Suarga
—42. Pengamat—
------
Semakin teliti, semakin banyak hal yang akan kamu lewati.
------
FLASHBACK ON!
"Kalo kayak gini terus, Suarga bakal hancur!"
Ucapan keras itu tiba-tiba menggema di telinganya, yang mendengarkan pun mengusak kasar surainya sendiri hingga berantakan guna mengenyahkan pening yang mendera.
"Terus lo maunya gimana?"
"Ya lo cari cara lah, masa mau di biarin gitu aja?! Citra Suarga udah jelek banget dimata masyarakat, kita yang awalnya kelompok besar yang disegani jadi di injek-injek begini!"
Sekali lagi, kenyataan pahit itu seolah menghantam setiap anggota Suarga. Beberapa dari mereka mulai mengajukan protes, bersuara untuk mengungkapkan rasa tidak terima atas kacaunya Suarga.
"Lo ambil alih aja kepemimpinan Suarga!"
"Apa?"
Pemuda yang lebih pendek itu menoleh sepenuhnya, surainya yang masih berantakan dibiarkan bergerak mengikuti arah angin yang acak. Keduanya saling berhadapan, sama-sama pusing memikirkan kelanjutan Suarga.
"Jico, ambil alih kepemimpinan Suarga."
Jico, pemuda itu terdiam sejenak. Perasaan gundah mulai menyerang batinnya, ia sendiri ragu kalau rencana itu akan berhasil. Apalagi Jico tidak pernah memikirkan hal itu sebelum nya, bagaimana bisa ia tiba-tiba mengambil alih kepemimpinan Suarga yang memang tengah kacau balau.
"Kenapa nggak lo aja?"
"Gue nggak pantes, bahkan sekarang gue nggak bisa berbuat apapun meski gue wakilnya. Gue tau lo yang seharusnya ada di posisi Ketua, Suarga harus secepatnya diperbaiki."
Jico termenung, membenarkan ucapan pemuda dihadapannya ini. "Daneev, gimana kalo gue nggak berhasil?"
"Ayolah, kenapa lo malah meragu?"
Daneev merogoh saku celana nya dan mengeluarkan sebuah kalung dengan bandul peluit dari kayu, benda yang begitu berharga untuk Suarga yang malah kurang diperhatikan dengan benar. Daneev menyodorkan nya pada Jico, memaksa pemuda itu untuk menerimanya.
"Waktu gue nggak lama lagi di Suarga, gue harap lo bisa memperbaiki citra Suarga. Maaf kalo gue terkesan cupu dan kabur gitu aja dari tanggungjawab, gue bakal menanggung hukuman yang sesuai sebagai penghianat Suarga." Ujar Daneev dengan serius.
"Gue yakin lo orang yang tepat, Brayan nggak seharusnya memimpin Suarga cuman karena Ketua yang dulu sayang sama dia. Jico, lo harus secepatnya bertindak demi mempertahankan Suarga." Lanjut Daneev, ia menepuk pundak Jico dan mengusap nya dengan pelan.
Daneev ingin Jico cepat bergerak, ia sudah begitu muak melihat sendiri bagaimana berantakan nya Suarga yang dipimpin oleh orang yang salah. Mereka menjadi liar, banyak huru-hara dan masalah yang terjadi. Tidak ada yang bisa menjamin berapa lama lagi Suarga akan bertahan jika terus seperti ini, bisa-bisa mereka malah dibubarkan paksa oleh aparat karena terlalu sering menimbulkan masalah.
"Gue ngerti, tapi gue nggak bisa ngasih hukuman ke lo."
"Lo harus, gue harap lo bisa melakukannya. Jangan kasihan ke gue, lo harus mulai ngatur strategi buat jatuhin Brayan."
KAMU SEDANG MEMBACA
SUARGA
Teen Fiction-We Are Family- ------ Kami SUARGA, perkumpulan besar berisi manusia-manusia yang saling membutuhkan tumpuan. Kami menciptakan rumah impian kami bersama. Dan ini adalah kisah kami, kisah Suarga bersama dengan para petinggi dan anggotanya. ------ Sua...
