Alien-56

347 25 4
                                        

Tera melihat sekeliling tapi tak juga mendapati Varel, apakah laki-laki itu memang tidak menyukai Randy sedikitpun.

"Tahu sih, gua juga nggak bisa maksa dia buat suka ataupun cinta sama Oren. Tapi gua nggak rela aja Oren pergi dari kita, gua udah deket banget sama dia."

Begitu juga dengan Randy, ada sedikit harapan dihatinya untuk kembali bertemu dengan Varel. Tapi sepertinya tak bisa karena harapan itu harus musnah kala orang yang ditunggu-tunggu tak juga memunculkan wajahnya.

"Ra, Va, kak. Duluan ya, bentar lagi udah terbang, Randy nunggu disana aja. Inget pesen gua, Ra. Jagain emak lu, dia kan janda,"Randy terkekeh pelan sembari mengusap surai rambut Tera.

"Oren, boleh nggak, nggak usah pergi? Disini aja. Lava, selain nyembuhin luka elo bisa nyembuhin hari nggak? Sembuhin hati Oren please! Gua mohon sama elo ..."Tera memegang tangan Lava detik ini.

Gelengan pelan Lava lakukan, ia tidak bisa melakukan apapun seperti yang dikatakan oleh Tera, menyembuhkan luka sakit hati? Kekuatannya tidak bisa melakukan itu.

"Sama aja dong! Oren, pikirin lagi! Oke deh kalo nggak ketemu sama Varel. Tapi tolong jangan pisah dari kita. Nggak sanggup kalo pergi tahu nggak!"Tera memeluk Randy dengan eratnya."Kan mau nangis jadinya! Jangan pergi ya ..."

"Iya, Ran. Bener kata Tera, jangan pergi kenapa sih? Elu boleh sakit hati tapi jangan gini juga, pikirin sekali lagi sebelum elu terbang. Elu mau ninggalin kita?"Tanga Epa dengan mata yang sedikit berkaca-kaca."Kita aja nggak pernah pisah dari kecil. Masa karena masalah hari harus pisah gini, nggak laki namanya!"

Randy menunduk,"Terserahlah kak Epa mau bilang apa, mau bilang Randy bukan laki atau apapun, Randy nggak peduli. Tapi satu hal yang harus kalian tahu, Randy juga punya hati, dan hati ini harus ditenangin dulu, tenang aja. Bakal balik kok, tapi kalo hatinya udah sehat dan nggak akan nginget hal yang sama."

Tak ada yang berbicara, tampaknya keputusan yang dibuat oleh Randy sudah buat. Jadi tidak bisa lagi untuk protes dan menceramahi laki-laki itu.

Setelah saling memeluk, Randy melambaikan tangannya dan membawa koper yang ia bawa, tak ada menoleh ke arah keluarganya lagi karena pasti hatinya akan terasa sakit.

"Hati, semoga sehat lagi ya. Gua mau coba hal baru, hal yang nggak melenceng kayak gini, gua tahu kok ini salah. Dan gua akan coba perbaikin lagi supaya gua normal. Dan untuk elo Varel ... semoga elo maafin gua, maaf untuk waktu itu. Gua emang bener-bener khilaf. Gua harap elo akan maafin gua untuk ini, makasih udah ada di hidup gua, Rel. Gua cinta sama elo. Tapi gua akan coba buat lupain elo."

"Randy!"

Randy tersenyum tipis,"Bahkan, setelah gua mau pergi. Gua terus aja kebayang sama suara elo, gua nggak tahu apa gua akan sanggup atau enggak lupain elo, Rel. Elo emang bikin gua makin gila."

"Randy berhenti!"

Randy menulikan pendengarnya."Please! Hilang dari otak gua! Jangan kebayang lagi sama elo. Gua mau mulihin hati gua lagi, jangan terus ada dipikiran gua."

"Randy! Sialan! Aku sudah memanggilmu sedari tadi!"

Randy tertegun saat tangannya dipegang dan tubuhnya dibalikkan seseorang, matanya kemudian terbelalak saat melihat orang yang selalu menganggu pikirannya belakangan ini.

