"Gila gua laper banget! Oren lama banget sih beli nasinya!"
Tera berdecak.
Mereka sudah berhasil kabur sekarang, mobil Varel juga berhenti di jalan karena mereka semua kehabisan tenaga dan lelah.
Jauh sekali mereka melarikan diri, mereka tidak bisa pulang ke rumah dahulu, takut mereka masih mengejar.
"Tahan ya, Piyo. Lava juga, Oren bentar lagi bawa Pete'nya. Kalian tunggu aja,"Tera lebih kasihan melihat Piyo dan Lava yang berbaring lemas di mobil. Mereka banyak kehilangan tenaga.
Jika hari itu Jonson akan menyerang Piyo, maka sekarang Jonson tidak melakukan apapun pada Piyo. Ia hanya tidur di pangkuan Tera.
"Terima kasih, Tera. Kamu baik sekali, tidak seperti manusia jahat itu!"Piyo merasa lebih aman sekarang. Ternyata manusia yang awalnya aneh ini berbeda dari manusia yang menangkapnya.
"Iya nggak apa-apa, tapi ..."Tera menghela nafas,"Rel, apa nggak apa-apa tadi elo nembak bokap elo?"
Varel terkejut mendengar suara Tera dari belakang, ia canggung sekarang. Takut jika Tera malah menghindarinya setelah tahu jika dirinya adalah seorang gay."Itu ..."
"Gua takut, Rel. Kagak bohong dah. Kalo kita ke tangkep polisi gimana? Gua belum siap, belum juga tamat sekolah, apalagi pisah sama Emak, gua juga takut kalo Emak tahu kita terlibat sama bokap elo, sorry bukan gua ngatain bokap elo, tapi bokap elo ... orang jahat," ini lah yang Tera takutkan. Jika mereka tertangkap bagaimana. Apalagi sekarang mereka menyimpan dua Alien."Ngenes banget nasib gua! Anjing kenapa gua nyimpen alien!"Tera mengusap rambutnya frustasi.
"Aku bukan anjing, Tera."
"Gua tahu! Yang bilang elo anjing siapa!" Tera menatap Lava sinis.
Lava diam, padahal Tera sendiri yang mengatakan hal itu.
"Tenang saja, aku akan mengurus semuanya. Dan ... akan aku pastikan jika kau tidak akan terkena atau tertangkap oleh mereka," ujar Varel dengan yakin.
"Awas aja ya sampe kita ketangkep, gua nggak mau pisah sama Emak!"Tera menghela nafas,"Walaupun Emak bawel, cerewet, suka banget bandingin gua sama Jonson! Tapi gua sayang banget sama Emak, gua nggak mau ngecewain Emak!"
Varel yang melihat keterdiaman Tera memejamkan matanya sejenak,"Tera ..."
"Kenapa?" Tera menaikkan alisnya penuh tanya.
"Itu ... soal itu ..."
"Soal apaandah? Kita nggak lagi ujian, malah bahas soal!"
"Bukan, ini bukan tentang ujian," Varel ragu untuk bertanya, tapi ia penasaran dengan apa tanggapan Tera tentang jati dirinya sesungguhnya.
"Apaandah! Jangan buat gua ngamuk ya, Rel! Gua lagi laper ini!" Aneh sekali Varel ini, kenapa dia bertanya tapi setelah itu diam kembali.
"Tera, apa pendapatmu tentang aku yang ... tidak seperti laki-laki pada umumnya?" Varel merasa keringat dingin mengalir di dahinya, ia takut Tera jijik padanya saat ini.
"Oooo soal itu, itu ..." Tera menghela nafas,"Rel, jujur gua kaget. Kaget banget. Seorang elo, Varel yang ganteng malah belok! Gua akuin elo memang ganteng, ganteng banget malahan, sayang kan kalo elo jadi belok! Ibaratnya elo itu sempurna! Kaya, ganteng, pinter, pokoknya yang didambain oleh banyak orang dah, kayak gua, gua malahan mau kayak elo. Punya segalanya dan bisa macarin banyak cewek-cewek. Eh elo malah belok!"
