Suarga
—34. Foto Aib Wilard—
------
Ayo mengamuk, tuhan menciptakan emosi untuk marah-marah.
------
Dihari itu, Jeo mendapatkan panggilan dari Wilard yang membuatnya langsung tancap gas mendatangi rumah sakit tempat dimana ia bisa bertemu dengan Wilard. Dengan hanya di temani oleh Jugo, mereka berdua berjalan santai menuju ruang rawat Wilard.
"Widih, cepet banget dateng nya."
Itu Hega, ia yang semulanya mengobrol dengan Juyen di bangku tunggu pun dibuat terkejut dengan kedatangan Jeo dan Jugo.
"Wilard ada di dalem?"
"Ada noh, lagi sama Jico."
Jeo mengangguk, mengucapkan terimakasih sebelum masuk kedalam. Sementara Jugo kini duduk turut bergabung dengan Hega dan Juyen dengan santainya, tugasnya hanyalah untuk menemani Jeo saja.
"Loh lo nggak ikut masuk?" Tanya Juyen pada Jugo.
"Ada suatu hal penting yang harus mereka bicarain."
Sudah ada Jico yang tengah berbincang santai dengan Wilard, yang lebih muda sibuk memakan jajanan yang Jico belikan untuknya. Mendapati kedatangan Jeo membuat Wilard langsung memanggil nya agar mendekat dan duduk disebelah Jico.
"Gimana keadaan lo?"
Wilard menyelsaikan kunyahan nya sebelum menjawab. "Udah aman banget ini mah, besok gue udah bisa pulang."
Jeo mengulas senyum. "Lo malah nggak kelihatan kayak orang sakit."
Melihat keadaan Wilard saat ini, Jeo yakin kalau Wilard sudah sangat baik-baik saja dibanding sebelumnya. Jeo menjadi ingat kala Wilard tertembak kala itu, semuanya langsung panik seketika.
"Gue mau ngucapin terimakasih, karena lo beneran dateng bawa pasukan lo buat nolongin kami." Wilard berujar dengan tulus.
Mengingat Wolves sudah sangat membantu mereka, Wilard sungguh berterimakasih pada Wolves yang sudah sigap bergerak cepat membantu mereka. Kepiawaian Wolves dalam urusan baku hantam memang tidak bisa di remehkan, semua anggota nya kompak menguasai ilmu bela diri yang tidak main-main.
"Nggak perlu berterima kasih, kita kan udah sepakat buat kerja sama dan saling membantu. Apalagi kalo udah berhadapan sama Rego, Wolves juga merasa di rugikan kalo Rego bebas dan berulah lagi." Ujar Jeo, melirik Jico yang juga tengah menatapnya.
"Dia udah bener-bener tamat, bang Jico menghabisi nya tanpa ampun." Wilard turut melirik Jico.
"Ayolah, gue kelepasan!" Jico berujar dengan sebal.
Wilard tertawa pelan, puas karena berhasil menjahili Jico. Sebenarnya Wilard tidak keberatan dengan apa yang dilakukan Jico, ia paham betul kalau pemuda itu pasti sudah kelewat emosi dan mengacaukan ketenangannya.
"Andai lo tau, bang Jico sampe jatuh terduduk abis nembak kepalanya Rego. Gue bantuin bangun karena dia linglung banget, semuanya jadi super chaos." Jeo sedikit menceritakan kejadian yang begitu tidak mengenakkan itu.
"Tapi gue nyesel, harusnya nggak langsung gue bunuh. Seharusnya gue bisa menyiksa dia lebih lama lagi, harusnya gue kasih ke Simon dan Josev dulu biar dikuliti dulu."
Jeo dan Wilard langsung bertatapan, saling bertukar pikiran yang sama. Tidak menyangka kalau Jico akan mengatakan hal semacam itu, terdengar begitu mengerikan meski Wilard dan Jeo sudah terbiasa dengan kegiatan keji dan menyakitkan.
KAMU SEDANG MEMBACA
SUARGA
Teen Fiction-We Are Family- ------ Kami SUARGA, perkumpulan besar berisi manusia-manusia yang saling membutuhkan tumpuan. Kami menciptakan rumah impian kami bersama. Dan ini adalah kisah kami, kisah Suarga bersama dengan para petinggi dan anggotanya. ------ Sua...
