Alien-41

352 34 14
                                        

Tera panik saat ini karena melihat Epa yang masih berdiri di sana tanpa reaksi apapun.

"Emak, Tera nggak gitu, Tera bukan gay, ini salah paham, Mak. Tolong percaya sama Tera. Lava! Cepet kasih tahu emak kalo kita nggak ada apa-apa! Kenapa elu diem aja sedari tadi!"

"Tidak, itu benar. Tera memang mungkin tidak menyukaiku. Tapi aku menyukainya. Enak, maaf sudah berbohong. Tolong restui kami."Lava berucap dengan jujurnya.

"Apaansih lo, Lava! Kenapa elo malah ngomong yang enggak-enggak sama emak! Mak jangan di dengerin! Lava bohong,  dia suka banget bohongin orang!"

Epa hanya menghela nafas,"Ra, kenapa elu nggak jujur sama, emak. Mak kecewa, Tera ..."Epa berjalan keluar dengan lesu.

"Mak! Enggak Mak! Tera bukan gay! Si Lava ngada-ngada aja! Emak!"Tera menangis melihat Epa yang pergi begitu saja tanpa melihat ke arahnya."Liat! Liat kan emak jadi marah sama gua!"Tera menatap Lava tajam sebelum pergi menyusul Epa.

"Bagaimana ini, Piyo. Apa Tera membenciku kali ini? Kenapa dia menatapku seolah ingin membunuhku kali ini, aku hanya ingin jujur saja agar emak mendukungku."

Piyo menepuk wajahnya dengan bingung."Seharusnya Pitu jangan jujur seperti itu pada emak, pasti emak terkejut sekali saat ini. Makanya dia berucap seperti itu. Lagi pula di bumi ini, manusia yang suka sesama jenis itu belum di legalkan di seluruh dunia, pasti emak Epa salah satu orang yang tak suka jika anaknya menjadi seorang gay."

"Jadi, aku salah?"

"Tentu saja Pitu! Pitu harus kejar Tera dan minta maaf padanya, minta maaf juga pada Epa. Jika tidak seperti itu maka pasti mereka berdua akan marah pada kita!"

Lava mengangguk, ia juga berlari mengejar Tera yang baru saja pergi.

"Aduh aduh aduh! Kenapa Pitu ceroboh sekali! Dia hampir mengacaukan semua rencana, jika emak dan Tera marah bagaimana nantinya dengan kita. Kita pasti di usir oleh Tera dan pasti emak juga tidak akan memberikan Pete lagi pada kita! Piyo harus melakukan sesuatu juga agar masalah ini dapat selesai! Tapi apa yang harus Piyo lakukan?"

Dirinya tak boleh sembarangan keluar. Jika ada orang yang melihatnya pasti akan terjadi masalah.

Saat ini, Tera mengetuk-ngetuk pintu rumahnya agar bisa terbuka. Tapi sepertinya Epa benar-benar kecewa padanya."Emak, Tera nggak bohong. Tera nggak belok! Emak bukain! Jangan marah sama Tera, Tera nggak bisa kalo emak marah sama Tera. Nanti siapa yang ngomelin Tera lagi! Emak!"

Kenapa Epa juga tidak membuka pintunya."Lava! Bajingan tu anak! Kenapa dia malah ngomongin itu sama emak! Udah tahu emak itu nggak biasa soal begituan! Dia malah ngomong yang nggak jelas! Fitnah lagi! Dasar alien nggak tahu diri!"

"Gimana sekarang? Enak pasti marah besar sama gua, apa minta tolong Oren aja ya supaya bisa bujuk emak?"Sepertinya itu ide yang bagus. Tera meraba saku celananya."Gua nggak bawa hp lagi! Semoga aja dia ada di kos'an ujung!" Ia berlari menuju tempat Rendy.

Di dalam, Epa hanya bisa menghela nafas saat mendengar langkah kaki yang sudah menjauh. Ia menatap foto seorang pria tampan di ponselnya saat ini."Elu liat kelakuan anak lu, dia jadi gay!"

Epa mengusap wajahnya kasar."Apa ini karma karena gua suka nonton Bl ya?"Ia melihat kamarnya yang penuh dengan foto couple para laki-laki.

Selama ini Epa tak mengizinkan Tera masuk karena ini lah alasannya."Ya ampun! Sekarang anak gua malah jadi ngegay gini! Ya ampun ya ampun ya ampun!"Epa mengusap dadanya yang berdebar lebih kencang."Tu anak emang agak lain, cantik dari dulu! Bener kata elu bapaknya Tera! Jangan suka nonton Bl nanti anaknya jadi belok!"

Antara senang dan sedih saat ini, Epa benar-benar tak menyangka ucapan mendiang suaminya akan benar-benar menjadi kenyataan seperti ini.

"Tadi mereka ciuman lagi! Ciuman!"Epa menyatukan kedua tangannya."Untung Tera udah legal! Jadi kagak apa-apa kalo di cium gitu!"

"Tenang, Epa! Tenang! Jangan panik!"Epa terdiam saat kembali mendengar ketukan pintu."Siapa dah? Si Tera bukannya udah pergi? Kenapa balik lagi tu anak?"

"Emak! Emak! Ini Lava! Lava mau bicara sama emak!"

"Lava? Kenapa dah dia kemari? Oooo tahu sekarang, pasti dia mau bahas yang tadi!"Epa segera pergi dari kamarnya dan pergi kedepan untuk membuka pintu.

Lava yang melihat pintu yang sudah terbuka rasanya lega, ia pikir Epa tidak akan membuka pintu."Emak, aku ingin minta maaf ..."

"Kita ngomongnya di dalem, kagak enak kalo di denger sama tetangga."

Lava mengangguk, ia masuk ke dalam dan melihat Epa yang menutupi pintu dan jendela.

"Jadi, apa yang elu ucapin tadi?"Epa duduk berhadapan dengan Lava.

"Emak, soal tadi ... maaf. Sebenarnya aku tidak bermaksud mengejutkanmu. Aku tahu kau pasti kecewa pada Tera. Ini bukan salahnya, sebenarnya ini adalah salahku. Tera tidak suka padaku, hanya aku saja yang suka padanya. Apa yang dikatakan oleh Tera itu benar. Dia tidak berbohong. Emak, tolong maafkan Tera. Jika kau marah padaku maka tidak apa-apa. Tapi jangan marah pada Tera. Dia ..."

"Udah udah! Elu ngomongnya panjang banget, kagak ngambil napas apa ya!"Epa hanya menggeleng saja."Lava, emak sebenernya kecewa."

Lava semakin menunduk saat mendengar jawaban Epa.

"Kecewa kalo elu kagak ngejar si Tera lagi!" Epa melanjutkan ucapannya.

"Apa?!"

Vote→ Comment →Follow

ALIEN (BL)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang