Baru saja Varel membuka pintu kos'an Tera, ia bisa melihat jika Tera tengah mengejar Lava sekarang.
Kenapa terus saja Lava,"Apa bagusnya Lava, bahkan dia bukan manusia. Kenapa Tera terus saja dekat dengannya!"
Panas! Hati Varel sungguh panas melihat pemandangan ini. Tak bisa lagi! Ia harus segera mengatakan perasaannya pada Tera sebelum Tera berpaling hati dan memilih Lava.
"Ngapain sih berdiri di pintu? Kenapa kagak masuk coba!" Rendy yang berada di belakang Varel heran melihat Varel terdiam di tengah-tengah pintu ini.
Varel berdecak, kenapa selalu saja Rendy ini menganggunya.
"Itu kenapa lagi? Tera! Kenapa lu main kejar-kejaran sama Lava?" Rendy masuk mendahului Varel. Kakinya terasa pegal dan tubuhnya berkeringat sekarang. Ingin sekali membersihkan diri.
Tera dan Lava berhenti, mereka saling menatap satu sama lain.
"Awas aja lu kalau kasih tahu mereka! Gua gibeng lu nanti!"Tera menunjuk Lava seolah ingin memukulnya "Nanti si Lava bilang lagi kalo kita nggak sengaja ciuman! Nanti bahaya kalo sampe Oren ngadu sama Emak! Bisa-bisa duit jajan gua di potong!"
Nggak kenapa-napa, Oren. Si Lava makannya banyak banget, sampe nggak sisain untuk kita, padahal itu untuk makan malem."
Rendy hanya menggeleng pelan,"Kirain apaan, biarin aja di Lava makan Tera, pesen aja yang lain. Tahu sendiri kan di Lava masih lemah. Udah, elu pesen yang baru."
"Oren yang bayarin ya!"
"Aman itu, udahlah, gua mau mandi bentar ya, gerah banget dari tadi kagak nyentuh air."
"Siap! Mandi aja,"Tera segera mengambil ponselnya."Ada gunanya juga gua bilang gitu tadi, kan sekarang udah di traktir Oren makan! Pesen apa ya?"
Lava menghela nafas, syukurlah Tera tak lagi mengejarnya. Jika tidak pasti akan sampai pagi, kondisinya belum pulih, itu akan membuatnya terlalu lelah.
"Tera, aku ingin mengatakan sesuatu."
Tera mendongak,"Ngomong apandah? Ngomong di sini aja, Rel." Ia kembali melihat ponselnya dan memilih makanan.
"Tidak, ini penting. Aku ingin mengatakannya padamu tanpa ada satu orang pun yang menganggu." Varel melirik Lava sinis.
Lava yang juga dapat melihat tatapan tak suka dari Varel tak bisa tak menghela nafas."Sepertinya manusia ini tidak suka padaku. Tapi apa yang aku lakukan? Aku bahkan tak melakukan apapun."
Tahu betul sejak pertama Varel datang ke sini, tatapannya sungguh sangat tajam pada dirinya. Lava pikir ada yang salah dengan manusia satu ini.
Jika Tera marah karena tak sengaja di cium, tapi dirinya tak tahu kenapa Varel marah padanya. Padahal mereka tak bermusuhan ataupun yang lain. Atau ini karena ayahnya? Tapi tidak mungkin. Varel saja membantu mereka untuk kepas dari jeratan ayahnya yang kejam itu.
"Apa, Rel? Gua lagi pesen makanan untuk kita, elo mau apa? Si Lava kagak perlu di tanya, pasti dia suka yang ada petenya. Kalo elo? Mau makan apa? Gua nggak tahu apa yang elo suka."
"Aku tidak mau makan, aku hanya ingin berbicara padamu. Tera ikut aku sebentar," Varel menarik tangan Tera untuk mengikutinya keluar.
"Eh? Rel mau kenama? Gua lagi pesen makanan ini!"
"Itu tidak penting, ini lebih penting."Varel membawa Tera untuk pergi ke luar dan mereka tiba di bawah pohon. Meskipun ini tidak ada romantis-romantisnya, tapi Varel terpaksa. Jika tidak maka pasti Tera akan berpaling hati.
"Oke, udah kan? Sekarang mau ngomong apa? Jangan buat takut ya? Lagian kenapa harus di sini sih? Di kamar kek, kan lebih nyaman! Di sini banyak nyamuknya!"
Varel menggeleng."Jika di dalam pasti akan menggangu, jadi di sini saja. Aku mau mengatakan hal yang serius padamu."
"Iya gua tahu, dari tadi elo juga bilang gitu, tapi belom juga ngomong. Mau ngomong apa Varel?" Juan melipat tangannya di dada."Aneh banget si Varel, kagak biasanya dia gugup gini, apa dia ada masalah ya? Oh kek nya dia mah numpang di sini lagi deh! Apalagi bokapnya kan lagi nyari dia, dan mungkin duit dia juga di sita sama bokapnya, apalagi dia nembak bokapnya sendiri. Pasti si bokapnya nggak bakalan tinggal diam! Kasian juga, bukan nyumpahin nggak ada, tapi semoga aja bokapnya Varel kagak berulah lagi, kan kasihan juga Piyo sama Lava!"
"Itu ..." Varel mengambil nafas dalam-dalam, ia gugup tapi tak peduli. Ia harus mengatakannya sekarang."Tera, sebenarnya aku sudah lama ingin mengatakan ini padamu. Maaf jika kau baru mengetahui jika aku gay ..."
"Kan gua udah tahu kalo elo gay? Jadi apa lagi Varel? Gua kan nggak akan ngejek atau hina lo juga, jadi nggak usah dipermasalahin lagi."
"Bukan! Bukan seperti itu, tolong jangan di sela dulu."
"Oke, maaf. Lanjutin lanjutin!"
Varel hanya bisa menghela nafas, kenapa Tera ini tidak bisa menunggunya selesai bicara.
"Sebenarnya, aku ingin jujur padamu Tera, sebenarnya aku selama ini suka ..."
"Hantu! Tera! Tolong ada hantu di kamar mandi!"
Varel melebarkan matanya, kenapa selalu saja Rendy menghalanginya. Lihatlah sekarang dia keluar hanya menggunakan handuk saja.
"Rendy ini!"
"Hah apa?!" Tera tercengang mendengar itu, "Jadi selama ini elo suka sama Oren, Varel?"
Varel melotot, kenapa Tera mengatakan hal itu. Dia bahkan tak mengatakannya.
"Oh my my! Elo suka sama om gua!"
Vote→ Comment→ Follow
KAMU SEDANG MEMBACA
ALIEN (BL)
HumorTera Parama. -Siswa SMK yang lagi magang. -Suka Drakor. -Anak kesayangan Emak. -Nggak suka Lava. Phi Lava -Alien nyasar ke Bumi. -Melindungi harta berharga. -Tidak terlalu mengerti dunia manusia. -Suka Tera. Semesta itu rahasia, kehidupan didalamny...
