Suarga
—31. Akhirnya Tak Bahagia—
------
Ternyata memang seberat itu, tapi tuhan akan tetap mendengarkan keluh kesah mu.
------
⚠️ BUDAYAKAN MEMBACA DARI AWAL SAMPAI AKHIR.
------
"Turut berduka cita ya."
Riki, pemuda itu tidak menjawab saat pundaknya ditepuk. Jangan tanya bagaimana keadaan nya sekarang, benar-benar hancur lebur berantakan. Riki menatap kosong batu nisan dengan ukiran nama dari sang mendiang sahabat, dengan sosok Shankara yang tidak hentinya menangis tepat di samping makam adiknya.
Wilard telah berpulang, kembali ke pangkuan sang pencipta. Rasanya benar-benar sulit dipercaya, semua orang turut berduka dan merasakan sedih luar biasa.
Riki mendekat, merendahkan tubuhnya untuk mengusap batu nisan yang masih baru itu. Hingga tidak sadar air matanya mengalir membasahi pipi nya, Riki sudah tidak sanggup manahan kesedihannya lagi.
Bagaimana bisa ia merelakan Wilard, Riki tidak akan pernah bisa melepas kematian Wilard begitu saja. Namun nyatanya Wilard benar-benar telah pergi, tubuhnya sudah dimakamkan dan tidak akan dapat bangun lagi.
Meninggalkan nya, meninggalkan Shankara, dan meninggalkan Suarga yang masih membutuhkan sosok Ketua. Tangisannya semakin menjadi, membayangkan kehidupan esok akan dilalui tanpa kehadiran Wilard.
Ini terlalu berat untuknya, kepergian Wilard yang terlalu mendadak sangatlah memukul nya telak. Mereka semua juga sama tidak menyangka nya, bahwa kejadian itu telah merenggut nyawa Ketua mereka yang rela berkorban untuk menyelamatkan anggotanya.
Riki meremat kepalan tangannya, berusaha menahan tangis nya yang susah dikendalikan. Hingga Jiyon pun mendekat padanya, menepuk pundak Riki beberapa kali untuk memenangkan.
Namun Riki terlalu hanyut dalam kesedihannya hingga tidak bisa mendengarkan suara Jiyon dengan jelas, bahkan ketika Jiyon berulang kali memanggil namanya.
"Rik, Riki!"
Kembali Jiyon menepuk nya dengan lebih keras, kali ini suara Jiyon samar terdengar seperti tengah panik. Riki tidak mengerti, namun kegelapan seolah menarik kesadarannya hingga Riki tersentak.
Kedua mata itu akhirnya terbuka kembali, Riki menatap Jiyon dengan bingung. Lebih bingung lagi saat Riki menyadari bahwa kedua pipinya basah terkena air mata, bahkan ia masih sesenggukan saat ini.
"Riki, lo kenapa?"
Riki terdiam sejenak, tidak langsung menjawab. Helaan nafasnya terasa begitu berat, begitupun dengan dadanya yang terasa nyeri bukan main. Riki segera mengusap kedua pipinya, juga berdehem sejenak untuk menormalkan suaranya.
"Kenapa?"
"Malah balik nanya, lo tadi ketiduran sampe mengigau gitu. Awalnya gue kira lo cuman mengigau biasa, tapi malah sampe nangis-nangis gini." Ujar Jiyon, mengusap lengan Riki yang tampak masih linglung sejak membuka mata.
Riki pun menatap sekeliling, ternyata mereka masih dirumah sakit dan berada di bangku tunggu didepan ruang operasi. Riki menghela nafas panjang, menyandarkan punggungnya pada tembok dibelakangnya. Pikirannya berkelana, memikirkan mimpi yang baru saja ia rasakan.
Entah bagaimana itu semua terasa begitu nyata untuknya, bahkan dadanya ikut berdenyut sakit. Riki kembali menoleh pada Jiyon yang duduk di samping nya, mereka berdua memang berinisiatif menunggu proses operasi kecil Wilard untuk mengambil kedua peluru yang hinggap di kaki dan dada nya.
KAMU SEDANG MEMBACA
SUARGA
Teen Fiction-We Are Family- ------ Kami SUARGA, perkumpulan besar berisi manusia-manusia yang saling membutuhkan tumpuan. Kami menciptakan rumah impian kami bersama. Dan ini adalah kisah kami, kisah Suarga bersama dengan para petinggi dan anggotanya. ------ Sua...
