Epa menyuruh Lava untuk duduk terlebih dahulu kemudian mengambil Pete yang sudah ia masak dengan ikan teri tadi. Lalu mengambil nasi dan air putih, menyuguhkannya di depan Lava yang sudah sangat lemah sekarang.
"Makan dulu, Lava. Cepetan! Nanti mati lagi, emak nggak mau tanggung jawab kalo elu mati!"ucapnya.
Lava tak menjawab tapi tangannya segera mengambil sendok dan memakan Pete terlebih dahulu, barulah tenaganya sedikit terisi dan ia bisa duduk dengan benar.
"Emak, Piyo juga ingin makan pete'nya. Piyo juga kehabisan tenaga!"Piyo tentakelnya menunjuk ke arah lauk yang berada di atas meja.
Agak takut, tapi Epa tetap menjawab."Iya makan aja, sini Jonson, sama emak."Epa mengecek kembali badan Jonson, takut anaknya itu kenapa-napa."Lava, si Jonson kagak kenapa-napa, kan? Dia nggak ada luka dalem, kan? Emak masih khawatir sama Jonson."
Takut jika di dalam tubuh Jonson masih terluka, Epa ingin membawanya ke klinik hewan jika Jonson masih belum pulih.
Setelah menelan makanan di dalam mulutnya barulah Lava menjawab,"Biasanya kekuatanku akan mengembalikannya seperti semula, tapi jika emak masih belum percaya. Emak bisa mencoba mengeceknya."
Ternyata Lava juga tidak tahu, segera Epa ke kemar, ia ingin mengambil uang untuk membawa Piyo ke klinik terdekat.
"Emak! Ada di dalem ... eh Lava! Kenapa elu ada di rumah emak!"Tera yang baru saja tiba terkejut saat melihat Lava yang berada disini."Bukannya emak masih marah sama elo!"
"Kebetulan ada elu disini, Ra. Emak mau bawa Jonson ke klinik. Elu temenin lava sama Piyo dulu ya, emak pergi dulu!"Epa segera pergi dari sana tanpa mendengar Tera yang meneriaki namanya.
"Emak mau kemana!"Kenapa emaknya tidak memberitahunya."Lava, sebenernya ada apa? Gua kok jadi bingung gini."
Lava ingin segera menjelaskan, tapi sebelum itu Piyo lebih dulu berbicara.
"Tera, tadi Jonson terlindas, jadi Lava yang menolongnya dan sekarang emak pergi ke klinik untuk mengecek keadaan Jonson!"ucapnya.
"Di tabrak gitu! Pantesan aja emak cepet-cepet jalannya, tapi Jonson nggak apa-apa kan?"
"Sebenarnya Piyo yakin jika Jonson tidak apa-apa karena Pitu sudah mengobati Jonson. Tapi untuk memastikan lebih lagi, sebaiknya Jonson memang harus di bawa ke klinik agar emak percaya jika Jonson baik-baik saja."
"Semoga aja deh gitu, walaupun si Jonson ngeselin, tapi dia yang nemenin emak gua setiap hari, makasih udah nyelamatin Jonson, Lava."Tera jujur dengan ucapannya itu, dia juga sedikit menyayangi kucing yang menyebalkan itu."Tapi apa emak nggak marah sama elo lagi? Elo di kasih makanan gini,"herannya.
"Tidak tahu, Tera. Aku belum menanyakan dengan emak apakah dia masih marah atau tidak denganku karena emak hanya memikirkan Jonson sekarang." Lava juga memikirkan itu."Semoga saja emak memaafkan aku, jadi aku bisa dekat dengan Tera tanpa di marahi olehnya lagi."
"Semoga aja,"Tera menghela nafas lega."Semoga aja emak beneran maafin Lava, gua lega rasanya kalo emak udah maafin Lava."Tapi tunggu dulu, kenapa dia malah senang saat ini."Enggak, mikir apaan sih Tera! Mikir aneh-aneh mulu, kenapa gua malah seneng Lava nggak di marahin sama emak lagi, biarin aja kalo dia emang dimarahin sama emak, apa urusannya sama gua, keknya gua ketularan sama gilanya si Lava, nih! Emang aneh otak gua, nggak bisa di kondisiin!"
"Tera, kenapa kamu geleng-geleng seperti itu, apa Tera sakit?"tanya Piyo dengan bingungnya.
"Mana ada, gua lagi pusing aja mikirin nasib Oren sama Varel, mereka belum juga baikan. Kasian si Oren, ngelamun aja kerjaannya, keknya dia galau banget karena berantem sama Varel. Gimana menurut elo, Lava. Kita harus bantu atau enggak, gua jadi nggak tega sama Oren."
"Aku tidak tahu, Tera."
Tera hanya memutar matanya malas."Terus aja nggak tahu, udahlah! Males juga nanya sama elo, nggak bisa juga ngasih jawaban, mending gua makan!"ketusnya.
Lava tersenyum tipis. Tak mau ikut campur dengan urusan Randy."Urusanku denganmu saja belum selesai. Bagaimana bisa aku memikirkan urusan orang lain, setelah tidak bertemu beberapa hari, Tera semakin imut."
Imut, benar bukan, itu adalah kalimat yang diucapkan manusia jika melihat benda lucu dan sebagainya, begitulah saat lava melihat Tera saat ini. Hatinya semakin berdebar dan bertambah menyukai manusia yang berbeda dari pada yang lain ini.
"Ngapain elo ngeliatin gua sampe segitunya!"
"Aku mau cium,"
"Heh! Kurang ajar!" Tera memelototi Lava."Sembarangan kalo ngomong, baru sehari aja udah bikin ulah si Lava! Pengen gua Jambak tahu nggak!"
Membuatnya emosi saja, kenapa Lava tidak bisa melihat situasi. Sudahlah, sabar saja saat ini jika menghadapi Lava. Tapi apa yang dia pikirkan tadi belum menemukan solusinya.
"Kalo emak udah maafin Lava, gua udah nggak khawatir lagi, sekarang tinggal Varel yang belum bisa di hubungin, kemana tu anak, gua khawatir sama dia, apa dia baik-baik aja ya? Nggak pernah dia semarah ini sama gua, kok dia bisa semarah ini sama Oren, apa yang di lakuin Oren sampe Varel semarah itu, Oren juga nggak kasih tahu gua lagi detail masalahnya! Kan jadi pusing gini, semoga nanti setelah gua ngehubungin Varel, dia bisa balik lagi kayak dulu."
Vote →comment →follow
KAMU SEDANG MEMBACA
ALIEN (BL)
HumorTera Parama. -Siswa SMK yang lagi magang. -Suka Drakor. -Anak kesayangan Emak. -Nggak suka Lava. Phi Lava -Alien nyasar ke Bumi. -Melindungi harta berharga. -Tidak terlalu mengerti dunia manusia. -Suka Tera. Semesta itu rahasia, kehidupan didalamny...
