33. Mode Ketua

800 111 45
                                        

Suarga
—33. Mode Ketua

------

Semuanya harus dimulai dari berani, menunggu siap saja tidak akan membuat langkah mu tergerak.

------

Suasana di kelas tanpa Wilard membuat Riki hanya menghabiskan waktu-waktu belajar nya hanya untuk tidur, tanpa ada yang berani mengganggu atau sekedar menegurnya. Riki hanya punya teman satu di kelas dan itu hanya Wilard, semuanya terasa membosankan dan Riki ingin segera pulang agar bisa mendatangi rumah sakit untuk menemui Wilard.

Hingga ketukan pada mejanya membuat Riki dengan berat hati mengangkat kepalanya, menatap tajam orang yang berani-beraninya menganggu ketenangannya.

"Apa mau lo?"

Vegan, pemuda itu dengan gugup berusaha tersenyum pada Riki. "Gue denger Wilard sakit dan sekarang di rumah sakit, gue pengen tau keadaan dia."

Riki mendengus, kembali menjatuhkan kepala nya pada lipatan tangan untuk melanjutkan tidurnya. Tidak memperdulikan keberadaan Vegan di sampingnya.

"Riki, gue cuman pengen tau kabar Wilard. Kalo lo nggak mau ngasih tau, lo bisa ngasih nomor Wilard ke gue biar gue hubungin sendiri." Ujar Vegan, masih belum menyerah.

BRAK!

Riki dengan geram menggebrak meja, membuat Vegan langsung menutup mulutnya. Kejadian itu juga membuat sebagian penghuni kelas langsung memusatkan perhatian kearah mereka, turut terkejut dengan gebrakan Riki.

"Apa urusannya sama lo, huh?" Nada dingin Riki membuat Vegan seketika merasa terintimidasi.

Riki bangkit, fokus menatap Vegan yang mulai melangkah mundur saat Riki mendekatinya. Riki terlihat sangat tidak bersahabat, Vegan mengira mungkin karena Wilard tengah tidak bersamanya. Karena Riki hanya bisa tenang kalau bersama Wilard.

"Gue temen nya Wilard, setidaknya gue harus tau keadaan dia." Ujar Vegan, memaksakan diri untuk tetap berani.

Riki menarik sudut bibirnya, seolah meremehkan ucapan Vegan. "Temen? Siapa yang ngasih lo izin buat jadi temen nya Wilard?"

Lidah Vegan kelu seketika, ingin menjawab namun Riki seolah menekannya untuk tidak berucap macam-macam lagi.

"Rikiandra, gue bakal laporin lo ke Ketua kalo lo berulah."

Keduanya sontak menoleh pada Syam dan Hega yang berdiri diambang pintu kelas, sama-sama tengah menenteng tas. Yang berucap tadi adalah Hega, sedangkan Syam hanya bisa mendengus karena tontonannya terganggu karena dihentikan oleh Hega.

Riki berdecak, turut mengambil tas miliknya. "Cabut!"

Riki berjalan melewati Vegan begitu saja tanpa menoleh sedikitpun, merangkul Hega dan Syam untuk segera pergi dari sana. Niat mereka adalah untuk membolos, bahkan Juyen dan Josev sudah berada dalam mobil menunggu kedatangan yang lain.

Sedangkan diposisi Vegan saat ini, ia benar-benar dibuat bingung dengan ucapan Hega tadi. Hingga salah satu siswi disana memanggil namanya, setelah menonton sedari tadi.

"Jangan cari ribut sama mereka, lo nggak mau kena getah nya kan?"

Vegan mengerutkan keningnya. "Memangnya kenapa? Siapa mereka?"

"Aishh bocah ini, mereka itu masuk geng besar yang berbahaya. Gue denger-denger sih salah satu dari mereka itu Ketua nya, intinya jangan macem-macem aja kalo nggak mau dapet masalah yang lebih gede lagi!" Gadis itu berujar untuk mewanti-wanti, sedikit tau dari omongan orang-orang.

SUARGATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang