"Aduh Mak ... udah jangan jewer lagi, sakit ... kan Jonson nya udah pulang juga ... lepasin ya ..." Tera menahan rasa sakit di telinganya saat ini karena Epa yang menjewernya.
"Baru pulang! Udah malem baru pulang! Kemana lu bawa Jonson Tera! Dia belum mandi, belum makan, belum tidur! Malah elu ajak keluyuran!" Epa tidak tahu lagi kenapa dengan anaknya ini.
Epa marah karena Tera lupa memberi makan Jonson. Sungguh anaknya ini keterlaluan.
"Maaf, Mak. Namanya juga lupa. Tadi kagak sempet belinya." Tera berdecak."Si Lava, Oren sama Varel enak bener sembunyi! Gua yang kena tumbal Emak! Kenapa juga sih mereka kagak ingetin kalo harus beli makan Jonson dulu, lagian Jonson makannya harus yang mahal, tulang aja kagak mau tu kucing!"
"Udah sono, mandi! Bah apek lu, ayok nak. Kita masuk. Belom makan ya anak Emak, kasian banget." Epa mengelus kepala Jonson dan menutup pintu dengan kerasnya.
"Si Jonson! Enak bener tu kucing hidupnya, kagak pernah kena marah Emak! Lah gua! Tiap hari di marahin Emak! Eh tapi apa bener ya bau apek?" Tera mencium keteknya."Biasalah kan belom mandi!"
"Balik aja lah,"
Hari ini benar-benar begitu melelahkan.
Ravel dan Rendy tak ikut pulang, mereka ingin menjual mobil yang baru mereka tumpangi tadi, takut jika Victor malah melacak keberadaan mereka. Tak tahu apakah dia masih hidup atau tidak tapi lebih baik berjaga-jaga saja.
Sebenarnya Varel ingin membuang mobil itu, tapi Tera tak mengizinkannya. Dari pada di buang lebih baik di jual saja dan uangnya bisa diberikan padanya.
"Eh, Piyo. Udah sehat kah, gua nggak ada tempat tidur yang lain. Jadi tidur di sofa aja ya?"
Bisa Tera lihat jika Piyo masih memakan Pete di sofa itu.
Bukannya Tera tak mengizinkan Piyo untuk tidur di kamarnya. Tapi ia takut Piyo tertindih. Apalagi dia kecil.
"Tidak apa-apa manusia! Piyo bisa di sini, di sini cukup nyaman."
"Elo nih ya, kayak sama siapa aja, jangan panggil gua manusia, panggil aja gua Tera. Lava kan juga manggil gua, Tera. Oh iya, Piyo. Jadi setelah ini, elo sama Lava akan balik lagi ke planet kalian?"
Piyo seketika murung,"Itu yang kami pikirkan Tera, manusia jahat tadi sudah membongkar kendaraan kita. Jadi kami tidak tahu bagaimana bisa kembali ..."
"Gitu ya ..."
Kasihan juga melihat mereka yang harus berada di sini,"Gua bukan ngusir elo. Tapi ... elo tahu kan kalo elo itu Alien? Bumi ini bahaya banget bagi kalian. Apalagi Piyo nggak bisa berubah kayak Lava. Kalo nanti ada uang nggak sengaja ketemu sama Piyo nanti gimana? Pasti bakalan viral dan orang jahat akan manfaatin kalian lagi."
"Benar sekali, Tera. Itu lah yang kami pikirkan. Tapi kami tak mungkin kembali. Di planet kami, Pitu juga menjadi incaran oleh para Pitu-Pitu yang lain."
Tera mengeratkan keningnya."Maksudnya gimana?"
"Tera pernah melihat benda yang dikeluarkan oleh Pitu dari dadanya?"
Tera berpikir sebentar, ia mengangguk semangat."Yang kayak berlian itu kan?"
"Benar! Itu adalah benda berharga dari planet itu. Sebenarnya itu adalah batu yang diperebutkan. Kami membawa batu itu agar mereka tak bisa mengambilnya. Mereka ingin menguasai tempat tinggal dan rakyat Pitu!"
"Rakyat Pitu? Jadi ... Lava itu ibaratnya kayak raja ya di planet kalian?"
"Benar sekali! Tera begitu pintar! Di planet kami, seperti kerajaan. Pitu seperti putra mahkota yang biasanya diucapkan oleh para manusia jaman dulu. Mereka ingin menguasai kedudukan Pitu di sana dan menyerang planet lain seperti manusia!"
"Yang bener lo!"
"Tentu saja benar, Tera! Makanya itu kami kabur dari planet kami, dan membawa batu yang berbentuk berlian itu agar mereka tak bisa menembus dimensi pemisah antara planet kami dan planet kalian! Karena batu itu juga kunci untuk membuka dimensi portal kita!"
Tera jadi merinding jadinya."Kalo manusia bener-bener di serang sama Alien! Bisa kiamat dunia, hedeh ... denger cerita elo lama-lama gua puyeng ini!"
"Gua mandi dulu, ya Piyo. Kalo Pete nya kurang ambil aja di lemari dapur. Di sana ada banyak."
"Baiklah! Terima kasih Tera!"
"Sama-sama," Tera rasanya sudah lelah dan mengantuk sekarang.
Ia segera mengambil handuk dan berjalan ke arah kamar mandi. Baru saja dia membuka pintu kamar mandi ia dikejutkan dengan Lava yanb berada di dalam sana.
"Aduh mata gua ternodai! Kenapa elo kagak bilang sih kalo ada di kamar mandi! Kan gua nggak akan masuk kalo elo ada!"
Lava menatap Tera dengan wajah yang memerah. Ia juga terkejut saat Tera masuk dengan begitu tiba-tiba.
"Lain kali kalo mau mandi ya dikunci pintunya!"
Dengan masih menutup mata, Tera mencoba berbalik tapi ia tak sengaja menginjak sesuatu yang licin hingga tubuhnya oleng.
"Aaaa! Emm!"
"Aaaa! Emak tolong!"
Tera melotot saat dia jatuh di atas tubuh Lava.
Lava hanya tercengang saat tiba-tiba saja Terasa malah menamparnya.
"Dasar mesum! Lagi-lagi elo mesum ya! Balik sono ke planet elu!" Wajah Tera memerah. Ia segera berlari menuju kamarnya meninggalkan Lava yang kebingungan sendiri.
"Padahal aku tidak melakukan apapun, kenapa Tera marah? Astaga, pipiku terasa sakit seperti ini,"Lava hanya bisa mengusap pipinya yang memerah.
Voted → coment →follow
KAMU SEDANG MEMBACA
ALIEN (BL)
HumorTera Parama. -Siswa SMK yang lagi magang. -Suka Drakor. -Anak kesayangan Emak. -Nggak suka Lava. Phi Lava -Alien nyasar ke Bumi. -Melindungi harta berharga. -Tidak terlalu mengerti dunia manusia. -Suka Tera. Semesta itu rahasia, kehidupan didalamny...
