Suarga
—46. Berpikir Jernih—
------
Kita selesaikan dengan nafas tenang.
------
Tiyas, ia mengusap kasar surainya. Tiyas dan Josev masih menunggu didepan ruangan UGD, sementara Jico masih ditangani didalam. Tiyas menyandarkan punggungnya dengan lemas ke tembok, sedangkan Josev masih mondar-mandir tidak tenang.
"Apa kata Shan tadi?"
"Dia sama Wilard bakal nyusul kesini."
Josev menghela nafas, ia masih terkejut dengan kejadian tadi. Andai saja mereka tadi datang lebih cepat, mungkin saja Jico tidak akan terluka sampai seperti ini.
Tak lama kemudian pintu UGD terbuka, disusul dengan seorang dokter keluar bersama dengan perawat yang menbawa tumpukan tisu dan perban berwarna merah yang dikotori oleh darah.
"Dimana keluarga pasien?"
"Saya sudah menghubungi nya, mereka akan tiba sebentar lagi. Bisa jelaskan dulu pada saya bagaimana keadaan teman saya?" Tiyas yang tidak sabar pun segera meminta penjelasan.
Dokter muda itu menghela nafas. "Maaf, tapi luka nya terlalu dalam sampai terjadi kerusakan pada pupil hingga lensa nya. Saya meminta maaf, tapi dengan begini pasien dinyatakan buta sebelah dibagian mata kirinya."
Tiyas termenung, jantungnya berdegup dengan kencang. "Apa tidak bisa diperbaiki?"
Dokter itu menggeleng. "Biasanya cidera pada mata masih bisa ditalangi dengan cara operasi, namun kasus satu ini sampai menebus bagian fatal dari kontak matanya."
Tiyas dengan lemas mengangguk, mengucapkan terimakasih pada sang dokter. Tiyas menoleh pada Josev, yang lebih muda pun mendekat dan merangkul pundak Tiyas.
"Ayo kita samperin bang Jico." Ajaknya, menuntun Tiyas untuk masuk kedalam ruangan UGD dan menemui Jico.
Mereka berdua mendekat, membuat Jico yang tengah berbaring pun menoleh dengan perlahan. Dan disaat itulah kedua bahu Tiyas langsung luruh dengan lesu, ia semakin mendekat dengan tatapan nanarnya melihat kondisi Jico.
"Jico, sakit banget ya?" Tanyanya dengan pelan.
Jico tidak langsung menjawab, namun kemudian ia mengangguk. Mata kirinya kini tertutup oleh perban tebal, Jico sudah mendengar penjelasan dari sang dokter yang menangani nya bahwa mata kirinya kehilangan fungsi melihatnya.
"Nggak apa-apa Tiyas, gue masih punya mata kanan buat melihat." Jico berucap dengan nada serak, menampilkan senyum tipisnya.
"Gimana sama Simon? Lo biarin dia ngamuk?" Lanjut Jico, tiba-tiba teringat dengan sahabatnya itu.
"Biarin aja dia, gue yakin Derto nggak bakal dilepasin dengan mudah. Yang penting sekarang itu keadaan lo, ini gimana kalo lo jadi begini?"
Jico nyaris saja tertawa melihat sikap khawatir Tiyas yang begitu menggelitik nya, perlahan ia mencoba untuk duduk dengan dibantu oleh Tiyas dan Josev.
"Sorry, gue ceroboh. Derto bener-bener berniat membunuh gue tadi, gue kira bakal langsung mati gitu aja saking sakitnya mata gue."
"Heh!" Tiyas spontan menepuk bibir Jico, yang mana membuat si empunya langsung melirik dengan sinis.
"Nggak boleh bilang gitu, gue yakin Simon bakal membalaskan dendam lo nanti."
Jico mengangguk saja, mata kanan nya yang masih berfungsi pun beralih menatap Josev yang begitu tenang sedari tadi. "Kalian nggak dapet kabarnya Wilard sekarang?"
KAMU SEDANG MEMBACA
SUARGA
Teen Fiction-We Are Family- ------ Kami SUARGA, perkumpulan besar berisi manusia-manusia yang saling membutuhkan tumpuan. Kami menciptakan rumah impian kami bersama. Dan ini adalah kisah kami, kisah Suarga bersama dengan para petinggi dan anggotanya. ------ Sua...
