26. Ketua Kecil

947 102 25
                                        

Suarga
-26. Ketua Kecil-

------

Sok petantang-petenteng, giliran di tantang kayak ulet sagu.

------

"Lo pasti tau soal ini."

Jico memperhatikan sebuah foto yang ditunjukkan oleh Jeo lewat ponsel, keningnya berkerut seketika. Wilard di sampingnya pun langsung meringsut untuk mendekat, bahkan sampai menempel pada Jico hanya untuk ikut melihat apa yang ditunjukkan oleh Jeo.

"Loh si semprul!" Pekik Wilard.

"Semprul siapa njir? Ini mah si Rego!" Ujar Kai yang turut mengintip.

"Bener, dia yang lagi tertahan di lapas." Jeo berucap pelan, punggungnya ia sandarkan dengan santai.

"Bokapnya Raymond anggota perwira polisi dan nanyain hal ini ke Raymond, keberadaan Rego disana cuman jadi biang rusuh."

Jico mengangguk, membenarkan ucapan Jeo. Karena ayahnya sendiri pun juga mengatakan padanya kalau Rego sering kali berulah dan membuat keributan dengan para narapidana lainnya dilapas.

"Dia bakal bebas kalo bayar tebusan kan?"

Wilard membulatkan matanya. "Ah, sial! Gue kira dia bakal dipenjara sampe waktu lama!"

"Itu nggak mungkin, Rego masih diusia belia dan lagipula laporan kalian kurang kuat buat meyakinkan keputusan hakim tentang hukuman buat Rego." Ujar Jugo menjelaskan, sedikit banyaknya tau pasal itu.

"Memang bener, bisa dibilang laporan itu buat menenangkan keadaan sejenak dan sekaligus..." Ucapan Jico terjeda, melirik Wilard dan Shankara yang duduk di samping nya.

"Membubarkan paksa Conda, bahkan walaupun Rego masih disana juga tetep gue ratain tuh kelompok somplak!" Wilard mencak-mencak sendiri, membuat Shankara langsung mengusap punggungnya.

Jeo mendengarkan dengan seksama, ingin mengutarakan segala kecemasan nya namun ia telan bulat-bulat. Entah mengapa ada perasaan aneh yang ia rasakan, namun seharusnya sudah tidak ada lagi yang perlu dikhawatirkan mengingat Suarga sudah berhasil mengalahkan Conda di hari itu.

"Memangnya apa lagi yang bisa Rego perbuat? Balas dendam di posisinya sekarang pun juga mustahil, dia bahkan nggak punya satupun anak buah sekarang." Kini Shankara ikut membuka suara, mengutarakan pendapat nya.

"Bener, lagipula dia sendirian sekarang."

------

Wilard menarik nafas panjang, menenteng tas ransel milik kakaknya dengan lesu. Shankara berjalan santai didepannya dengan bunda Yika yang setia menggandengnya, meninggalkan Wilard yang hanya berdua dengan ayah Teo yang sibuk pada layar ponselnya.

Yika memberikan banyak sekali nasehat pada Shankara yang mendengarkan dengan seksama, terlihat begitu lucu karena Yika sangat antusias dan bawel.

"Kalo ada yang berusaha deketin kamu coba menghindar aja, terlalu bergaul sama mereka-mereka juga nggak baik karena bisa mengubah pola pikir kamu. Bunda belum siap lihat kamu jadi kaku kayak anak-anak nya mereka itu!"

"Bunda, kok malah menggibah?" Teo menginterupsi, memasukan ponselnya kedalam saku.

Yika melirik singkat pada Teo. "Bunda nggak gibah, ini cuman ngomongin fakta!"

Shankara terkekeh pelan, langkahnya turut terhenti dan berbalik badan. Tangan Shankara terulur meminta tasnya dari Wilard, ia dan Teo harus berangkat sebentar lagi karena sudah mendapatkan pengumuman jadwal penerbangan nya.

SUARGATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang