Suarga
—40. Layaknya Ketua Suarga—
------
Kepemimpinan diawali dengan kedua pundak yang tegar, kedua tangan yang terkepal kuat, kedua kaki yang berdiri kokoh, dan tubuh penuh luka yang harus tetap tegap.
------
"Wilard!"
Si pemilik nama pun menghentikan langkahnya, ia berbalik untuk menatap si pemanggil yang tengah berlari kearahnya.
"Kenapa?"
Vegan, pemuda itu mengulas senyum. "Lo ada kegiatan setelah ini? Mau mampir ke kafe nya abang gue nggak?"
Wilard menaikkan alisnya. "Mampir?"
"Iya, gue rasa abang gue pengen temenan sama lo juga." Ujar Vegan.
Wilard membenarkan letak tasnya yang tersampir disebelah pundaknya sebelum menjawab. "Sorry ya, mungkin lain kali aja."
Senyum Vegan perlahan luntur, ia mengedipkan matanya dengan bingung. "Tapi kenapa? Lo nggak nyaman ya?"
Wilard mengusap tengkuknya sendiri, bingung harus mencari alasan bagaimana. Meski memang benar kalau ia tidak nyaman jika berdekatan dengan kakaknya Vegan yang baru dikenalnya itu, namun tidak mungkin juga jika Wilard mengucapkan nya dengan gamblang.
Hingga tak lama kemudian Wilard merasakan adanya lengan yang melingkar di sekitar pundaknya, merangkul nya dari belakang. Wilard menoleh, dan menemukan sosok Shankara yang kini berdiri di samping nya dengan raut datar andalannya.
"Sorry, Wilard ada urusan sama keluarganya. Kalo gitu kami duluan ya!"
Shankara langsung saja menarik Wilard pergi dari sana tanpa mendengarkan Vegan yang hendak berbicara lagi, dalam batin Shankara menyesal karena membuat Wilard harus menunggu nya sehingga hampir saja diajak pergi oleh orang lain.
"Abang!" Wilard pun memanggil Shankara saat mereka hampir sampai di area parkiran sekolah.
"Hm?"
"Abang!"
Shankara akhirnya menoleh sepenuhnya kearah Wilard. "Iya dek Wilard, kenapa?"
Wilard tersenyum malu-malu, melepaskan rangkulan Shankara dan menaiki motornya. Hari ini Shankara tidak membawa motornya dan harus berboncengan dengan Wilard.
Shankara yang masih heran dengan Wilard pun ikut naik di boncengan motor Wilard dan memeluk erat pinggang adiknya itu hingga Wilard terkejut dan hampir oleng dari motornya.
"Abang! Apa-apaan lo?!"
"Lo yang apa-apaan, seneng bener ngerjain gue. Lo jelasin dulu apa maksud lo manggilin gue tadi, baru gue lepasin pelukan gue!"
Wilard memutar bola matanya, sibuk mengancingkan pemgait helmnya dan mulai menyalakan mesin motornya. "Sengaja, cuman pengen manggil doang. Soalnya muka lo kusut banget kayak keset nya bunda!"
Shankara mendengus, bisa-bisanya wajah tampan nya ini dibilang seperti keset. Tidak taukah Wilard seberapa banyak para gadis yang berebut ingin mendapatkan perhatian darinya? Seharusnya Wilard bersyukur mendapatkan kakak yang luar biasa seperti Shankara! Setidaknya begitulah isi pikiran Shankara saat ini.
"Lo bisa meluk gue terus sampe rumah nanti kok, bilang aja kalo lo nyaman pelukan sama gue!" Lanjut Wilard dengan pede nya.
Sepertinya Shankara harus mencari cara yang lebih ampuh lagi jika ingin mengancam Wilard yang tengilnya seperti anak kecil itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
SUARGA
Ficțiune adolescenți-We Are Family- ------ Kami SUARGA, perkumpulan besar berisi manusia-manusia yang saling membutuhkan tumpuan. Kami menciptakan rumah impian kami bersama. Dan ini adalah kisah kami, kisah Suarga bersama dengan para petinggi dan anggotanya. ------ Sua...
