Suarga
—27. Menghibur Diri—
------
mengapa kita harus hidup dengan mengejar standar yang diciptakan manusia?
------
Shankara menghela nafas panjang untuk yang kesekian kalinya, menahan rasa kantuk yang terus saja menyerangnya sedari tadi. Dasi yang semula mencekik lehernya pun ia longgarkan, mulai merasa tidak nyaman dengan posisinya.
Teo berada di sampingnya, mendengarkan dengan seksama penjelasan dari seorang pria yang berdiri di hadapan mereka. Shankara tidak terlalu paham, namun melihat bagaimana seriusnya sang ayah dalam menyimak membuatnya harus ikut fokus.
"Baik pak, secepatnya saya akan mengurusnya." Ujar Teo dengan tegas.
Si pria berperawakan tegap itu beralih menatap Shankara yang sama sekali tidak membuka suaranya sedari tadi, menilai penampilan Shankara yang lumayan rapih itu.
"Dia putra mu?"
Teo mengangguk dan menepuk pundak Shankara beberapa kali. "Dia putra sulung saya, dan kelak akan menjadi penerus saya."
Shankara langsung tersenyum ramah dan membungkuk singkat, berusaha sesopan mungkin mengingat orang di hadapannya ini adalah rekan penting ayahnya.
"Kamu keliatan masih muda banget, kuliah dimana?"
"Saya masih sekolah, pak."
Pria itu membulatkan matanya, terkejut dengan jawaban Shankara. Karena biasanya para anak-anak yang diajak pertemuan dengan ayahnya pasti sudah terbilang matang dan dinilai siap untuk segera melanjutkan jejak ayahnya.
Dan tentu kehadiran Shankara pada kali ini mampu menarik perhatian dari para rekan kerja Teo yang penasaran dengan sosok Shankara, meskipun pemuda itu hanya terduduk anteng sembari memperhatikan dan berdiri hanya untuk memperkenalkan dirinya saja.
"Anak saya juga ada yang masih bersekolah."
Shankara menaikan alisnya, ia sempat berpapasan dengan seorang pria yang memperkenalkan dirinya sebagai penerus dari orang dihadapannya ini.
Menunjukkan wallpaper ponselnya dimana foto keluarganya terpajang disana, Shankara dibuat terkejut ketika merasa familiar dengan sosok yang di tunjuk oleh pria itu. Yang mana ternyata meleset dari dugaan awalnya yang mengira kalau akan dikenalkan oleh orang yang berpapasan dengannya.
"Dia masih kelas sebelas dan sekarang tinggal bersama neneknya, mungkin saja Shankara kenal karena berada di kota yang sama."
Shankara mengangguk pelan. "Saya kurang tau banyak mengenai dia, tapi saya jelas tau."
"Ohya? Kalau begitu kalian bisa menjalin hubungan yang baik sebagai teman, bisakah?"
Dengan kaku Shankara mengulas senyum, dan Teo pun langsung menyenggol lengannya agar Shankara bisa benar dalam menanggapi setiap ucapan dari pria itu.
"Dia adik tingkat saya, dan berada dalam satu kelas yang sama dengan adik saya."
"Begitu ya, saya baru tau kalau kamu punya adik."
Msmang benar, Teo sudah terkenal sebagai duda anak satu. Berita pernikahan nya sengaja tidak di sebar luaskan sesuai dengan kemauan Yika, bahkan dalam lingkup bisnis pekerjaan Teo pun tidak banyak yang tau kalau Teo sudah menikah lagi dan bahkan memiliki dua putra yang umurnya tidak berpaut jauh.
"Pasti ini mengejutkan untuk anda, tapi memang benar jika saat ini saya memiliki dua orang putra." Ujar Teo menjelaskan, sembari merangkul pundak sempit Shankara.
KAMU SEDANG MEMBACA
SUARGA
Roman pour Adolescents-We Are Family- ------ Kami SUARGA, perkumpulan besar berisi manusia-manusia yang saling membutuhkan tumpuan. Kami menciptakan rumah impian kami bersama. Dan ini adalah kisah kami, kisah Suarga bersama dengan para petinggi dan anggotanya. ------ Sua...
