hal itu.
"Papa, kita udah pernah membahas ini sebelumnya kan? Kami punya alasan yang kuat, dan kami tidak akan bisa lepas tangan begitu saja." Raymond berucap dengan jengah, papa nya selalu saja memberikan petuah disetiap ada kesempatan.
KAMU SEDANG MEMBACA
SUARGA
Fiksi Remaja-We Are Family- ------ Kami SUARGA, perkumpulan besar berisi manusia-manusia yang saling membutuhkan tumpuan. Kami menciptakan rumah impian kami bersama. Dan ini adalah kisah kami, kisah Suarga bersama dengan para petinggi dan anggotanya. ------ Sua...
