Alien-60

404 23 13
                                        

Mungkin Tera sudah gila, benar-benar gila. Sudah dua hari ini ia dilanda mimpi Lava yang menciumnya bertubi-tubi.

"Apa nggak ada mimpi lain ya! Kok bisa gua mimpi'in itu terus."

Jika tidak membuat hatinya tidak berdebar maka tidak apa-apa. Tapi setelah di landa mimpi seperti itu Tera merasa dadanya semakin akan runtuh.

"Gua emang gila!"

Melihat jam, Tera mengangguk. Hari ini hari terakhir dia magang dan ia malas untuk pergi, nanti saja katakan pada Varel.

"Si Varel pasti nggak akan marah juga tuh, jadi kangen sekolah."

Hanya menunggu beberapa bulan setelah ini Tera akan lulus, mulanya Tera akan melanjutkannya, tapi sepertinya pikirkan nanti saja.

"Gua pengen nyantai dulu aja,"

Tera mengambil handuk dan membuka pintu, ia melirik kesana kemari.

"Udah pergi, kah? Tumben bener, biasanya nganggu gua,"ia mengendikkan bahunya.

Sudahlah lebih baik Tera membersihkan diri saat ini setelah itu baru ke tempat makan emaknya karena dia sangat lapar.

"Kalo gini kan suasana jadi damai, tapi apa Piyo ikut juga ya? Tu alien ngada-ngada. Nanti kalo ketahuan sama orang gimana, riweh urusannya. Mending tetap di dalem rumah, biar orang-orang pada nggak tahu."

Nanti setelah datang kesana Tera akan menasehati Piyo.

Siap dengan tubuhnya, Tera segera pergi ke warung Epa. Tapi sampai di sana dahinya semakin mengernyit.

"Loh, kok tutup! Tumben bener emak mau nutup wartegnya, nggak mau duit apa ya?  Apa emak lagi sakit?"

Tera tahu betul jika Epa jarang sekali menutup tempat makannya ini. Mempercepat langkahnya, Tera semakin berpikir yang tidak-tidak.

"Apa jangan-jangan iya lagi emak sakit, Lava sama Piyo sekarang rawat emak. Hedeh emak, kalo sakit ya ngomong, bikin khawatir aja."

Baru saja Tera ingin mengetuk pintu, ia mendengar suara tangis yang berada di dalam sana.

"Loh, kenapa tuh emak sampe nangis gitu? Emak! Mak kenapa!"Tera membuka pintu dengan kasarnya.

Disini juga ada Varel dan Randy juga ternyata.

"Mak! Mak kenapa nangis? Kalian apain emak gua sampe dia nangis gini! Jawab!"bengisnya.

"Tidak ada, Tera. Kami tidak melakukan apapun,"jawab Varel.

"Kalo nggak ngapa-ngapain nggak mungkin emak sampe nangis gini, emak ngomong sama Tera, mereka mukulin emak ya sampe emak nangis gini?"Tera mengusap air mata di pipi Epa itu.

"Enggak Tera ... bukan karena mereka, ini sama sekali nggak ada hubungannya sama mereka."Epa semakin mengeraskan tangisannya.

"Kalo nggak karena mereka karena apa, mak? Kenapa emak sampe nangis gini, coba bilang sama Tera, gimana Tera bisa tahu kalau emak nggak ngomong sama sekali."

Tentu saja pasti ada yang salah dengan Epa karena bisa menangis seperti ini.

"Itu ... si Lava sama si Piyo, dia udah pergi tadi subuh. Jadi emak sedih ..."

"Hah? Maksudnya gimana? Lava sama Piyo pergi?"Tera tak mengerti sama sekali."Pergi kemana!"

"Ra, elu tidurnya kebo banget."Randy berdecak."Kemarin malem, si Varel bilang dia udah benerin pesawat Lava. Dan sekarang pesawatnya udah di perbaiki. Dan subuh tadi si Lava sama Piyo pamitan. Dia nggak akan lagi singgah di bumi karena nggak akan bisa, pintu galaxy udah ketutup."

"Hah!"Tera menganga tak percaya."Kenapa nggak bilang gua sih! Kenapa main pergi nggak pamit gua!"

Tera merasa mereka tak membangunkannya."Bukannya pesawat Lava juga udah hancur dan nggak bisa diperbaiki."

"Makanya itu si Varel ngeluarin duit banyak banget buat mesinnya jalan lagi, dan sekarang udah bisa. Makanya si Lava pergi, kita udah bangunin elo, Ra. Tapi kebo banget jadi anak, jadi ketinggalan berita kan!"Randy menatap Epa dan Varel dengan tersenyum.

Ini memang rencana mereka, dan tentu saja ucapan tadi hanya tipuan semata untuk meyakinkan Tera.

Mereka harus menyakinkan Tera agar bisa jujur dengan perasaannya.

"Tera mau kemana Tera?"Epa menatap kepergian Tera dan menoleh lagi ke Randy."Gimana tuh? Tu anak mau pergi kemana?"

"Tenang, yakin banget Tera lagi galau sekarang. Pasti Tera lagi nangis bombay karena ngerasa di tinggal."Randy tertawa. Tadi ia sempat melihat mata Tera memerah.

"Apa ini akan berhasil?"Varel merasa ini akan gagal.

"Berhasil! Tunggu aja nanti, yok kita intip!"

"Ayok!"

Benar saja, saat ini Tera tengah duduk di kursi yang tak jauh dari warung makan Epa.

"Kenapa gua nangis gini? Bagus dong kalo dia pergi, itu artinya dia nggak bakalan nganggu hidup gua lagi, dia kan berisik banget. Tera minta cium lah! Tera ini lah! Tera itu lah! Seharusnya gua seneng."

Tapi kenapa rasanya aneh, air matanya tak kunjung berhenti apa lagi setelah mendengar bahwa Lava dan Piyo tidak akan pernah singgah ke bumi lagi.

Sedih sekali rasanya, hatinya terasa panas seperti tercabik-cabik, lebih tepatnya merasa kecewa.

"Elo bilang cinta sama gua, tapi kenapa pergi nggak kasih tahu, kenapa main pergi aja? Seharusnya elo ngomong sendiri ke gua kalo mau pergi, bukan gini. Pergi tanpa bilang, ngerasa nggak ngerhargain gua sebagai tuan rumah."

Tera menghapus air matanya."Kenapa sesak banget dada gua, Lava elo harus tanggung jawab, dada gua sakit ..."

Kenapa setelah membuatnya jatuh cinta, orang yang sama juga mengecewakannya.

Tera merasa Lava egois, hanya memikirkan diri sendiri tanpa memikirkan perasaannya yang selama ini terus saja bergetar saat berada disisinya.

"Kayaknya bener, gua ... suka sama elo Lava."


Voted→comment →follow

ALIEN (BL)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang