"Emang anji ... sabar Tera, jangan nyumpahin orang ntar kena karma, apalagi emak sendiri. Hedeh ... kenapa nasib gua begini sih! Ketemu sama alien kagak jelas! Di suruh berduaan sama sebulan! Bahkan ..."
"Tera ..."
"Diem! Gua belom selesai ngoceh!" Tera menatap tajam Lava saat ini."Belum lagi di suruh buat terus berduaan sama dia, makan, tidur, bahkan mandi pun harus berada! Emang sial!"
"Tera ..."
"Apa! Kenapa sih manggil mulu dari dari tadi, tunggu gua selesai ngoceh dulu kenapa!"Tera berkacak pinggang saat ini.
"Tera, kau menginjak Piyo."
"Eh?"
"Aduh ... angkat kakimu Tera! Salah satu tanganku kamu injak! Sakit sekali ..."
Tera seketika mengangkat kakinya dan membawa Piyo dalam pelukannya."Ya ampun, sorry sorry ... gua nggak sengaja, maaf ya Piyo. Nggak luka kan?"
Piyo memutar matanya malas."Bagaimana Tera ini, lihatlah tangan Piyo."tunjuknya pada tentakel yang sedikit berbeda warna itu."Sakit sekali, kenapa Tera marah-marah setelah pulang. Bukankan kalian seharusnya sudah baikan?"
"Cih baikan apa! Ni anak buat tambah parah aja! Dah lah, gua mau mandi dulu! Lama-lama gua bisa gila nih tinggal di sini!"Tera membuang Piyo begitu saja membuat Lava harus menangkapnya.
"Astaga, Pitu. Piyo pusing sekali. Kenapa Tera bisa marah seperti itu? Padahal kan tadi Pitu sudah menyusul dan membujuknya."
"Benar Piyo, tapi ... tadi emak mengatakan akan mendukungku untuk bersama dengan Tera. Bahkan dia membuat rencana agar aku tidur bersama Tera, tidur bersama dan bahkan mandi pun bersama." Lava agak malu saat membicarakan kalimat yang terakhir itu.
"Astaga! Kenapa bisa begitu? Bukankah tadi emak sangat marah pada kalian, kenapa dia tiba-tiba saja merestui kalian? Piyo jadi pusing, manusia memang aneh. Bisa berubah dalam sekejap, padahal mereka menganggap kita aneh, tapi lebih aneh manusia!" Piyo mengetuk-ngetuk pundak Lava saat berbicara seperti itu.
"Aku juga tadinya berpikir seperti itu, Piyo. Tapi tidak tahu kanapa dia malah sangat antusias. Apakah emak memiliki kekuatan dalam sikapnya juga? Bisa marah dalam sekejap, baik dalam sekejap dan bahkan merestui ku seperti ini."
Piyo menggeleng,"Pitu, manusia itu makhluk yang tidak seperti kita. Dia tidak bisa melakukan apapun bahkan memiliki kekuatan seperti kita. Jadi tidak mungkin emak memiliki kekuatan seperti itu, Piyo rasa dia melakukan itu karena dia ... mungkin dia tidak ingin melihat Pitu sedih?"
"Bagaimana mungkin seperti itu,"
"Bisa saja, Pitu! Tapi bagus juga, bukankah itu berarti Pitu dapat kesempatan dalam mendekati manusia? Pitu bisa membuat Tera jatuh cinta pada, Pitu!"
"Cinta?"
"Benar! Pitu harus melakukan saran emak supaya Pitu tahu apakah Tera mempunyai perasaan pada Pitu apa tidak, karena waktunya satu bulan, berarti masih ada waktu untuk membuatnya jatuh cinta. Ini kesempatan bagus. Dan jika satu bulan ini Tera tidak berubah, berarti memang dia bukan di takdirkan untuk Pitu!"
"Kau benar, Piyo. Aku harus membuat Tera jatuh cinta kepadaku. Ini satu-satunya kesempatan. Jika dalam satu bulan aku bisa membuat Tera jatuh cinta bukankah itu berarti bagus?"
"Benar sekali! Sekarang bukankah Tera sedang mandi? Jadi Pitu masuk saja, mulai saja dari sekarang!"
"Tapi ... bagaimana jika Tera nanti mengusirku?"
Tahu betul bagaimana Tera, pasti dia akan memukulnya nanti saat dia berada di dalam sana.
"Ancam saja! Kasih tahu saja pada emak! Pasti nanti dia juga akan takut, cepat Pitu! Nanti dia akan selesai dan Pitu tidak akan mendapatkan kesempatan!"
