Alien-50

380 28 5
                                        

Tera sudah berusaha menghubungi Varel tapi sepertinya anak itu memang butuh waktu sendiri. Pesan, panggilan tak ada yang di jawab.

"Tumben banget tu anak, biasanya gercep kalo gua chat. Salah Oren sih berantem sama dia, si Varel keknya lagi ngambek beneran. Ya udahlah ya, nanti juga baikan sendiri tu anak."

"Kenapa kau menghawatirkan dia, Tera?"tanya Lava dengan datarnya.

"Lah emang kenapa? Suka-suka gua dong, mau perhatian kek, mau enggak kek. Kan urusan gua bukan urusan elo. Jadi nggak usah ikut campur deh, sama aja sama Piyo. Bantuin emak jualan. Biasanya kan elo bantuin emak, kenapa malah di sini?"

"Tera lupa? Aku harus bersama Tera, jadi emak menyuruhku tidak membantunya. Dan soal Varel. Aku tidak suka jika kau terlalu dekat dengannya."

Jujur saja, ada rasa yang mengganjal di hati Lava."Sangat panas sekali, tapi apa artinya ini? Aku tidak mengerti denganku, tapi aku tidak suka saat Tera sering perhatian pada Varel."

"Ya bukan urusan gua, kalo elo nggak suka emang kenapa? Lagian si Varel itu temen gua, usah besty dari lama! Bahkan kita udah sering cerita masalah masing-masing. Kalo Ida berantem sama Oren kan gua jadi khawatir, nanti putus lagi pertemanan kita cuma gara-gara salah paham."

Tera mengedikkan bahunya, dia mengambil keripik dan melanjutkan menonton drama Korea yang dia suka.

"Tapi aku tidak mau dekat dengannya. Tera, bisakah kau sedikit menjauh darinya? Dadaku sakit saat melihatmu perhatian seperti itu padanya."

Tera  menoleh melihat Kava tak berkedip."Dada elo sakit ngeliat gua sama Varel?"

Lava mengangguk, dia tidak tahu kenapa itu bisa terjadi.

"Sakit jantung kali, pergi periksa ke dokter. Eh ... tapi dia kan alien, mana mungkin bisa sakit jantung, atau emang bisa? Bodo ah! Terserah elo, jangan nganggu gua, lagi seru ini, terserah elo mau ngapain yang penting jangan nganggu gua. Udah berhari-hari ketunda nonton ni drama karena masalah yang ada. Dah sono, jauh-jauh!"

Piyo yang melihat itu hanya menepuk kepala."Pitu ini aneh sekali, dia tidak tahu apa itu cemburu? Dan Tera, kenapa dia tidak peka sama sekali? Bukankah dia manusia. Memang manusia yang aneh, apa yang harus Piyo lakukan agar bisa menyatukan mereka berdua? Apakah Piyo harus membuat mereka agar kembali berciuman? Tapi ... tidak mungkin Tera akan mau. Pasti dia akan mengamuk nantinya."
Piyo mengusap-usap tentakelnya.

"Tera, ini emak bawa makanan ... aaaa! Tera! Ntu apaan!"

Tera terkejut mendengar itu, dia menoleh melihat Epa yang syok saat ini dan menunjuk ke lantai.

Ia beralih melihat kelantai."Ya ampun Piyo! Kenapa elo kagak sembunyi! Kan ketahuan jadinya!"

Piyo bergerak ke bawah meja, dia takut melihatnya Epa."Astaga, Piyo tidak tahu jika emak mau datang. Bagaimana ini! Bisa-bisa Piyo akan di jadikan gurita pedas sama emak!"

Gawat sekali, jika sudah ketahuan seperti ini maka akan sulit menjelaskan pada Epa.

"Mak tenang dulu, ini nggak seperti yang emak pikirin kok, dia baik ..."

"Baik gimana! Itu makhluk apaan Tera! Kenapa warna ungu! Jin apa itu! Penunggu di rumah ini!"

Mungkin jika orang lain melihatnya pun akan terkejut seperti dirinya saat ini, Epa tak pernah melihat makhluk aneh seperti itu.

Bentuknya seperti gurita tapi bewarna ungu, belum lagi makhluk itu seperti mengerti apa yang mereka bicarakan.

"Lama-lama gua darah rendah kalo kayak gini, emak mau pingsan dulu ..."

"Eh eh mak! Emak! Emak jangan pingsan dulu dong!" Tera menangkap tubuh Epa yang jauh begitu saja."Lava! Malah bengong! Cepet telepon polisi!"

"Tera, bukan telepon polisi, tapi ambulan." Piyo membenarkan ucapan dari manusia aneh ini.

"Nah itu! Cepet! Nanti emak kenapa-napa lagi! Emak sadar mak! Jangan mati mak!"

Lava segera mengambil ponsel Terangsang terjatuh, dia segera mencari nomor ponsel yang di tunjuk oleh Piyo untuk menghubungi ambulan."Ini bahaya, bagaimana bisa ketahuan seperti ini, jika emak tahu aku juga bukan manusia apa dia akan tetap menyetujui aku dengan Tera? Atau dia malah akan menjauhkan aku dari Tera. Aku tidak ingin hal itu terjadi. Aku ingin bersama Tera selamanya tanpa berpisah darinya."

Bagaimana cara menjelaskannya pada Epa jika dia bukanlah alien jahat seperti film yang di tonton Tera. Karena manusia menganggap alien itu sama seperti penjahat yang ingin menguasai bumi, padahal itu tidak benar sama sekali.

"Mana yang butuh ambulan!"

"Sini! Masuk ke dalem bang! Cepet Lava, bantuin emak masuk ambulan."

Lava segera membantu memopong Epa, tampak di luar banyak sekali orang yang melihat kejadian ini.

Apalagi mobil ambulan yang masuk ke perumahan. Pasti ada yang sakit.

"Lava elo tinggal aja, gua pergi dulu. Elo harus sembunyiin Piyo dulu! Gua akan coba jelasin ke emak!"

Lagi dan lagi Lava hanya mengangguk saja, dia akan mendengarkan Tera karena dia juga panik saat ini, hanya memikirkan nasibnya yang akan di ketahui oleh Epa.

"Pitu, maafkan Piyo. Andai saja Piyo tahu jika emak akan datang maka tidak akan terjadi seperti ini, tadi Piyo sibuk melamun."

"Tidak apa-apa, Piyo. Ini bukan salahmu. Karena tidak mungkin rahasia kita akan terjaga selamanya. Apalagi kita tinggal di kediaman ini, pasti jika tidak sekarang maka emak akan tahu nanti."

Hanya saja yang Lava khawatirkan nasibnya,"Semoga emak tidak takut padaku dan menyuruhku pergi menjauhi Tera."



Vote→ Comment →Follow

ALIEN (BL)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang