Tera jadi tak konsentrasi sekarang karena memikirkan nasib Oren dan sahabatnya itu."Lava, menurut elo. Gimana misalnya saudara elo atau sepupu elo jadi gay?"
"Gay? Apa itu?"
Tera memutar matanya malas."Bener juga, ngapain juga gua tanya elo. Elo kan alien, mana ngerti soal gay beginian."
Lava hanya mengusap pipinya saja. Ia tak tahu banyak istilah mengenai itu.
"Piyo tahu, Tera! Itu seperti suka pada golongan yang sama bukan! Seperti suka pada satu jenis, misalnya laki-laki menyukai laki-laki!"
"Nah, ternyata Piyo lebih pinter dari pada elo, Lava. Kenapa nggak nanya sama elo aja dari tadi."
Piyo tertawa pelan."Sebenarnya, Lava tidak mengerti karena belum berumur legal untuk memiliki pendamping hidup!"
"Eh? Jadi planet elo kayak gitu, kalo udah legal baru boleh tahu tentang pasangan gitu?"
"Benar! Karena kami hanya memilih pasangan satu untuk seumur hidup, jadi demi menjaga Pitu agar dia hanya setia pada pasangannya saja nanti. Dan soal menyukai sesama jenis ... kami juga ada, tapi jika di planet bumi pihak laki-laki tak bisa hamil. Maka di planet kami bisa!"
Tera hanya mengangguk saja,"Iyain. Gua juga nggak mau bahas planet kalian. Terlalu rumit banget! Ngomong-ngomong, karena gua kalian ada di sini, gua mau bahas soal kemarin, kalian mau balik nggak ke planet kalian? Kalian tahu sendiri kalo bumi nggak akan pernah aman. Apalagi kalian Alien. Gua cuma takut kalian ke tangkep dan di jadiin bahan penelitian."
Lava menatap Piyo."Tera, jika kami tetap berada di sini. Apakah ada masalah? Maksudku. Di sini sangat nyaman. Tidak seperti planet kami. Bolehkah?"
Piyo juga mengangguk antusias."Benar, Tera! Boleh ya jika kami berada di sini saja, kami akan berjanji jika tidak akan muncul di depan manusia lain. Dan tidak akan menganggu manusia juga."
"Gua sih oke-oke aja, tapi nggak di kos'an gua juga ya! Pindah kek sono, tambah sempit tahu nggak. Oren tinggal di sini, Varel juga, di tambah kalian! Kalian pikir ini hotel apaann ya! Sempit!"Tera memutar matanya malas."Minta sama Oren kos'an baru! Pasti dia juga akan ngasih gratis, apalagi kalian kan belum kenal sama duit! Please lah jangan nganggu gua, apa lagi bentar lagi magang gua hampir habis. Gua belum buat laporan!"
"Tapi ... aku ingin bersamamu."Lava merasa jika hatinya akan berbunga-bunga jika berada di dekat Tera.
"Enggak, gua risih kalo ada orang di samping gua. Lagian kalo elo deket-deket lagi nanti nyium gua lagi! Udah dia kali ya!"
"Itu ... aku tidak sengaja waktu itu,"
"Iya iya! Terus aja nggak sengaja, gua tahu kok."Cibir Tera."Nggak sengaja sampe dia kali!"
Piyo tersenyum, ia bis melihat jika raut wajah Lava memerah saat melihat Tera."Apakah Pitu suka pada Tera? Dia sepertinya ingin terus saja bersama Tera. Piyo harus bantu Pitu agar bisa bersama Tera!"Ia menyentuh tangan Tera."Tera, sayang sekali Tera tidak mau bersama Lava. Padahal Lava akan memberikan berlian itu pada Tera."
Tera melotot mendengar itu,"Berlian? Yang bisa keluar dari tubuhnya Lava kemarin?"
Anggukan cepat sebagai jawaban Piyo."Benar, bukankah Tera mengatakan jika itu adalah berlian? Karena kami tak punya uang untuk membayar. Jadi Bisakah menggunakan itu saja? Itu bisa di pecahkan dan bisa di jual."
Tera meneguk ludahnya dengan kasar."Gila! Berlian cuy! Tapi masa gua hari iyain dia tetep ada di sini. Nggak mungkin kan! Tapi ... kalo di jual berapa duit tuh!"
Apalagi pasti itu adalah berlian murni. Jadi pasti sangat berharga nilainya."Gini aja deh, nanti kita pergi ke toko emas, kalo itu berlian asli. Kita jual dan kalian boleh tinggal di sini, tapi kalo itu bukan berlian beneran kalian nggak boleh tinggal di sini walaupun emak bilang boleh! Gua nggak mau tidur sama kalian! Ngerti kan?"Tera tersenyum tipis."Kapan lagi bisa ngeliat duit segepok! Bisa beli motor! Nanti kalo udah ada motor kan bisa belajar dan nggak di marahin sama emak lagi! Dan juga bisa beli apapun yang gua mau."
"Setuju!"Piyo menyenggol lengan Lava. Sebelumnya dia sudah mendeteksi berlian itu dengan milik manusia. Jadi tak perlu takut lagi jika harus menjualnya karena itu adalah berlian asli. Piyo memanjat di lengan Lava dan berbisik pada tuannya itu."Bagaimana Pitu? Bagus'kan rencana Piyo! Jujur saja, Pitu suka bukan pada Tera?"
Wajah Lava bertambah merona saat mendengar hal itu."Suka? Aku ... suka pada Tera? Tapi dia manusia. Astaga, apa benar aku suka pada Tera. Tapi entah kenapa dadaku terasa berdetak lebih kencang saat bersamanya."
Mungkin apa yang dikatakan oleh Tera ada benarnya. Ia suka pada Tera. Tapi ... setelah mendengar apa yang Tera katakan tentang Varel ia sedikit berpikir."Tera tak suka jika orang yang suka padanya adalah sesama jenis. Bagaimana bisa aku maju untuk mendapatkannya?"
Piyo tahu apa yang dipikirkan oleh tuannya itu."Tenang saja, Pitu! Piyo akan membantu Pitu agar bisa bersama Tera. Ini juga tugas Piyo agar bisa melihat Pitu bahagia bersama orang yang Pitu cinta!"
"Apasih bisik-bisik! Ngomongin gua ya!"Tera menyipitkan matanya saat melihat Lava dan Piyo sedang berbicara seperti itu.
"Tidak! Kami tidak seperti manusia yang suka bergosip!"Jawab Piyo dengan tersenyum.
"Eh? Tahu juga ya lo, kalo manusia suka banget gosip!"
"Tentu tahu, Piyo!"
Sudahlah, itu tak penting. Sekarang Tera menghayal agar besok bisa mendapatkan uang."Semoga aja berliannya bener-bener asli!"
Vote →Comment→ Follow
KAMU SEDANG MEMBACA
ALIEN (BL)
ComédieTera Parama. -Siswa SMK yang lagi magang. -Suka Drakor. -Anak kesayangan Emak. -Nggak suka Lava. Phi Lava -Alien nyasar ke Bumi. -Melindungi harta berharga. -Tidak terlalu mengerti dunia manusia. -Suka Tera. Semesta itu rahasia, kehidupan didalamny...
