Alien-36

352 32 1
                                        

"Dua ratus juta, pas Rel duitnya. Nih punya elo!" Rendy memberikan uang hasil penjualan mobil milik Varel itu.

Dari pada di buang jadi di jual saja, lihatlah hasilnya mereka mendapatkan dua ratus juta, walaupun rugi tapi tak apa. Yang terpenting mereka lebih tenang sekarang.

"Aku tidak mau, berikanlah pada Tera." Varel acuh, ia sedari tadi melihat ke jalan. Mereka memesan taksi online, tapi kenapa taksinya belum juga tiba.

Aneh bukan? Mereka sedang berada di jalan tapi Rendy malah menghitung uang di sini, seperti tidak ada tempat yang lain saja. Ini namanya akan mengundang kejahatan.

"Aduh, Rel! Jangan di kasih ke Tera, elu tahu sendiri Tera kagak gimana, mendingan elu tabung duit ini, ini kan mobil elo. Kalo Tera sama kakak gua, itu tanggung jawab gua. Gua bisa kasih ke mereka berapapun. Jadi elo kagak usah kasih ke Tera lagi. Gua tahu kok elu selalu kasih Tera duit ataupun apapun selama ini kan? Jadi sekarang nggak perlu lagi. Udah terlalu banyak elo ngasih dia. Dia emang gitu, Rel. Rakus! Kagak ada puasnya, nggak apa-apa. Elo kan lagi butuh sekarang. Jadi ini punya elo aja. Lagian yang punya mobil siapa, yang dapet siapa. Nanti si Tera malah beli sembarangan lagi."

Varel menatap Rendy dengan alis yang terangkat. Sebenarnya Rendy ini baik dan sayang pada Tera dan Epa. Varel tahu itu, dari dulu apapun kebutuhan Tera serta Epa pasti akan dia penuhi. Dia memang bertanggung jawab pada keluarganya. Tapi terkadang dia sangat mengesalkan.

"Kenapa lu ngeliatin gua gitu? Naksir ya?"

Varel seketika membuang muka, kenapa dengan Rendy ini. Baru saja ia memuji pria itu dalam hatinya dia malah berulah. Benar bukan, memang Rendy orang yang baik tapi dia juga bisa bersikap yang membuat dirinya muak seperti ini.

Rendy terkekeh pelan,"Kagak apa-apalah kalo naksir gua, kan gua ganteng. Walaupun tabungan sih, kita kan sama-sama cowo. Tapi bagi gua sih biasa aja, orang bisa milih Jalann sendiri."

"Apa yang kau bicarakan ini? Diamlah!" Kenapa bertambah di acuhkan, dia bertambah jadi saja.

"Dih dih mukanya merah, malu nih ya ... salting kan lu! Jadi selama ini elo suka sama gua ya, emang ya ketampanan seorang Rendy nggak bisa di tolak oleh kaum manusia. Nggak cuma para janda di kampung ini, bahkan laki pun kecantol sama gua?" Rendy mengusap rambutnya. Ia sudah terbiasa dengan itu.

Alis Varel semakin naik saat mendengar itu, kenapa Rendy ini terlalu percaya diri sekali."Ini panas! Aku kepanasan bukan seperti apa yang kau ucapkan itu, dan jangan berargumen sendiri. Aku tidak pernah menyukaimu, walaupun aku memang gay tapi bukan kau orangnya!"

Ingin muntah rasanya mendengar Rendy yang berucap seperti itu,"Aku hanya mengiginkan Tera saja di dalam hidupku. Tak apa jika Tera menolak sekarang. Aku akan menunggu Tera menjadi kekasihku nanti."

"Heleh, bisa aja lu. Kagak kenapa-napa, gua udah tahu kalo elo suka sama gua, jadi nggak apa-apa Varel. Jujur aja. Jujur lebih baik, dan gua akan izinkan elo suka sama gua, tapi maaf ya, Rel. Gua belum tahu, mau nolak apa kagak. Elo tahu kan bal ini masih tabu?"

"Apa yang kau bicarakan ini!"Varel sedikit muak dengan Rendy."Aku tidak suka padamu tapi aku suka pada  ..." Ia terdiam."Kalau aku Juju aku suka pada Tera, apa dia akan mengadu pada Emak? Jika itu terjadi maka pasti Emak akan memisahkan aku dengan Tera, jangan Varel. Bukankah kau akan mendekati Emak dulu supaya hubungan mu dengan Tera lancar."

Ia harus menahannya, tak tahu nanti apakah Rendy mengadu atau tidak pada Epa. Tapi jika itu terjadi, maka bisa di pastikan ia akan dalam masalah. Bisa saja Epa menyuruhnya untuk menjauhi Tera.

"Suka sama siapa?" Rendy semakin penasaran apa yang ingin diucapkan oleh Varel. Kenapa tiba-tiba saja Varel terisak seperti itu."Elo nggak apa-apa kan, Rel?"

Varel mendengus, ia tak bicara lagi tapi masuk ke dalam taksi karena taksi yang telah mereka pesan sudah datang.

"Aneh banget si Varel! Kalo dia nggak suka sama gua, terus sama siapa dong! Tapi keknya dia ngelak aja deh, tadi aja mukanya merah gitu, kasian juga ya ntu anak kalo dibiarin gitu,"Rendy mengusap dagunya."Gua nggak bisa jawab sekarang. Tapi kalo tanya gua Gay apa kagak, keknya gua nggak deh, tapi gua nggak benci juga,"

"Apa yang kau tunggu! Jika tidak mau masuk maka aku pergi sendiri!"

"Eh?! Jangan dong! Gua masuk ini!" Rendy segera masuk ke dalam taksi."Gara-gara mikirin elu, gua jadi gini, Rel."

Varel hanya memutar matanya malas, bukannya ia tidak dengar apa yang dikatakan oleh Rendy tadi."Kenapa dia percaya diri sekali, padahal aku tidak menyukai dia, Tera ... kenapa dengan Orenmu ini, apa dia tidak bisa diam. Rasanya kepalaku pecah jika terus saja bersama dia,"

Berbeda sekali jika bersama Tera, hatinya terus saja berbunga-bunga, dan seperti bersama Rendy. Hatinya akan panas seketika jika bersama orang yang bernama Rendy itu. Suka? Gila saja, bahkan melihat wajahnya saja Varel tidak suka!

Voted →coment →follow

ALIEN (BL)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang