Suarga
—30. Memakan Korban—
------
Jika kita kalah hari ini, akan ada jalur lain untuk membenarkan langkah kita.
------
Shankara mengikuti langkah sang ayah keluar dari area bandara, sembari menyalakan ponselnya yang sedari tadi tidak aktif sejak penerbangan mereka. Shankara baru bisa menyalakan nya lagi, mendapati banyaknya pesan masuk yang beberapa orang. Namun Shankara tidak mendapati balasan dari Wilard.
"Nunggu taksi lewat aja lah ya, ayah kan mau ngasih kejutan ke bunda." Ujar Teo sembari membenarkan letak tas nya.
Shankara mengalihkan pandangan nya sejenak dari layar ponsel. "Emm kalo gitu nggak apa-apa kan kalo kita pisah disini? Ayah pulang duluan ya, Shankara pengen ngasih kejutan juga ke Wilard."
"Memangnya anak itu kemana? Pagi buta kayak gini kok nggak di rumah?" Tanya Teo dengan bingung.
"Ada di markas, Shan mau kesana aja."
Teo berpikir sejenak sebelum akhirnya mengangguk, mengulurkan tangannya pada Shankara saat mendapati sebuah mobil taksi sudah berhenti dihadapan mereka. "Kamu bisa naik taksi sendiri kan? Kalo gitu bawa sini barang-barang mu, biar ayah bawa pulang ke rumah aja."
Shankara menurut dan membantu ayahnya untuk memasukkan barang-barang mereka kedalam bagasi mobil, memastikan tidak ada yang tertinggal lagi. Shankara melambaikan tangannya saat mobil taksi yang di tumpangi Teo mulai menjauh, memutar langkahnya mengambil arah lain untuk mencari taksi berikutnya.
Shankara segera menghentikan sebuah mobil taksi yang melaju, ia masuk kedalam sembari membuka kembali ponselnya untuk membaca balasan pesan dari Jico.
Iya, kami di markas.
Kalo sempet lo langsung kesini aja.
Firasat Shankara mengatakan kalau ia harus segera menemui Wilard, entah mengapa. Bukan hanya perkara rindu, Shankara merasa ada sesuatu hal yang terjadi setelah lima hari ia pergi.
"Mas, disini tempat nya?"
Shankara tersentak, mengamati pemandangan luar saat sang supir menginterupsi. "Oh iya bener pak."
Shankara lalu keluar setelah membayar ongkosnya, ia tidak langsung mengarahkan taksi nya tepat didepan markas. Shankara melanjutkan dengan berjalan cepat, sesekali memperhatikan sekitar yang masih sepi mengingat waktu masih menunjukkan pukul dini hari.
Langkahnya sempat terhenti saat melihat markas Suarga yang benar-benar sepi seolah tidak ada penghuninya, bahkan satupun motor tidak ada di parkiran. Tidak seperti biasanya, padahal sebelumnya markas tidak pernah benar-benar ditinggal sampai sepi seperti ini.
Mencoba membuka pintu, Shankara tidak berhasil karena mendapati pintu itu terkunci rapat. Yang mana semakin membuatnya heran, ia hendak menghubungi salah satu dari teman-teman nya sebelum mendengar suara beberapa motor yang mendekat kearahnya.
"Shankara?!"
Shankara menyipitkan matanya, berusaha mengenali siapa yang menyerukan namanya. Hingga sosok itu melepaskan helm nya, membuat Shankara sontak mengerutkan kening dengan bingung.
"Jeo, ngapain lo disini?"
Jeo turun dari motornya dan berjalan mendekati Shankara. "Gue mau menyusul yang lain, tapi ternyata udah pada berangkat duluan ya. Kok lo masih disini sendirian?"
Melihat Shankara yang kebingungan membuat Jeo langsung menebak kalau pemuda itu sepertinya tidak tau apa-apa. Apalagi setelah melihat penampilan Shankara yang luar biasa rapih nya, mengenakan setelan formal berkemeja panjang polos hitam dan sepatu pantofel mengkilap.
KAMU SEDANG MEMBACA
SUARGA
Fiksi Remaja-We Are Family- ------ Kami SUARGA, perkumpulan besar berisi manusia-manusia yang saling membutuhkan tumpuan. Kami menciptakan rumah impian kami bersama. Dan ini adalah kisah kami, kisah Suarga bersama dengan para petinggi dan anggotanya. ------ Sua...