Tera menggeleng pelan,"Tapi itu bukan hak gua untuk ngelarang elo, elo bebas milih jalan elo sendiri. Gua bukan orang kuno yang nggak akan temenan sama elo lagi setelah tahu siapa elo sebenernya. Kita akan tetap temenan kok! Tapi jangan naksir sama gua! Gua normal lho ini!"
Wajah Varel senang pada awalnya, tapi setelah mendengar apa yang dikatakan oleh Tera di akhir kalimatnya, ia mematung seketika."Tera, aku menyukaimu. Aku menjadi gay karena kau saja, aku tidak memiliki perasaan kepada orang lain, apa aku tidak bisa mendapatkan kesempatan? Aku tahu kau normal tapi ... bisakah kau mulai menerima ku juga di hatimu?"
Seharusnya kata itu diucapkan dengan lantang bukan, tapi Varel lebih dulu merasakan hatinya sakit, sangat sakit.
"Tapi jangan bencong juga ya pilihnya! Masa elo yang ganteng dapetnya modelan bencong gitu! Kalo elo dapetin bencong, gua kagak mau temenan lagi,"
Berteman? Kenapa kata itu terasa seperti sebuah pisau yang tajam dan tertancap pada hatinya.
Varel menatap Tera dengan sendu,"Tera, sebenarnya aku menyukai ..."
"Akhirnya! Rame banget njir! Antri panjang! Nih punya kalian, ini punya Lava sama Piyo, nah ini punya elu, Rel!" Rendy memberikan bungkusan nasi Padang yang ia beli tadi.
Memang akan susah makan di mobil, tapi tak mungkin mereka makan di tempat makan, mereka pasti akan berteriak ketakutan jika melihat Piyo.
"Oren! Akhirnya, gua laper banget! Udah bunyi dari tadi ni cacing!"
Sudahlah, Tera tidak ingin berbicara lagi, ia sudah sangat lapar. Aroma nasi dan lauk ayam itu begitu menggiurkan.
"Makan, Rel! Elo pasti laper juga kan?" Rendy mencuci tangannya di luar jendela, ia menutup kembali jendela itu sebelum memakan makanannya.
Varel berdecak, kenapa Rendy selalu saja menganggu dirinya dan Tera dalam waktu yang tak tepat!
"Woah! Terima kasih manusia!"Piyo bersemangat, tentakelnya mengambil Pete itu dan memakannya dengan cepat.
"Makan, Lava! Elo pasti laper juga kan!"
Lava mengangguk, ia benar-benar lemah sekarang. Bahkan mengangkat tanganpun ia sangat kesakitan.
"Ya elah lama banget! Sini gua suapin!" Tera mengambil Pete itu dan mencampurnya dengan nasi, lalu setelah itu menyuapi Lava dengan tangannya. Setelah itu baru ia menyuapi dirinya sendiri.
Begitu terus saja berulang.
Varel yang melihat itu menjadi panas dingin, Tera menyuapi Lava dengan tangannya dan setelah itu menyuapi dirinya sendiri. Bukankah itu sama saja seperti sebuah ciuman?
"Kenapa kagak makan? Lu mau gua suapin juga, Rel?" tanya Rendy dengan heran, apakah Varel ini juga kelelahan.
Tak menjawab, Varel membalikkan tubuhnya dengan kesal. Laparnya terasa sirna saat melihat pemandangan yang berada di belakangnya itu.
"Serah lu aja deh, Varel ..." Rendy tidak tahu entah apa yang dia pikirkan, lebih baik ia makan saja.
Vote →Comment →Follow
KAMU SEDANG MEMBACA
ALIEN (BL)
MizahTera Parama. -Siswa SMK yang lagi magang. -Suka Drakor. -Anak kesayangan Emak. -Nggak suka Lava. Phi Lava -Alien nyasar ke Bumi. -Melindungi harta berharga. -Tidak terlalu mengerti dunia manusia. -Suka Tera. Semesta itu rahasia, kehidupan didalamny...
