41. Ada Yang Berbeda

658 85 54
                                        

Suarga
—41. Ada Yang Berbeda—

------

Hidup memang tidak bisa tebak, tapi kita harus tstap menerka nya dalam kubangan kebingungan.

------

Sudah kesekian kalinya Wilard menarik nafasnya dengan panjang, sepertinya tengah sibuk mempertimbangkan sesuatu. Ponsel di tangannya pun hanya diputar-putar, Wilard sibuk dengan pikirannya sendiri.

Disampingnya ada Shankara yang sibuk dengan bacaan bukunya, lebih tepatnya Shankara tengah belajar. Namun suara helaan nafas dari Wilard membuat fokus Shankara mulai terpecah, ia mengerjab beberapa kali sebelum akhirnya menutup bukunya dan meletakan kacamata nya diatas meja. Shankara sudah kehilangan semangat untuk terus belajar.

"Hei, lo kalo ada sesuatu yang lagi dipikirin itu sini berbagi sama gue!"

Wilard menoleh, menatap malas Shankara. "Males, gue sendiri aja bingung."

"Ya makanya lo bilang dulu ke gue, siapa tau gue bisa bantu!"

Wilard berpikir sebentar lalu mengambil posisi menjadi menghadap Shankara. "Semalem bang Jico nyeritain tentang mantan Ketua Suarga sebelum dia yang berkhianat dan di depak keluar dari Suarga, lo kenal orangnya nggak?"

"Kenal, tapi nggak kenal banget. Gue join Suarga pas dia udah keluar dari Suarga, lo harusnya tanya masalah ini ke Daneev."

"Bang Daneev? Bukannya dia ikutan keluar juga dari Suarga?"

Shankara mengangguk. "Tapi Daneev yang jadi wakilnya waktu itu, gue juga nggak lama ketemu sama Daneev sebelum dia keluar."

"Kalo gue mencari tau soal ini lebih lanjut, kira-kira gimana menurut lo?"

Shankara menjawil hidung Wilard dengan gemas lalu mengalihkan pandangannya kearah lain. "Jico nyeritain hal itu biar lo hati-hati dan nggak terlibat apapun sama orang itu, kalo lo nekat mau bertindak sendiri lo bakal di amuk sama Jico."

Wilard mengerutkan keningnya. "Tapi gue Ketuanya!"

"Iya gue tau, tapi lo tetep adek gue. Dan gue melarang lo buat melakukan apapun ide yang ada dalam kepala lo itu!" Shankara mengetuk kening Wilard dengan dua jari sebelum akhirnya ia bangkit dan merebahkan tubuhnya diatas kasur.

Wilard langsung mengikuti sang kakak, tidak mempedulikan si pemilik kamar yang sudah bersiap untuk terlelap meskipun hari masih begitu terang benderang.

"Abang, tapi gue udah kenal sama orangnya!"

Shankara yang hendak menutup kedua matanya pun kembali fokus dengan Wilard. "Lo udah tau kalo dia itu kakaknya Vegan?"

Wilard mengangguk, menarik satu lengan Shankara untuk ia jadikan bantal. "Tau, namamya Brayan kan? Gue nggak nyangka aja ternyata abangnya Vegan itu mantan Ketua Suarga, makanya gue pengen nyari tau sendiri."

Shankara pun memiringkan tubuhnya agar bisa memeluk Wilard dan mengusap punggungnya, berniat mengundang rasa kantuk Wilard agar segera tiba.

"Wilard, gue nggak berbohong pas gue melarang lo. Orang itu berbahaya, jadi sebisa mungkin hindari bahaya itu."

Wilard tersenyum, ia mulai merasa nyaman saat Shankara tidak berhenti mengusap punggungnya. "Abang, tapi gue mara bahaya nya."

Shankara terdiam, memperhatikan kedua mata Wilard yang perlahan tertutup dan siap menjemput mimpinya. Pikirannya berkelana, entah mengapa rasanya tidak nyaman sekali untuknya. Shankara hanya bisa berharap kalau Wilard tidak akan terlibat dengan permasalahan apapun.

SUARGATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang