Suarga
—02. Rasa Gelisah—
------
Bersandar padaku, mengoceh lah sampai kamu lelah.
------
Di hari itu, semuanya berjalan dengan tidak mulus. Mungkin hanya hari nya Wilard, karena semua terasa begitu menyebalkan untuknya. Dimulai dari ia yang kesiangan, ditinggal Shankara, telat sampai sekolah, dan berakhir mengerjakan ulangan sendirian di ruang guru.
Wilard menendang kerikil dengan rasa kesal yang begitu membuncah, ingin sekali mengacak-acak dunia dan seluruh isinya. Wilard tidak yakin telah benar menjawab semua pertanyaan di kertas jawabannya tadi, sayang sekali kali ini ia tidak bisa mencontek Riki.
"WOI!"
Wilard tersentak saat seseorang mendatanginya dengan raut menahan amarah, namun seketika Wilard langsung paham ketika melihat kening pemuda itu memerah.
"Lo yang nendang batu sampe kena gue?!"
Wilard cengengesan, mengusap tengkuknya sendiri. "Dengan penuh rasa hormat, gue meminta maaf! Sumpah tadi nggak sengaja!"
Seseorang itu berdecak sembari mengelus keningnya sendiri. Karena sungguh ia sampai merasa pusing saking kerasnya Wilard menendang batu itu.
"Maaf Jaeno, gue nggak lihat lo disana."
Yang dipanggil Jeano itupun menatap jengah Wilard. "Lo mah sejak jadi Ketua Suarga bukannya tobat malah makin aja!"
Mendengar hal itu membuat Wilard langsung membekap mulut Jaeno, ia juga celingukan memeriksa keadaan sekitar.
"Mulut lo Jae! Kalo ada yang denger gimana?"
Jaeno melepaskan telapak tangan Wilard dari mulutnya. "Kenapa? Orang-orang juga harus tau kalo Suarga udah ganti Ketua!"
Wilard menghela nafas. "Nggak gitu dong, menghindari spekulasi jelek orang aja. Lo sendiri juga diem-diem aja padahal member nya Wolves, kalian masih sembunyi-sembunyi kan?"
Jaeno mengangguk membenarkan, memang iya mereka masih bersembunyi dari orang-orang juga untuk menghindari spekulasi jelek. Karena memperbaiki nama sebuah kelompok besar bukanlah pekerjaan yang mudah.
"Udah lah, gue mau balik!"
Jaeno hanya diam saja saat Wilard perlahan mulai menjauhinya, ia memperhatikan langkah Wilard yang berjalan cepat menuju parkiran sekolah. Sebenarnya ada banyak hal yang ingin ia sampaikan pada Wilard, namun sepertinya pemuda itu sibuk dan tidak sempat jika harus menghabiskan waktu dengannya.
Wilard memang buru-buru ingin ke rumah Jico, ada beberapa hal yang ingin ia sampaikan. Semenjak peresmian ia sebagai Ketua, Jico semakin jarang terlihat dan mampir ke markas. Teman-teman nya hanya mengatakan kalau Jico sibuk dengan kegiatan kuliahnya, namun Wilard tidak sepenuhnya percaya.
Wilard merasa ada sesuatu hal yang sebenarnya disembunyikan oleh Jico, Wilard tidak bermaksud penasaran dengan urusan orang lain namun setidaknya Wilard ingin menjadi pendengar apabila memang Jico membutuhkan.
Kondisi rumah Jico terlihat sepi, namun Wilard tanpa ragu memencet bel dan menunggu si pemilik rumah membukakan pintu. Dan tak lama pun pintu terbuka dan seorang wanita cantik pun keluar, Wilard bahkan sampai terkesima dan bengong ditempat nya.
"Siapa?"
Wilard tersentak, suara dingin yang tidak sesuai dengan bayangan Wilard itupun berhasil menyadarkan Wilard.
"Maaf tante, saya Wilard temennya bang Jico."
Wanita bernama Alena itu menelisik penampilan Wilard yang sama sekali tidak menunjukkan seperti murid sekolah yang teladan. Begitu berantakan, bahkan dasinya hanya di sampirkan di pundak begitu saja.
KAMU SEDANG MEMBACA
SUARGA
Novela Juvenil-We Are Family- ------ Kami SUARGA, perkumpulan besar berisi manusia-manusia yang saling membutuhkan tumpuan. Kami menciptakan rumah impian kami bersama. Dan ini adalah kisah kami, kisah Suarga bersama dengan para petinggi dan anggotanya. ------ Sua...
