Suarga
—14. Taruhan—
------
Tetaplah hidup, ucapkan kata kasar andalan mu dan teruslah melangkah.
------
"Nggak!"
Wilard berhenti bicara saat Shankara memotongnya begitu saja, begitupun dengan yang lain seketika mengalihkan perhatian pada Shankara. Wilard menghela nafas, ia tau pasti akan mendapatkan penolakan seperti ini bahkan ketika ia belum benar-benar selesai mengatakannya.
"Bang, dengerin gue dulu."
"Apa lagi? Gue nggak setuju kalo lo yang bakal turun tangan langsung ke arena, terlalu beresiko dan lo seharusnya tau itu!" Shankara berujar tegas, menekan emosinya.
"Biar gue yang gantiin lo." Lanjut Shankara membuat Wilard langsung menggeleng cepat.
"Rego nggak membawa nama Suarga ataupun Conda, ini murni tantangan buat gue pribadi. Nggak ada yang bakal menggantikan gue, karena gue sendiri yang bakal menghadap Rego."
Shankara mengeraskan rahangnya, batinnya berteriak ingin mengucap sumpah serapah untuk menghentikan Wilard. Hingga ia rasakan pundaknya ditepuk, Jico menariknya mundur saat sadar kalau Shankara sudah tidak dapat lagi menahan emosinya.
Wilard hanya memperhatikan saat Jico memaksa Shankara agar mau ikut bersamanya, ia akan mencoba bicara dengannya nanti. Wilard tau Shankara hanya khawatir, namun yang kali ini juga tidak bisa dianggap remeh.
"Hati-hati Wilard, kita nggak bisa meremahkan pihak lawan." Tiyas memberi nasehat, sadar kalau tekad Wilard sudah sangat bulat.
Wilard mengangguk, mendengarkan ucapan Tiyas dengan seksama. Wilard melirik kearah jam dinding, waktu nya untuk bersiap kini semakin mepet, bahkan ponselnya sudah berbunyi beberapa kali. Rego terus menghubungi nya, memastikannya kalau tidak akan mundur dari tantangannya.
"Kita berangkat sekarang?" Tanya Kai, ia sudah bersiap dan memakai hoodienya.
Wilard mengangguk, bangkit dan mengantongi ponselnya. "Yang lain tetap di markas, nggak perlu sampe ramai-ramai."
"Lo serius? Gue udah bersiap jadi tim hore begini!" Jiyon berdecak, menyampaikan protesnya.
"Nggak perlu, lo disini aja bareng Riki."
Riki yang disebut pun menekuk wajahnya, ingin ikut protes namun tidak jadi saat sorot mata Wilard mengarah padanya. Seolah menekannya agar menurut dan diam ditempat meski saat ini Riki ingin sekali ikut dan menjadi penyemangat.
Wilard akhirnya keluar dari markas dengan diikuti oleh Kai dan Simon, masing-masing dari mereka menaiki motor sendiri-sendiri dan mulai bersiap melaju bersama. Wilard akan membiarkan Shankara bersama dengan Jico saat ini, ia yakin mereka akan menyusul nanti nya.
Shankara berulangkali menghela nafas, tidak memperdulikan Jico yang mulai lelah memberikan pengertian berulang kali. Jico merasa Shankara kali ini sangatlah bebal, bahkan dia tidak menjawab Jico sama sekali.
"Sebenernya apa yang lo takutkan? Seharusnya lo udah mudeng kalo ini emang dunia kita, dunia nya Wilard juga."
Shankara mengalihkan pandangannya, iatau kalau Wilard dan yang lainnya sudah berangkat lebih dulu bahkan disaat ia belum sepenuhnya setuju dengan keputusan Wilard. Shankara menoleh pada Jico, pemuda itu terlihat garang sekali seolah ingin menelannya hidup-hidup.
"Perasaan gue nggak enak."
"Kalo lo dari awal udah begini, lo bakal menganggu konsentrasi Wilard. Yang harus lo lakuin sekarang cukup kasih dia dukungan aja, Wilard juga udah yakin kalau dia bisa. Dia Ketuanya sekarang, udah waktunya buat dia nunjukin ke publik tentang dirinya yang sekarang." Ujar Jico, masih berusaha untuk sabar.
KAMU SEDANG MEMBACA
SUARGA
Teen Fiction-We Are Family- ------ Kami SUARGA, perkumpulan besar berisi manusia-manusia yang saling membutuhkan tumpuan. Kami menciptakan rumah impian kami bersama. Dan ini adalah kisah kami, kisah Suarga bersama dengan para petinggi dan anggotanya. ------ Sua...
