Suarga
—44. Luruhnya Kepercayaan—
------
Percayalah, kamu tidak sendiri.
------
TOK TOK TOK!
"Iya bentar! Siapa sih? Biasanya juga langsung masuk!" Jiyon mendumal, melangkahkan kakinya untuk membukakan pintu.
Biasanya kalau hanya anggota Suarga, mereka akan langsung masuk begitu saja. Namun kali ini Jiyon harus membukakan nya sembari menerka siapa yang sebenarnya bertamu semalam ini ke markas.
"Loh, Riki?!"
Jiyon jelas terkejut saat melihat sosok Riki yang bersandar di pintu dengan keadaan tidak sadarkan diri, ia segera berjongkok guna menahan tubuh bongsor Riki yang nyaris ambruk. Jiyon menepuk pipi Riki berulang kali, juga memeriksa denyut nadi Riki.
"WOI SIAPAPUN! TOLONGIN GUE!" Jiyon memutuskan berteriak agar penghuni markas lainnya mendengar suaranya.
"Jiyon?! Lo kenapa?!" Tiyas yang kebetulan lewat pun segera berlari menghampiri Jiyon, ia membulatkan matanya sewaktu melihat Jiyon yang tengah menahan tubuh Riki.
"Bantuin gue bawa masuk Riki dulu, bang!"
Dengan dibantu oleh Tiyas pun Jiyon berhasil mengangkat tubuh Riki dan membaringkan nya ke atas sofa, Tiyas juga bergerak cepat untuk melepaskan topi dan jaket yang dikenakan Riki.
"Kenapa bisa jadi kayak gini?"
"Gue juga nggak tau bang, tiba-tiba aja gue nemuin Riki didepan markas." Ujar Jiyon, ia masih belum sembuh dari keterkejutan nya.
"Siapa yang teriak tadi?"
Shankara berjalan cepat menghampiri dengan Jico dan Simon, pandangan mereka langsung jatuh pada Riki yang berbaring nyaman diatas sofa.
"Gue, Riki udah kayak gini dari tadi makanya gue panik dan teriak."
Shankara mengerutkan keningnya, mendekat pada Riki dan mengusap sisi wajahnya. Shankara memperhatikan Riki dengan teliti, ia yakin sekali Riki saat ini tidaklah pingsan.
"Tunggu, Riki tadi pergi bareng sama Wilard!" Shankara langsung mengangkat wajahnya, menatap Jiyon dengan raut panik.
"Bener juga, tapi gue nggak nemuin Wilard bareng sama Riki." Jawab Jiyon.
"Shan, coba hubungi Wilard sekarang. Dan Jiyon, cari Juyen dan minta dia buat ngecek CCTV halaman depan!" Jico segera memberikan komando, sadar kalau ada yang tidak beres dibalik Riki yang tiba-tiba pulang dalam keadaan seperti ini.
Shankara pun langsung mencoba untuk menghubungi Wilard, berulang kali ia mencoba namun tetap tidak berhasil mendapatkan sahutan dari orang yang dihubungi nya. Shankara berdecak keras, rasa khawatir mulai menyelimuti nya.
"Bang Jico! Ada orang yang baru aja pergi dari sekitaran markas, dia pake hoodie abu-abu dan pake masker!" Juyen berucap cepat bersama dengan Josev menghampiri yang lain sembari membawa laptop ditangannya.
Dan secepat itulah Jiyon langsung berlari keluar dengan diikuti oleh Josev untuk mengejar orang yang dimaksud Juyen, sebisa mungkin mereka akan nenangkapnya.
"Kalo Wilard tetep nggak bisa dihubungi, langsung kita cari. Juyen, lacak lokasi terakhir ponsel Wilard! Bima dan Juyen tetep di markas buat nemenin Riki sampe dia sadar." Kembali Jico memberikan arahan, mereka harus cepat bergerak sebelum hal buruk terjadi pada Wilard.
Juyen pun kembali mengutak-atik laptopnya, berharap ia akan menemukan lokasi Wilard dengan cepat. Mereka semua sama khawatir nya, tidak ada yang menyangka kalau hal ini akan terjadi.
KAMU SEDANG MEMBACA
SUARGA
Fiksi Remaja-We Are Family- ------ Kami SUARGA, perkumpulan besar berisi manusia-manusia yang saling membutuhkan tumpuan. Kami menciptakan rumah impian kami bersama. Dan ini adalah kisah kami, kisah Suarga bersama dengan para petinggi dan anggotanya. ------ Sua...