"Ba-iklah ..." Lava agak gugup karena ini sedikit ... tidak usah dibicarakan, yang terpenifn menjalani misi untuk cintanya saat ini.
Piyo tersenyum,"Aduh! Pitu ini sangat polos sekali! Kenapa dia tidak berinisiatif sendiri. Jika tidak berani maka dia tidak akan mendapatkan cintanya Tera! Emak saja sudah merestui, berarti itu adalah kesempatan yang baik!"
Saat dia akan duduk kembali, Piyo dikejutkan dengan pintu terbuka."Astaga! Cepat sembunyi, emak datang! Bahaya sangat bahaya! Jangan sampai emak melihatku!"
Piyo bersembunyi di bawah kursi dengan secepat mungkin.
Epa melihat sekeliling, dia meletakkan makanannya di atas meja."Mana tu anak, apa di kamar?" Ia berjalan mendekat kamar dengan mengendap-endap.
"Kenapa emak sepertinya mengintip sesuatu? Aneh sekali!"Piyo yang berada di bawah kursi lega saat Epa tak duduk di sana. Jika tidak pasti dia akan ketahuan nantinya.
Berbeda dengan Epa, dia melakukan itu karena ingin melihat Tera dan Lava."Seharusnya udah sesuai rencana dong, tapi dimana tua anak? Kenapa kagak ada di kamar? Apa dia ngambek terus enggak pulang ke kos'an? Tapi nggak mungkin, mau ke kos'an mana lagi coba, di sini ada barang-barang dia semua."
"Lava anjing! Keluar lo dari sini! Gua gibeng ya lo!"
Epa membalikkan tubuhnya, ia menampar pipinya pelan."Widih, gercep juga si Lava! Baru di tinggalin bentar udah langsung masuk kamar mandi aja, intip jangan intip jangan? Intip dikit nggak apa-apa kalo ya?"
Epa berjalan pelan ke arah kamar mandi, dan mendengar jika ada suara Tera yang tengah marah-marah saat ini."Tapi gimana cara ngintipnya kalo kagak ada lubang gini, di atas ada, masa harus ngambil kursi dulu! Nanti kalo jatoh bisa encok ni badan!"
Ia hanya berdecak dan pergi kedapur sambil membawa kursi."Yang penting ngintip!"
Di dalam sana, Tera tengah menutup dirinya sendiri dengan handuk. Tiba-tiba saja Lava masuk ke dalam kamar mandi. Apalagi kali ini dia tidak berpakaian sama sekali.
"Kenapa di sini sih! Bukan berarti elo harus nurut kata emak! Tunggu gua selesai dulu baru elu masuk! Bukan mandi sama gua!"
Lava menggeleng, "Kau tidak mau. Aku ingin mandi juga. Bukankah kata emak kita bisa mandi berdua? Aku hanya mengikuti kata emak saja." Wajahnya memerah saat melihat Tera yang hanya mengenakan handuk seperti itu.
"Ya nggak bisa lah Lava! Alien! Bodoh apa gimana! Elo masih normal kan! Yang elo ngomongin itu cuma main-main aja kan?! Jangan gini dong, gua risih kalo elo gini sama gua!"
"Tidak, Tera. Aku tidak berbohong, aku ..."
"Udahlah sana! Elo keluar atau gua yang keluar!"marahnya. Melihat Lava yang tidak bergerak. Tera ingin pergi dari sama tapi Lava membentangkan tangannya."Apa sih lo?!" Tera mundur saat Lava mendekatinya."Mau apa hah!"
Lava melihat Tera lebih dekat?"Kau bilang kau normal bahkan? Berarti jika hanya seperti ini tidak akan terjadi apapun saat kita mandi bersama seperti ini."
Tera meneguk ludahnya dengan kasar."Kenapa si Lava jadi laki banget kayak gini? Sialan emang!" Ia mendorong Lava."Ya udah tapi jangan deket-deket juga, owk mandi berdua! Lagian nggak akan ngaruh apa-apa sama gua!"
Vote →Comment→ Follow
KAMU SEDANG MEMBACA
ALIEN (BL)
HumorTera Parama. -Siswa SMK yang lagi magang. -Suka Drakor. -Anak kesayangan Emak. -Nggak suka Lava. Phi Lava -Alien nyasar ke Bumi. -Melindungi harta berharga. -Tidak terlalu mengerti dunia manusia. -Suka Tera. Semesta itu rahasia, kehidupan didalamny...
