Alien-38

330 31 2
                                        

Tera menutup mulutnya tak percaya mendengar apa yang di katakan oleh Varel."Jadi selama ini elo suka sama om gua, Rel!"

Varel menggeleng,"Bukan itu maksudnya, Tera. Aku suka padam ..."

"Tera! Itu apaan di kamar mandi! Dia nyolek-nyolek kaki gua!" Rendy memeluk Tera dengan eratnya.

"Apasih om!"

"Takut, Tera! Di sini ada hantu!"

"Mana ada hantu sih! Orang tadi kagak ada apa-apa juga! Salah kali," Tera melepaskan pelukan dari Rendy. Ini lebih penting dari pada hantu.

"Jadi apa dong kalo bukan hantu?"Rendy bergidik ngeri, siapa yang memegang kakinya tadi.

"Manusia! Manusia!"

Mereka seketika melihat ke bawah, tampak ada Piyo yang sedang memegang kaki Rendy.

"Maaf tadi Piyo mengejutkan kamu! Tadi Piyo mau keluar tapi malah tidak bisa di buka pintunya."

Rendy menghela nafas lega, ia kira tadi itu apa."Kenapa nggak bilang sih! Kan kalo bilang nggak jadi gini!" Rendy membetulkan letak handuknya.

Piyo memutar matanya malas."Siapa suruh kamu bernyanyi di dalam kamar mandi! Kan kamu tidak mendengar suara Piyo!" Piyo berdecak."Bahkan suaranya tidak bagus!"

Rendy tertegun mendengar itu, kenapa Piyo malah membocorkan rahasianya. Lihat bukan ia jadi malu sekarang."Ya udah deh, gua mau lanjut mandi dulu kalo gitu."

"Tunggu, Oren! Jangan pergi dulu!" Cegat Tera, ia ingin memberitahu Rendy sesuatu yang mengejutkan dirinya.

"Apaansih? Kan gua mau mandi, Tera. Nanti aja ngomongnya, kedinginan nih."

"Tunggu, ini penting. Tadi Varel bilang katanya dia suka sama Oren!"

"Oooo, gua kira apaan!" Rendy mengangguk, tapi detik kemudian seketika ia melebarkan matanya."Apa? Varel suka sama gua?"

Tera mengangguk, jangankan Rendy. Bahkan ia juga terkejut mendengar pengakuan dari Varel.

Rendy menatap Varel dengan tatapan tak percaya."Ni bocah terang-terangan bener dah! Kenapa dia bilang sama Tera! Gua pikir dia cuman bercandaan doang suka sama gua, nggak tahunya malah beneran! Emang ya pesona Rendy bikin siapa aja klepek-klepek! Bahkan laki aja jadi suka!"

"Tera, aku tidak suka padanya. Kau salah paham, aku suka padamu."Varel bertambah panik, ja menatap tajam pada Rendy yang masih berada di sana.

Tera menggeleng pelan,"Nggak usah ngeles deh, Rel. Ya ampun, Rel. Kalo gua tahu elu suka sama Oren, dari lama udah gua bilang sama dia! Atau jangan-jangan selama ini elo deketin gua karena ngincer Oren gua lagi! Orang lain kan banyak, Rel. Kenapa harus Oren gua sih! Elu tahu kan kita temenan, gua nggak mau elu jadi om  gua!"

Walaupun gay itu salah, dan mungkin tak semua orang bisa menerimanya. Tapi Tera tak begitu, ia hanya memaklumi saja jika ada orang-orang seperti itu di sekelilingnya."Tapi nggak Oren gua juga! Bener sih Varel kaya, banget malahan! Sering ngasih gua apa aja, tapi masa dia ujung-ujungnya jadi om gua juga!"

Entahlah apa itu namanya, yang terpenting Tera tak mau jika om nya mendapatkan pacar teman baiknya ini."Pantesan aja ni anak terus perhatian, nggak tahunya ngincer om gua!"

"Besok kita omongin lagi ya, Rel. Gua puyeng dengernya." Siapa yang tak terkejut tiba-tiba saja sahabat baiknya berbicara jujur jika dia menyukai keluarganya sendiri.

Melihat kepergian Tera, Varel hendak mengejar tapi dia di halangi oleh Rendy.

Mata Rendy menyipit melihat Varel yang berada di depannya ini."Berapa lama elu suka sama gua, Rel? Jangan bilang dadi pertama kali elu ke kos'an Tera dan liat gua, dari sana ya elu suka sama gua?"

"Gila, aku tidak suka padamu! Aku suka pada Tera! Kau salah paham, aku tidak mengrjarmu sama sekali," Varel ingin sekali memukul wajah Rendy yang begitu sombong itu. Lihatlah betapa narsisnya dia.

"Jujur aja kenapa sih! Gua Udah nanya ribuan kali sama elo! Suka sama gua kan? Nggak apa-apa kok. Tapi maaf ya, mungkin elo akan sakit hati, gua belum ada perasaan apapun sama elo." Rendy menepuk pundak Varel.

Tepisan Varel lakukan agar Rendy tak mendekatinya."Kenapa jadi seperti ini! Aku ingin mengaku pada Tera, kenapa dia pula yang berbicara seperti itu, bagaimana ini, Tera pasti salah paham padaku. Dia pasti sudah mengira aku suka pada bajingan ini!"

Varel sungguh frustasi sekarang. Kenapa bisa hal seperti ini terjadi.

"Tunggu aja ya, gua mungkin belom njka hari sekarang. Tapi nggak tahu kalo nanti." Rendy tersenyum tipis, tapi entah kenapa hatinya merasa berbunga-bunga mendengar apa yang dikatakan oleh Varel."Elu normal, Rendy! Kenapa dah hati gua jadi dag dig dug gini! Apa gua juga suka ha sama Varel? Tapi nggak mungkin! Varel kan cowok dan gua juga normal, sejak kapan gua jadi belok gini!"Rendy menghela nafas."Tapi kasihan juga Varel, dia udah berani ungkapin suka ke gua, pasti tu anak lagi mau curhat sama Tera, karena mulut Tera bocor jadi dia kagak ngaku. Emang Tara nggak bisa jaga rahasia."

Melihat Varel yang akan pergi, Rendy memegang tangan laki-laki itu."Rel, gua mungkin nggak akan jawab sekarang. Tapi gua pastiin kalo jawaban yang gua kasih nggak akan bikin elo sakit hati, kalo gitu gua mandi dulu ya."

"Gila!"

Voted→coment →follow

ALIEN (BL)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang