Suarga
—29. Pemerataan—
------
Menyerahlah, dibanding terus mengeluh.
------
Rego berjalan cepat mengikuti langkah Derto yang mengarahkan ke salah satu ruangan untuk menunjukkan hasil kerja nya. Rego sudah tidak sabar, dengan begitu ia membuka pelan pintu itu dan menemukan seorang pemuda yang terbaring disana dengan kedua tangannya yang terborgol.
Rego mendekat dengan ragu, keningnya berkerut seketika. "Lo yakin kerjaan lo udah bener?"
Derto mendengus. "Ya jelas lah, dia sesuai sama ciri-ciri yang lo sebutkan."
Rego tertawa pelan, menggerakkan tangannya untuk mengusap sisi wajah Juyen saat pemuda itu perlahan bergerak gelisah dan mulai mengerjabkan kedua matanya. Tau kalau Juyen akhirnya tersadar dari pingsannya, membuat Rego dan Derto kompak menatapnya.
"Aishh kepala gue sakit banget."
"Oh, maaf. Gue lupa mengobati lo, gue terlalu takut lo bakal sadar lebih cepat dan kabur." Ujar Derto dengan nada main-main.
Juyen tidak menjawab, pandangan nya masih memburam dan merasa tidak mengenali suara yang bicara dengannya itu. Hingga Juyen akhirnya tersadar bahwa kedua tangannya disatukan dan di borgol didepan tubuhnya, dengan panik ia berusaha duduk dan mendapatkan bantuan dari sosok disamping nya.
Juyen menoleh, kedua matanya membuat melihat siapakah yang telah membantunya untuk duduk. "Rego? Kenapa lo disini?"
Rego mengulas senyum, ingin bersikap ramah pada Juyen. "Harusnya gue yang nanya, kenapa lo disini? Karena bukan lo yang sebenarnya gue inginkan."
Rego melirik Derto disamping nya. "Lo salah orang, dia bukan Ketua Suarga."
Derto membulatkan matanya, tentu saja merasa terkejut dengan ucapan Rego. Pasalnya ia sudah mencari si Ketua sesuai dengan ciri-ciri yang di sebutkan oleh Rego.
"Tapi kenapa dia make gelang warna emas?"
Mendengar itu membuat Rego menatap pergelangan tangan Juyen, dan benar saja terdapat gelang khusus Ketua yang tengah dikenakan Juyen saat itu.
"Posisi Ketua sekarang pindah ke lo?"
Juyen tersentak, dengan kaku ia mengangguk. Dalam batinnya Juyen berpikir cepat untuk mengaku sebagai Ketua, jika memang hal itu bisa melindungi Wilard. Setidaknya Juyen tidak ingin Wilard dalam bahaya lagi, mungkin jika ia yang berkorban maka tidak apa-apa.
Kepalanya begitu sakit dan pusing saat ini, namun Juyen tetap berusaha tenang mengingat tengah berhadapan dengan lawan yang cukup berbahaya untuknya. Apalagi Juyen tengah sendirian saat ini, tanpa adanya teman-teman yang biasanya akan selalu memasang badan untuk melindunginya.
Rego tertawa pelan, bertepuk tangan membuat Juyen semakin waspada di posisi nya.
"Lucu banget ini, Suarga benar-benar nggak bisa di tebak ya. Lo pikir gue bakal langsung percaya sama lo gitu aja, huh?"
Juyen menelan ludahnya sendiri dengan susah payah, Rego malah mendekatkan wajahnya untuk menginterogasi nya.
"Gelang ini nggak mungkin dipake sama sembarangan anggota, gue adalah Ketua baru Suarga mengganti Wilard yang nggak mau ngelanjutin lagi."
Derto yang mendengarkan pun dibuat bingung, tentang siapa yang seharusnya menjadi target nya. Karena memang setiap Suarga mengganti Ketua nya, mereka selalu diam-diam dan tidak koar-koar seperti kelompok lainnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
SUARGA
Novela Juvenil-We Are Family- ------ Kami SUARGA, perkumpulan besar berisi manusia-manusia yang saling membutuhkan tumpuan. Kami menciptakan rumah impian kami bersama. Dan ini adalah kisah kami, kisah Suarga bersama dengan para petinggi dan anggotanya. ------ Sua...
