Suarga
—25. Love Language—
------
Manis, kamu mengalahkan segala keindahan rasa yang ada.
------
BRAK!
Suara bantingan itu membuat yang lain seketika mengalihkan perhatian mereka, dimana Wilard baru saja melempar sebuah asbak rokok ke dinding. Benda itu tidak pecah, menggelinding dan membuat sisa ampas rokok nya bertebaran di lantai.
Si pelaku memilih acuh, berbaring dan memunggungi yang lain. Suasana hatinya begitu buruk dan tidak ada yang berhasil membujuknya, Wilard juga tidak tau mengapa ia menjadi begitu dramatis seperti saat ini.
Jico pun bangkit dari duduknya dan berjalan mendatangi Wilard, menepuk beberapa kali pundak si Ketua namun diacuhkan begitu saja.
"Bangun, gue tantang lo di atas ring."
Sontak ucapan itu membuat beberapa orang disana turut bangkit dan menatap Jico dengan terkejut, dan berhasil membuat Wilard membalikkan tubuhnya hanya untuk memastikan pendengaran nya tidak bermasalah.
"Daripada lo uring-uringan sendiri nggak jelas gini, mending sekalian gue latih lo lagi diatas ring." Ujar Jico lagi, sorotnya begitu datar namun Wilard tau kalau ajakan itu tidak bisa di tolak bagaimanapun caranya.
Wilard mengubah posisinya menjadi duduk, mendongak dan membalas tatapan datar Jico. "Gue nggak tertarik."
Balasan Wilard membuat yang lain sontak menahan nafas, takut-takut kalau Jico atau Wilard yang tengah dalam posisi mood jelek bisa meledakkan emosinya kapan saja.
Jico menarik sudut bibirnya, meraih pundak Wilard dan menariknya hingga si empunya bangkit dan berhadapan dengannya dengan jarak yang begitu dekat. Nyaris membuat Shankara menghampiri sebelum Jiyon dengan cepat mencegahnya. Saat seperti ini lebih baik jangan ada yang mengusik.
"Gue nggak ngasih lo pilihan, ikut gue!"
Wilard akhirnya menurut dan mengikuti langkah Jico menuju ruang latihan mereka, tempat yang sudah lama tidak didatangi Wilard. Setelah memastikan Wilard masuk kedalam sana, Jico menyempatkan diri untuk menoleh pada beberapa orang yang mengikuti mereka.
"Jangan ada yang masuk, gue nggak mau Wilard terganggu konsentrasi nya."
Shankara mengerutkan keningnya, agak banyaknya tidak setuju dengan ucapan Jico. Karena ia ingin melihat, memastikan apa yang akan terjadi didalam antara Wilard dan Jico.
"Jangan kelewatan." Ujar Simon dengan serius, merangkul Shankara untuk menenangkan.
Jico tersenyum tipis, mengedipkan sebelah matanya pada Simon sebelum ia masuk dan menutup pintu dengan rapat. Jico merasa mereka sedikit berlebihan, padahal Jico hanya ingin melatih Wilard.
Wilard dengan mandiri sudah melepaskan jaket yang digunakannya dan menyisakan kaos polos nya, membalut punggung tangannya dengan sarung tangan tinju. Wilard melakukan beberapa pemanasan dan peregangan, Wilard sudah cukup lama tidak melatih ototnya dan ia tidak ingin kepayahan saat berhadapan dengan Jico nantinya.
Jico turut mengenakkan sarung tangan tinjunya, menyusul Wilard yang sudah bersiap ditempatnya. Melihat bagaimana sorot Wilard menatap nya saja membuat Jico paham kalau anak itu tengah tidak fokus dan hanya ingin menyelesaikan ini secepatnya. Jico berdecih didalam hati, Wilard terlalu menggampangkan nya.
"Lo tau kenapa Suarga digambarkan layaknya cheetah?"
Wilard mengerjab, agaknya tidak menyangka kalau Jico akan tiba-tiba menanyakan hal itu. "Karena cheetah adalah hewan darat tercepat."
KAMU SEDANG MEMBACA
SUARGA
Teen Fiction-We Are Family- ------ Kami SUARGA, perkumpulan besar berisi manusia-manusia yang saling membutuhkan tumpuan. Kami menciptakan rumah impian kami bersama. Dan ini adalah kisah kami, kisah Suarga bersama dengan para petinggi dan anggotanya. ------ Sua...
