Suarga
—35. Berlebihan—
------
Semuanya selalu diawali dengan harapan besar yang tak terkira.
------
Tiyas, pemuda jenius dengan segudang rasa sabar itu berjalan santai sembari memainkan kunci motor nya. Tiyas baru sempat ke markas setelah hari-hari sibuknya di kampus, dan sekarang Tiyas ingin menghabiskan waktu istirahat dengan nyaman di markas meski ia tau teman-teman nya bisa sangat berisik jika tengah berkumpul.
Langkahnya terhenti sejenak melihat Shankara dan Riki yang tengah membersihkan tanaman-tanaman nya yang berada dihalaman markas, keduanya begitu sibuk dengan Riki yang mengoceh tiada henti. Tiyas bersiul, memanggil keduanya.
"Kesambet apa tiba-tiba rajin berkebun? Pas gua nanem sendiri aja lo pada nggak bantuin!"
Riki mendengus, memasukan sampah-sampah daun kering ke dalam kantung plastik hitam. "Kesambet kucing garong, nggak usah nanya-nanya lo bang!"
Tiyas terkekeh, mulai menerka apa yang sebenarnya terjadi sehingga Riki dan Shankara mau repot-repot berkebun. Karena Tiyas tau tidak mungkin mereka melakukannya dengan sukarela, dilihat dari wajah keduanya yang kusut saja sudah membuat Tiyas curiga.
"Lanjutin kalo gitu, jangan lupa di siram ya!" Ujar Tiyas lagi sebelum melangkah masuk ke dalam markas.
Riki berdecak kesal. "Lo lanjutin sendiri aja ya bang, capek banget gue!"
Shankara meliriknya dengan sinis, menahan diri untuk tidak melemparkan pot bunga ke arah Riki. "Lo mau gue laporin ke Wilard?"
"Ya nggak mau! Jahat banget lo!"
Shankara menghela nafas, memperhatikan kedua telapak tangannya yang sudah kotor dengan tanah dan pupuk. Shankara tidak terbiasa dengan hal-hal yang kotor, Wilard benar-benar sengaja menyuruhnya begini.
"Ini semua gara-gara lo, kalo lo nggak ngefotoin Wilard yang aneh-aneh pasti dia nggak bakal ngamuk!"
Riki langsung bangkit dan berkacak pinggang, tidak memperdulikan kaosnya yang sudah kotor terkena tanah. "Apa lo bilang? Ini semua awal mulanya karena lo! Salah siapa pamerin foto gemes nya Wilard, ya gue jelas tergoda dan pengen juga lah!"
Shankara ikut bangkit dan menatap galak pada Riki. "Ya itu mah lo nya aja yang lemah, kalo sama Wilard gampang mleyot!"
"Dih, lo juga gitu!" Sentak Riki tidak mau kalah.
Mereka saling bertatapan tajam, sama-sama merasa kesal. Shankara yang tidak mau disalahkan dan Riki yang juga tidak mau kalah.
"Oi, udah beres belum?"
Keduanya langsung menoleh pada Wilard yang berdiri sembari memegang ponselnya, Wilard menatap mereka dengan heran. Shankara dan Riki terlihat berantakan sekali dengan noda tanah dimana-mana, padahal Tiyas tidak pernah sekotor itu jika sedang berkebun.
"Mau kemana?" Bukannya menjawab, Shankara malah mengajukan pertanyaan. Memperhatikan penampilan Wilard yang rapi dengan jaket kulit yang ia gunakan.
"Gue mau keluar sebentar, ketemu sama Julian." Ujar Wilard sembari mengantungi ponselnya.
"Julian? Ketuanya Regunda?" Tebak Riki yang dijawab anggukan oleh Wilard.
"Ada perlu apa sama dia?" Kini Shankara yang kembali bertanya.
"Cuman ketemuan biasa, gue nggak bakal lama."
"IKUT!"
Wilard tersentak saat Shankara dan Riki serentak menjawab dengan tegas, ia mengusap dadanya sendiri lalu menggeleng. "Nggak usah, gue mau sendirian aja."
KAMU SEDANG MEMBACA
SUARGA
Teen Fiction-We Are Family- ------ Kami SUARGA, perkumpulan besar berisi manusia-manusia yang saling membutuhkan tumpuan. Kami menciptakan rumah impian kami bersama. Dan ini adalah kisah kami, kisah Suarga bersama dengan para petinggi dan anggotanya. ------ Sua...