"Mimpi? Gua ngebayangin apa sih! Bahkan Gua ngebayangin mukanya si Varel! Emang sialan! Pergi, Rel! Jangan ada dikepala gua, please!" Randy mengusap matanya berulang kali, tapi setelah ia membuka lagi maka pemandangan yang sama muncul di hadapannya.

"Ini bukan mimpi,"Varel memutar matanya malas."Kenapa dengan dia, tidak percaya sekali jika aku ada dihadapannya."

"Bukan mimpi? Nggak pasti gua ngekhayal! Nggak mungkin Varel bisa ada disini ... aduh! Kenapa elo nampar gua, Rel!" Randy mengusap pipinya pelan."Sakit banget."

"Bukan mimpi, bukan?"

Randy diam sejenak, benar juga. Ini sakit dan ini bukan mimpi,"Tapi elo ..."

"Setelah membuatku hampir gila karena ulahmu, kau bisa pergi begitu saja tanpa bertanggung jawab? Kau ini laki-laki macam apa?! Aku memang seorang laki-laki, tidak seperti wanita yang bisa hamil, tapi aku juga punya harga diri, kau datang dan pergi begitu saja tanpa pamit. Kau kira itu bagus? Tidak sama sekali! Dasar pengecut! Kau tidak mau bertanggung jawab setelah membuatku hampir gila?"Varel menatap sinis orang yang berada didepannya ini.

"Gua mau tanggung jawab, Rel. Bahkan mau banget. Tapi elo yang nggak mau kasih gua kesempatan buat tanggung jawab atas perbuatan gua. Elo yang bikin gua kayak gini, elo bilang elo nggak suka sama gua kan?"

Jadi Randy menyerah, untuk apa mengejar cinta yang tidak pasti.

"Setidaknya kau harus terus mencoba bukan? Bukan seperti ini, pergi bahkan tanpa memberitahu aku. Jika kau mau pergi, maka pergi saja! Jangan pernah kembali kesini, jika bisa mati saja sekalian! Kau pengecut!"

Randy menggeleng ribut."Gua nggak pengecut, Rel. Gua nggak kayak gitu!"

"Jika tidak seperti itu maka buktikan! Aku memerlukan bukti bukan hanya omong kosongmu itu!"

Kembali Randy melebarkan matanya tak percaya."Ja-di ... elo nerima gua!"

Tak menjawab, Varel mengangguk pelan."Mungkin ini yang terbaik."

Kata orang jangan mengejar seseorang yang tidak suka, terima lah orang yang mengejarmu. Dan Varel sadar. Sebanyak apapun usaha yang ia lakukan agar Tera menjadi miliknya, maka semakin jauh pula Tera padanya.

Mungkin jika dipaksa, bisa saja, tapi yakin sekali bahwa keduanya tidak bahagia. Dan perasaan pada Randy mulai berubah saat ia melihat pria itu tanpa henti membuat hatinya terbuka.

Mungkin ini yang dinamakan jatuh cinta, tapi Varel belum mengetahuinya.

"Makasih, Rel!" Betapa senangnya Randy saat ini, cintanya menerimanya."Mau jadi hidup gua?"

"Jangan keras-keras. Banyak orang disini."

Randy menutup mulutnya, ia segera melepaskan Varel. Benar apa yang diucapkan cintanya ini, tak semua orang bisa menerima keberadaan mereka. Maka dari itu berhati-hati dalam bertindak dan melakukan sesuatu.

"Mau jadi hidup gua,"ucapnya pelan.

"Akan kucoba,"Varel tak yakin tapi akan ia usahakan agar bisa mencintai Randy sepenuh hatinya.

"Nggak apa-apa, sekarang belum tapi besok pasti elo bakal jawab iya!" Randy mengusap jari jemarinya yang ia pegang.""Maafin gua untuk waktu itu, gua bener-bener khilaf."

Hanya anggukan saja sebagai jawaban Varel, karena pria itu mengatakannya berulang kali.

Di ujung sana, Epa memeluk Tera penuh kesenangan."Asik! Kapal emak akhirnya nyatu lagi! Senengnya! Nggak bohong seneng banget! Tinggal Lava sama Tera yang belum!"

Voted →comment→follow

ALIEN (BL)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang