"Pantesan nggak liat Varel dari kemarin, ternyata Varel lagi ngurus bokapnya. Oren, menurut Oren berarti seluruh kekayaannya bokapnya bakal jadi milik dia nggak?"bisik Tera saat ini.
Ia tengah berada di kediaman berak saat ini, bisa di lihat sedari tadi banyak orang yang berdatangan ke kediaman ini, mungkin rekan bisnis dari keluarga Varel.
"Tera, kenapa ngomong gitu. Orang lagi berduka malah di omongin kayak gitu, tapi keknya iya sih, secara dia anak tunggal. Mungkin semua asetnya punya dia lah, nggak mungkin kan punya orang lain." Rendy mengangguk setuju.
"Katanya tadi lagi berduka!"Tera memutar matanya malas, Rendy ini sama saja.
"Udah udah udah, jangan ngomong lagi ..."
"Tera? Kau datang juga, maaf tadi aku harus melayani orang-orang
itu dulu." Varel tersenyum sumringah menatap Tera yang berada di sini. Ia tidak menghiraukan Rendy yang berada di samping Tera itu.
"Varel, gua turut berduka ya, nggak tahu kalau bokap elo udah ... ya gitu lah." Tera tidak tahu apa lagi yang bisa ia ungkapkan.
"Tidak apa-apa, itu sudah berlalu. Sudah takdir. Pagi pula bagus juga jika dia tidak ada." Varel tidak peduli sebenarnya. Jika saja jika para rekan bisnis dari ayahnya itu tidak mencarinya maka ia juga tidak akan datang."Kau mau apa? Di sini ada makanan yang banyak," tahu betul jika Tera suka dengan makanan.
"Rel, gua ada di sini lho. Tegur kek, sapa gitu. Kek nggak ada orang aja. Calon loh ini!" Rendy melambaikan tangannya di depan wajah Varel. Tapi sang empu tak juga berkutik."Kek anggep gua nggak ada aja, padahal maha aslinya klepek-klepek! Gimana sih si Varel ini!"
Varel hanya diam, dia tidak ingin berbicara dengan Randy saat ini."Dia selalu saja mengganggu waktuku saat bersama Tera, belum lagi dia berbicara tidak jelas. Dasar orang aneh, Tera kenapa kau mempunyai keluarga yang aneh. Apa tidak bisa hanya menyukaimu saja tanpa hambatan dara hama ini, ku rasa hanya kau dan emak saja yang normal. Orang di sekitarmu tidak ada yang normal. Mungkin dia salah satu alien yang lepas seperti Lava Lava itu!"
Kesal sekali rasanya Varel saat ini, dia terus saja di teror oleh Rendy yang mengatakan jika harus menunggu cintanya, padahal Varel sama sekali tidak suka padanya.
"Wah, jadi enak ... eh maksudnya jadi nggak enak, makasih ya, Rel. Boleh deh, lagi laper soalnya. Tadi ke sini buru-buru belom makan." Tera sudah menunggu Varel berucap seperti ini sedari tadi. Karena orang-orang yang berlalu-lalang jadi tak enak saja harus makan jika Varel belum menyuruhnya.
"Tidak apa-apa, ikut aku. Di sini sudah banyak di ambil banyak orang. Di dalam saja, lebih higienis." Varel memegang tangan Tera dan masuk bersama ke dalam.
Rendy yang melihat itu berkacak pinggang."Varel ini kenapa ya? Kenapa ngacuhin gua sedari tadi, apa gara-gara dia marah karena gua lama nerima dia ya?" Ia hanya bisa menghela nafas."Emang ya orang ganteng susah bener buat nentuin pilihan. Gua sih nggak apa-apa kalo ngengay tapi kan nggak langsung ngengay juga, kan harus proses dulu! Agak gimana gitu kalo gua nerima si Varel langsung. Kasihan juga tu anak, bokapnya baru aja pergi pasti dia tambah sedih, apalagi gua belom juga nerima perasaan dia. Ya walaupun sih dia benci sama bokapnya, tapi kan tetep aja tuh dia tetap orang tuannya si Varel." Rendy mengusap dagunya.
"Apa yang harus gua lakuin ya? Terima atau enggak? Kalo gua terima pasti tu anak seneng dan nggak akan marah lagi karena perasaannya udah terbalaskan. Tapi pasti ada efek sampingnya itu! Belom lagi masalah kak Epa! Dia kan masih marah sama Tera karena tu anak di kira gay sama dia, kalau sampe dia tahu gua juga gay apa dia bakalan marah ya?"
"Hedeh ..."Rendy mengusak kepalanya frustasi."Gini bener nasib orang ganteng, mikirnya nggak bisa satu-satu! Tolong kasih jawaban gua yang tepat supaya si Varel enggak marah dan kak Epa juga enggak tersinggung!"
Tera yang melihat Rendy berbicara sendiri dari kejauhan hanya menatap omnya itu dengan kebingungan."Tu anak kenapa dah? Kenapa kayak ngomong sendiri? Bukannya masuk ke sini,"
"Entahlah, tapi tidak usah dipedulikan. Tera, aku ingin mengatakan satu hal padamu." Varel menatap Tera sendu."Aku tidak menyukai dia, aku menyukaimu. Benar-benar hanya kau ..."
"Udah, Rel. Gua tahu kok." Tera menghentikan Varel sebelum dia berbicara lebih banyak."Nggak usah ngomong lagi, pasti elo malu kan? Gua nggak apa-apa. Jujur gua nggak apa-apa. Tapi keknya cinta alo agak sulit deh, Rel." Ia hanya bida menghela nafas, apalagi mengigat Epa yang tidak menyukai orang yang seperti itu."Emak anti banget sama yang namanya belok, pasti elo akan susah ngejarnya. Gua cuma bisa kasih semangat aja."
Varel tercengang apa yang dikatakan oleh Tera ini,"Emak tidak suka pada orang yang belok?" Berarti ada hambatan jika dia dekat dengan Tera nantinya?
"Bener, emak nggak suka." Belum lagi Epa masih marah padanya."Emak nggak pernah semarah ini sama gua, lama banget lagi marahnya! Kenapa sih pake salah paham gini! Kan jadi sedih marahan sama emak gini!"
Vote →Comment →Follow
KAMU SEDANG MEMBACA
ALIEN (BL)
HumorTera Parama. -Siswa SMK yang lagi magang. -Suka Drakor. -Anak kesayangan Emak. -Nggak suka Lava. Phi Lava -Alien nyasar ke Bumi. -Melindungi harta berharga. -Tidak terlalu mengerti dunia manusia. -Suka Tera. Semesta itu rahasia, kehidupan didalamny...
