24. Kisah Anak Muda

877 91 27
                                        

Suarga
—24. Kisah Anak Muda—

------

Kita hanya perlu terus melangkah, meski dengan tujuan yang tidak jelas mau kemana.

------

"Lo anak orang kaya kan? Sini-sini kasih ke gue semua!"

"Geledah aja geledah!"

"Alahh nggak usah belagu nantangin lo, berani lo sama gue?!"

Wilard mengerang kesal, maniknya mengerjab beberapa kali untuk menormalkan pandangannya. Suara gaduh itu berhasil membuatnya terbangun, Wilard meregangkan otot nya sejenak sebelum menyandarkan punggungnya pada sandaran bangku.

Menatap malas para preman sekolah yang kemarin ia temui di kantin, nampaknya saat ini tengah menemukan mangsa baru di kelas yang ditempati Wilard. Mencoba menelisik siapa yang menjadi korban pemalakan itu, Wilard malah dibuat sedikit terkejut karena Vegan lah yang hanya diam saja saat isi tasnya ditumpahkan di atas lantai beserta isiannya yang diberantaki.

Mungkin Vegan tidak memiliki keberanian untuk melawan, bahkan saat semua uang yang dibawanya diminta paksa. Wilard mendengus sembari melepaskan sebelah sepatunya, melemparkannya langsung hingga mengenai kepala salah satu dari preman-preman itu.

Keadaan menjadi hening seketika, semua penghuni disana kompak menoleh pada Wilard dengan terkejut. Namun si pemilik sepatu pun masih bersikap seolah tidak berbuat apa-apa, Wira mengulurkan tangannya untuk memanggil seseorang yang terkena lemparan sepatu Wilard.

"Bawa sini!"

Para preman itu saling bertatapan, hingga akhirnya mereka malah mendorong Vegan agar mengambilkan sepatu milik Wilard. Vegan hanya bisa menurut, ia berjalan pelan menghampiri Wilard dan menyodorkan sepatu itu.

Wilard menerima nya dan berucap terimakasih, namun kembali ia melemparkan sepatu itu lagi pada target yang sama. Namun kali ini Wilard gagal mengenainya lagi karena targetnya berhasil mengelak dengan gesit. Wilard mendengus kesal, memanggil pemuda itu lagi.

"Bawa sini!"

"Sialan, maksud lo apa hah?!" Pemuda itu murka, merasa dipermainkan oleh Wilard. Dengan geram ia menghampiri Wilard dan menyingkirkan Vegan yang hendak menghalanginya.

Wilard mengusap tengkuknya sendiri, menatap jengah pemuda arogan di hadapannya. "Lo gangguin gue tidur, lagipula lo nggak sopan bikin keributan dikelas orang, apalagi lo malak murid lain."

Kalau bukan karena tidur nya terganggu dengan sangat tidak nyaman, Wilard juga tidak sudi berurusan dengan siapapun itu. Namun ketika melihat Vegan menjadi korban perundungan, ia juga tidak bisa diam saja dan membiarkannya.

"Belagu juga lo, belum aja gue mampusin sekarang juga!"

Wilard menarik sudut bibir nya, nyaris saja ia tertawa hanya karena mendengar ucapan yang begitu menggelitik telinganya. Namun nampaknya responnya malah membuat si arogan semakin murka dan mengangkat kepalan tangannya dengan tinggi, bersiap untuk menghantam Wilard.

Namun pergerakannya tiba-tiba terhenti saat tangannya ditahan dengan kuat, ia menoleh dan menemukan Riki lah yang kini menatapnya dengan begitu tajam seolah ingin menghabisi nya didetik itu juga. Riki melepaskan tangannya dan memberikan satu tendangan yang langsung mengenai ulu hatinya.

Beberapa murid memekik melihat kejadian itu, tidak menyangka kalau Riki akan turut serta dalam keributan. Riki menoleh sejenak pada Wilard yang hanya tersenyum padanya, menyempatkan diri untuk mengusap singkat pucuk kepala Wilard sebelum melangkah menghampiri seorang pemuda yang kini dengan kesusahan mencoba bangkit sembari memegangi perutnya.

SUARGATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang