38. Adik Satu-satunya

924 109 46
                                        

Suarga
—38. Adik Satu-satunya—

------

Yang patah biar tumbuh, yang ambruk biar dibangun.

------


"Apa yang ini anaknya?"

Riki memperhatikan foto yang diperlihatkan oleh Juyen dengan seksama sebelum akhirnya mengangguk cepat, membenarkan dugaan Juyen. Shankara disampingnya hanya berdiam diri sembari melipat kedua tangannya didepan dada, turut memperhatikan foto itu.

"Bener, jadi gimana?"

"Buat sementara nggak ada yang salah dari latar belakangnya, dia kayak bocah sekolah biasanya. Tapi..." Ucapan Juyen terjeda, ia menatap Shankara dan Riki secara bergantian.

"Shan, apa lo nggak curiga sama kakaknya?"

Shankara menaikkan sebelah alisnya dan menggeleng. "Gue cuman berpapasan sama dia doang, gue juga nggak terlalu memperhatikan dia."

Juyen mengangguk paham, kembali mengutak-atik nya dan menunjukkan nya lagi pada kedua orang di hadapannya. Kali ini bukti yang didapatkan Juyen berhasil membuat Shankara dan Riki kompak membulatkan matanya, bahkan Shankara sampai mengambil alih ponsel Juyen agar ia bisa melihat dengan lebih jelas.

"Apa-apaan ini, kenapa kita baru sadar?" Tanya Riki dengan nada jengah.

"Wajar kalo kita nggak sadar, kejadiannya udah lama banget dan dia nyaris nggak pernah nunjukin adiknya ke luar. Tapi gimana bisa gue nggak ngenalin dia?"

Juyen menghela nafas, tau kalau Shankara tengah kebingungan saat ini. "Lo nggak lihat? Penampilan nya berubah, dan mungkin aja dia juga nggak berniat buat basa basi lagi ke lo."

Shankara mengusap surainya sendiri, mengembalikan ponsel milik Juyen. "Kalo gitu gue harus ke Wilard sekarang!"

"Bocahnya nggak bakal mau nurut, lo kayak nggak kenal Wilard aja!" Ujar Riki.

Namun Shankara memilih acuh, setidaknya sebelum ada hal buruk lainnya yang terjadi ia harus bisa mengantisipasinya dulu.

Riki langsung mengikuti Shankara yang sudah keluar terlebih dahulu untuk mencari keberadaan Wilard, dan ia malah menemukan Shankara yang tengah mencoba menahan Wilard yang hendak pergi dari markas.

"Lo berniat ngelarang gue kayak Riki? Sialan lo pada, kalian kira gue bisa diatur seenaknya gini?"

Riki meringis pelan melihat kekesalan Wilard yang langsung menampik cekalan Shankara dan pergi begitu saja tanpa bisa dihentikan lagi, Wilard pasti masih marah terhadap nya.

Riki pun menyilangkan kedua lengannya didepan dada sewaktu Shankara berbalik badan menjadi menghadapnya. "Apa gue bilang."

"Yaudah lah, semoga aja Wilard nggak ngelakuin hal yang aneh-aneh." Ujar Shankara pada akhirnya.

Shankara dan Riki sudah membuat Wilard marah, dan mereka tidak ingin lagi menambah masalah. Shankara akan mencoba menjelaskannya pelan-pelan pada Wilard nanti, kali ini ia akan membiarkan Wilard dulu.

"Kalo gitu apa kita harus ngomongin ini ke bang Jico?" Juyen bertanya sembari melangkah mendekati mereka.

"Buat apa? Toh nggak ada masalah yang terjadi." Ujar Riki yang ditinggapi anggukan oleh Shankara.

Juyen terdiam sejenak, sejujurnya ia merasa sedikit khawatir. Namun Juyen sendiri tidak tau banyak tentang hal itu, dan Riki sepertinya tidak ingin memperpanjang nya.

------

Diposisi Wilard, ia celingukan saat baru saja masuk kedalam kafe untuk mencari seseorang. Wilard merasa tidak asing dengan tempat itu, Jiyon pernah menjelaskan kalau di depan tempat inilah Shankara mengalami kecelakaan.

SUARGATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang