Susah payah Tera menghubungi Varel hingga akhirnya ia bisa bertemu juga dengan laki-laki itu, saat ini mereka berada di taman. Sesuai dengan janji mereka yang ingin bertemu disini.
"Jadi kangen sama elo, lama banget elo udah nggak kekos'an gua, Rel."
Varel tersenyum tipis,"Benarkah? Kau rindu padaku, Tera?" Hatinya yang tadinya kurang kembali pulih saat mendengar ucapan Tera."Aku juga merindukanmu."
"Lah, kenapa jadi gitu, jangan senyum-senyum lo!" Baru saja Tera berucap seperti itu Varel sudah memulainya kembali."Gua kesini karena mau ngabarin elo sesuatu, Rel."
"Mau mengatakan apa?"Varel memperhatikan Tera dengan senyum yang tidak pernah pudar.
"Soal masalah elo sama Oren, gua udah tahu sekarang apa yang terjadi."
"Maksudnya apa, Tera?"
Sebenarnya Varel malas sekali membahas tentang ini, apalagi berkaitan dengan Randy yang notabenenya adalah pembuat onar itu, memisahkannya dengan Tera.
"Gua mau ngomong sama elo, tapi semoga aja elo nggak masukin ke dalam hati." Tera menghela nafas pelan."Gua udah tahu sekarang kalo elo emang beneran suka sama gua, Rel."
Varel melebarkan matanya tak percaya."Jadi kau menerima cintaku, Tera?"
Tera menggeleng,"Maafin gua, Rel. Gua udah bilang kalo gua bukan gay, dari pertama elo tahu kan kalo gua bukan gay, walaupun misalnya gua jadi gay, gua nggak bisa suka sama elo karena kita ini temen. Nggak ada perasaan lebih, Rel. Gua nggak bohong."
Karena Randy sudah menceritakan semuanya, sudah berhari-hari omnya itu lesu dan tidak lagi seceria seperti dulu.
"Tapi Oren? Oren beneran suka sama elo, gua harap elo bisa menerima perasaan Oren."
"Tapi Tera aku ..."
"Gua belum selesai ngomong, Rel. Gua mau ngasih tahu sesuatu lagi," Tera menunduk."Oren bakalan pindah."
"Apa? Kenapa bisa?"
"Ya bisa karena dia mau pindah, dia mau mulihin hari dia yang sakit katanya, dan sore ini dia bakalan pergi dan nggak akan kembali. Gua juga sedih karena nggak akan ketemu sama Oren lagi, dia bakalan ke kampung nenek gua. Mungkin kita bakalan ketemu lagi kalo udah kangen. Dan sekarang Oren nyerahin kontrakannya ke gua buat gua jaga, gua nggak nyuruh elo buat buka hati lo kok. Tapi kalo misalnya ada sedikit rasa di hati elo buat Oren, gua mohon jujur ke dia biar dia nggak jadi gapergi dan pindah. Elo tahu sendiri, gua ... gua udah deket sama dia dari kecil. Dia kayak bapak gua, Rel."
Tera menepuk pundak Varel yang tampak termenung."Gua harap elo ngambil keputusan sebelum jam empat sore ini, penerbangannya sekitar jam limaan, gua sama emak mau nganterin Oren kebandara. Gua pergi ya, Rel."
Varel tak menjawab, sibuk dengan pikirannya yang berkelana.
Setelah hari itu, Randy selalu saja datang kerumahnya tanpa merasa malu, laki-laki Itu terus saja membawakan dia makanan dan terus saja membujuknya dengan caranya tersendiri. Dan sedikit membuatnya membuka hati.
Varel salut dengan Randy yang tidak menyerah, tapi sekarang dia sudah menyerah?
"Tapi aku ... Tera?"
Bagaimana perasaannya pada Tera, Varel suka pada Tera tapi dia juga sedikit mengangumi Randy.
"Kenapa aku jadi bingung seperti ini." Ia melihat jan dipergelangan tangannya, ini sudah mau jam empat dan Randy pasti sudah bersiap-siap untuk pergi.
"Tera, kenapa kau membuatku ingin seperti ini, dan kenapa kau tidak bisa menyukai aku?"
Sudah sedari lama ia mengejar Tera, tapi masih sama, jawaban Tera tetap menolaknya.
"Aku harus apa?"
Dikontrakkan Randy, saat ini dia sedang berkemas dan melihat barang apa saja yang sudah dibawa dan belum dibawa, ada koper dan tas yang sudah disiapkan dari lama, bahkan semuanya juga sudah siap, hanya menunggu sebentar lagi untuk pergi ke bandara.
"Hati-hati ya, Ran. Elu harus jaga diri disana, ke apa harus pergi sih? Kenapa nggak tinggal di kontrakan elu yang di desa sebelah?"Epa sungguh tersiksa saat ini."Kita udah tinggal bareng jasa elu pergi ninggalin gua sama Tera, apa kagak kangen entar sama kita?"
Randy tersenyum tipis dan memeluk kakaknya itu."Sekarang udah canggih, bahkan bisa video call, nanti kalo udah sampe kita bisa video call, kak. Randy mau disini terus, tapi hati Randy enggak bisa karena terus ingat sama Varel. Randy mau ilangin ingatan Randy yang suka sama Varel, kak."
Tatapannya beralih pada Piyo dan Lava."Kalian harus inget ya, harus jaga kakak sama Tera. Pokoknya jangan sampe mereka kenapa-napa."
"Aku paham." Lava mengangguk, dia akan melakukan semua itu, apalagi mempunyai kekuatan yang bisa memulihkan, jadi semakin yakin bisa menjaga Epa dan Tera.
"Nanti Oren akan kembali?"tanya Piyo membuat Randy terdiam.
"Setelah hati gua sehat, gua akan balik lagi, Piyo. Tolong jagain mereka ya, inget juga jangan sampe ketahuan sama manusia. Nanti elu di culik lagi!"
Piyo mengangguk, ada air di matanya menandakan ia sedih saat ini."Aneh sekali, kenapa Varel tidak menerima Oren saja."
"Kita nggak bisa maksa hati orang, Piyo." Randy menutupi matanya."Kalo dia nggak suka, pasti seumur hidup bakalan nggak suka."
"Manusia memang aneh!"heran Piyo.
"Taksinya udah dateng, kita pergi sekarang?"tanya Tera yang dianguki oleh Randy.
Randy segera membawa koper dan tasnya."Gua harap, gua bisa lupain elu, Rel. Walaupun kayaknya susah buat lupain elu karena nama elo selalu ada di hati gua."
Vote→ comment →follow
KAMU SEDANG MEMBACA
ALIEN (BL)
HumorTera Parama. -Siswa SMK yang lagi magang. -Suka Drakor. -Anak kesayangan Emak. -Nggak suka Lava. Phi Lava -Alien nyasar ke Bumi. -Melindungi harta berharga. -Tidak terlalu mengerti dunia manusia. -Suka Tera. Semesta itu rahasia, kehidupan didalamny...
