Alien-52

340 24 8
                                        

Randy hanya bisa menghela nafas saat ini karena mendengar cerita dari keponakannya itu. Baru saja dia pulang, ia dikejutkan dengan kabar dari Tera yang mengatakan jika Epa berada di rumah sakit.

Siapa yang tidak syok jika diberitahu seperti itu, Epa juga akan marah karena berteman dengan Lava karena dia seorang alien.

"Seharusnya elu sabar dulu, Tera. Jangan langsung di kasih tahu, emak elu itu lagi syok, dan liat sekarang dia jadi marah kalo kita deket sama Lava."

"Iya-iya! Gua salah, maafin napa. Gimana nih?"

Entah kenapa Tera merasa tak nyaman saat Epa mengatakan akan mengusir Lava dari kediaman mereka dan tidak boleh menemui Lava lagi. Bukannya seharusnya dia suka jika Lava tak dekat lagi dengannya.

Tak tahu apa yang terjadi, tapi hati Tera terasa tak nyaman kala di melihat Lava yang di marahi oleh Epa.

Bukan hanya Tera saja dalam keadaan gundah saat ini, Randy pun sama, ia sedih saat Varel menolaknya. Dan satu fakta yang baru dirinya tahu.

Varel bukan mencintai dirinya melainkan suka pada Tera.

Flashback on

"Rel! Varel! Ini gua! Elo ada di rumah, kan? Jangan bohong deh, gua tahu karena mobil elo ada di rumah! Varel!"

Sudah berjam-jam Randy berada di luar, tepatnya sekitar lima jam yang lalu, ia ingin membujuk Varel agar tak lagi marah padanya.

Mungkin yang ia lakukan itu adalah hal yang tabu dan terlalu tergesa-gesa, tak bisa menahan nafsunya.

"Oke gua salah, gua emang salah karena udah ngelakuin itu sama dia, tapi seharusnya dia seneng, kan? Tapi kenapa dia malah marah sama gua, bukannya dia cinta sama gua? Pusing jadinya."

"Eh, bi! Berhenti bentar, tolong ngomong sama Varel dong kalo gua ada di sini."

Randy segera menghentikan salah satu bawahan Varel yang baru saja membuka pintu.

"Maaf, den. Bukan maksud apa-apa, tapi tuan muda Varel nyuruh aden buat pergi dari sini, tolong ya, den. Nanti bibi di marahi sama tuan muda Varel. Aden tahu sendiri kalau tuan muda Varel itu sukanya marah-marah kalau ada yang nganggu dia."

"Maksudnya ngusir gua gitu? Enggak, bi. Nggak mau pergi. Mau ketemu sama dia, kita emang berantem. Makannya dia ngomong gitu, tolong ya bi ijinin gua masuk."

"Nggak bisa, den. Nanti bibi kena marah, nanti ... aden! Aden Randy! Jangan masuk atuh!"

Randy masuk begitu saja tanpa memperdulikan bawahan Varel yang mengejarnya, jika tak salah kamar Varel berada di lantai dua, karena kemarin dia pernah datang ke kekediaman Varel, jadi tentu saja sedikit hapal dimana letaknya kamar pujaan hatinya itu.

Saat Randy membuka pintu, ia bisa melihat Varel yang menangis sembari memegang foto seseorang. Tapi bukan hanya itu yang membuat ia terkejut. Kamar ini, hiasan dan semua pernak-perniknya tak pernah ia lihat kemarin tapi kenapa tiba-tiba ada sekarang.

Masalahnya bukan hanya itu saja, tapi hiasan dinding serta foto yang melekat pada dinding itu bergambar Tera, lukisan Tera dan bahkan selimut pun ada wajah Tera di sana.

"Kenapa kau masuk! Aku sudah menyuruh mereka untuk mengusirmu, jangan sembarangan masuk kekediaman orang tanpa izin, atau aku akan mengusirmu secara kasar."

Varel tak suka melihat Randy yang berada disini.

"Rel, elo ..." Pikiran Randy teralihkan pada gambar dan foto yang tergantung di dinding itu, tapi ia harus fokus saat ini."Gua minta maaf ..."

"Minta maaf?" Varel menarik kerah pakaian yang Randy pakai.

Sejurus kemudian Randy merasa wajahnya sakit karena pukulan yang diberikan oleh Varel pada wajahnya.

"Kau bilang minta maaf! Kau gila! Aku bukan gay sialan! Kenapa kau melakukan ini padaku! Sudah aku katakan jika aku tidak mau melakukannya! Tapi kenapa kaj seolah tidak mengerti ucapan yang aku sebutkan! Aku tidak mencintaimu, tidak menyukaimu dan tidak seperti apa yang kau pikirkan! Aku hanya mencintai Tera! Hanya Tera! Tapi kenapa kau malah membuat aku seperti ini!"

"Mencuri ciuman pertamaku yang seharusnya untuk Tera, dan kau juga ... sialan! Kenapa ada orang yang tak tahu malu sepertimu! Kenapa ada!"

Varel bahkan tak bisa membayangkan malam sial itu, bersama orang bajingan ini.

"Tapi bukannya elo suka gua ..."

"Tidak! Aku tidak pernah menyukaimu! Bahkan aku sudah mengejar Tera sejak lama, tapi dengan otak mu yang bodoh itu kau membuatku seperti ini! Dasar sialan! Bajingan kau, Randy!"

Lagi, sebuah tamparan terasa di pipi kanannya, Randy hanya bisa terdiam. Jadi selama ini ia salah paham tentang Varel.

Varel mengatakan yang sebenarnya jika dia tidak mencintainya melainkan Tera, tak usah di jelaskan lebih dalam, pernak-pernik ini sudah menjelaskan semuanya.

Jika Varel memang menyukai Tera.

Kenapa hatinya sakit sekali saat mendengar ucapan yang di lontarkan oleh Varel.

"Pergi! Jangan pernah menampakkan wajahmu itu padaku!"

Varel mendorong Randy dan menutup pintu dengan kerasnya.

Bisa di dengar di dalam sana Varel tengah mengamuk karena terdengar dentingan pecahan kaca.

Flashback off

Jika mengigat itu kembali, perasaan bagai si tusuk duri, ia melihat Tera yang masih melamun di sampingnya."Kalo elo nggak suka gua kenapa elo bawa gua dalam dunia ini, Varel. Gua sakit hati, perasaan gua cuma punya elo. Dan elo malah milih ponakan gua sendiri. Elo tahu kan kalo Tera itu nggak doyan sama batangan. Kenapa elo pengen bener sama Tera, mending sama gua, karena gua udah cinta sama elo."

Berbeda dengan Randy, Tera juga tengah memikirkan sesuatu saat ini."Gimana caranya ngomong sama emak kalo nggak usah usir Lava, kasian dia kalo pergi. Tunggu alien yang lain jemput dulu kek, biar dia balik dulu. Gua juga kasian sama Piyo, itu alien nggak bisa berubah kayak Lava, kalo ketahuan sama orang lain, mungkin aja mereka nangkep Piyo lagi."

Keduanya hanya menatap langit dengan sendu, pikiran mereka benar-benar tengah kacau saat ini karena memikirkan masalah masing-masing.

Vote→ Comment →Follow

ALIEN (BL)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang