Alien Tamat.

656 27 27
                                        

Tera mengusap air matanya yang terus saja mengalir tanpa henti, padahal seharusnya ia senang karena tak akan di ganggu lagi oleh alien aneh itu

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


Tera mengusap air matanya yang terus saja mengalir tanpa henti, padahal seharusnya ia senang karena tak akan di ganggu lagi oleh alien aneh itu.

Tapi setelah beberapa jam, tangisnya belum juga berhenti. Bukannya tenang ini membuatnya sesak.

"Elo bener, Lava. Gua kayaknya emang suka sama elo. Tapi kenapa elo gini'in gua? Sekarang gua gimana ... gimana lupain elo kalo kayak gini jadinya, nyesel tahu nggak! Kalo tahu gini, dari dulu gua nggak akan pernah suka sama elo. Biar aja gua cuekin yang penting nggak bikin sakit hati!"

Jadi, ini rasanya patah hati, pantas saja Randy sampai stres karena di tolak oleh Varel. Tak tahunya rasanya memang sesakit itu, tak bisa di jelaskan tapi sakit sekali.

"Tera ..."

Tera semakin menangis,"Gua kayaknya sama kayak Oren, bisa denger suara dia padahal dia nggak ada disini."

Jangan-jangan,dia juga ikut gila seperti orang gila di rumah sakit jiwa itu.

"Gua nggak mau gila!"

Lava tak tega, ia menoleh ke belakang, melihat Epa, Varel, Randy dan Piyo menyemangatinya.

"Jika aku tahu Tera akan sesedih ini, maka aku tidak akan menuruti mereka. Kasihan Tera, tapi ... aku senang sekali."Lava tersenyum tipis."Ternyata kau juga menyukai aku."

"Ya suka lah! Elo yang ..." Tera terdiam saat melihat Lava yang berada didepannya sampingnya. Berulang kali ia menggosok matanya dan menampar pipinya sendiri."Gua nggak mimpi, kan?"

"Mimpi? Tentu saja tidak. Aku ada disini, aku tidak pergi . Maaf Tera, aku hanya mengikuti rencana mereka saja. Tidak ada maksud ..."

"Lava!" Tera memeluk Lava dengan eratnya."Jahat banget ..."

Tangisan Tera semakin keras, Lava segera mengusap punggung orang' tercintanya itu.

"Kenapa elo bohongin gua! Sialan! Gua kira elo pergi beneran dan nggak akan balik lagi, ternyata elo kerja sama, sama mereka ya! Jahat tahu nggak jahat!"

Lava tak berdaya saat Tera juga memukul dadanya."Aku minta maaf ..."

Terdiam, itu lah reaksi Lava saat ini karena Tera mencium bibirnya, hanya sebuah ciuman tapi sangat lama.

"Elo bener, gua suka. Gua jatuh cinta, gua emang egois nggak ngakuin ini sebelumnya. Tapi setelah elo pergi, gua ngerasa ada yang hilang. Nggak tahu apa tapi hati gua ngerasa sunyi. Gua akan terima elo meskipun kita beda."Tera tersenyum,"Gua minta maaf, Lava. Maaf banget karena selama ini udah nolak elo. Pasti ini yang elo rasain saat gua nolak elo, sakit banget, kan?"

Lava menggeleng,"Tidak sesakit itu karena aku ingin berusaha mendapatkanmu Tera, aku juga tidak tahu harus melakukan apa karena aku bukan manusia sbelumnya, tapi setelah aku belajar lebih banyak dari Piyo. Aku tahu sekarang harus melakukan apa seperti manusia pada umumnya. Tera, maukah kau berada disisiku selamanya?"

"Gua mau ..."

"Acia cie ... Pitu dan Tera udah jadian nih ye!"Piyo menutup mulutnya."Sangat serasi!"

"Lah! Sejak kapan kalian ada disana!" Tera menutup wajahnya."Anjir kenapa nggak bilang ada orang sih, jadi malu gua jadinya kalo kayak gini, malah tadi main nyosor-nyosor aja lagi nggak liat-liat dulu! Malu banget bangke!"

"Serasa dunia milik berdua ya! Dari tadi kita ada disini, elu aja yang nggak ngeliat, Ra!"ujar Epa."Gini dong, jujur-jujuran, kalo suka bilang suka. Jangan pura-pura, nanti yang lain pada sakit hati!"

"Iya iya! Lagian kenapa kalian ngomong gitu sih? Kenapa bilang kalo Lava pergi, udah curiga banget kalo itu nggak mungkin!"ketus Tera.

"Nggak mungkin tapi percaya, aneh lu Ra!"sinis Randy."Semua ini kita lakuin cuma mau denger jawaban elu, kita semua kasihan sama Lava karena dia udah berjuang lama. Jadi dari pada elo nggak jawab-jawab mending kita lakuin tipuan ini! Bohongin elo biar elo sadar!"

"Benar,"sahut Varel."Ini akan menjadi jawaban bagi Lava nantinya.

"Tapi tetap aja kesel!"marah Tera."Pokoknya jangan bohongin yang nggak masuk akal lagi! Paham!"

"Oke!"

"Udah-udah, kalian baris. Emak mau foto kapal emak dulu, cepet baris! Mau emak pasang ke kamar emak!"Epa mengambil ponselnya.

"Emak!" Tera hanya menggeleng saja, tapi ia tersenyum karena ini hanya mengambil foto. Bukankah tidak apa-apa.

"Aneh ya? Gua ini lurus loh! Selurus tiang, tapi malah jadi belok gini, sama alien lagi! Gini bener nasib gua. Gua sadar, ini salah. Ini nggak normal dan mungkin ini nggak akan bisa di normalisasi karena emang nggak sesuai woy! Tapi gimana lagi, orangnya udah cinta."

"Satu hal yang harus kami jaga, rahasia ini harus kami rahasiain seumur hidup, nggak ada yang boleh tahu kalo Lava sama Piyo itu alien dan satu lagi! Nggak ada yang boleh tahu kalo kita itu pasangan sekarang."

"Karena apa?! Malah nanya! Karena nggak boleh lah! Nanti kita akan di jauhin sama tetangga dan mereka akan benci ke kita."

Sungguh tak menyangka jika Tera yang super super tampan harus mendapatkan Lava yang seorang alien. Tapi tak apa, karena itu lah yang dinamakan cinta.

"Kapan kalian nikah?"tanya Epa.

"Emak!"

Mereka hanya menggeleng, kenapa Epa mensupport sekali hubungan terlarang ini, padahal ini adalah hal tabu. Tapi tak apa, selama Epa senang mereka akan membiarkannya saja.

"Gua?"Tera mengedikkan bahunya."Ngikutin takdir aja."

Tamat.

😭😭😭
Tepat hari ini, adalah hari terakhir Lava dan Tera ya, mereka udah tamat dan bahagia sama pasangan masing-masing. Kalian suka pasangan yang mana nih?

Tera-Lava?
Or
Varel-Randy?

Segitu dulu ya, terima kasih sama readers yang setia. Maafkan author kalau author jarang up ya, sayang Rories semua 😘🤔

By by kecintaan author 😘

#Menulishanyauntuksebuahkesenanganbukanuntuksebuahhujatan

ALIEN (BL)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang