Tera membaringkan tubuhnya dikursi, seharian berada di luar membuat tubuhnya begitu lelah, bahkan sangat lelah karena melihat drama dari sahabat serta orennya itu.
"Nggak nyangka banget si Oren bisa Sama si Varel. Agak geli ya, ya gimana mereka belok gitu! Ganteng-ganteng tapi belok, tapi ya udahlah. Nggak usah mikir urusan orang."
"Jadi, kapan Tera bisa menerima Pitu!"tanya Piyo yang baru saja muncul dari bawah kursi sedari tadi bosan sekali menunggu Tera dan Lava pulang.
Tera duduk, dia mengambil Piyo dan mencubitnya gemas."Diem gurita! Jangan banyak omong, jangan bikin mood gua jadi turun lagi ya!"
Piyo memanyunkan mulutnya,"Tera tidak lupa bahwa Pitu suka pada Tera bukan!"
"Gua tahu dan gua masih inget, gini aja deh, sini duduk dulu Va. Jangan berdiri aja dari tadi, nggak pegel apa ya?"
Apa memang seperti itu? Entahlah tapi Tera rasa tak mungkin Lava tak merasakan tubuhnya pegal.
"Gua ngomong aja, gua bukan gay! Dari pertama gua udah jelasin kan kalo gua bukan gay, jadi jangan ngarepin gua buat jadi pasangan elo, kita juga beda. Elo alien gua manusia, bukan cuma gender aja yang beda, bahkan kehidupan kita juga beda. Mungkin elo sakit hati sama ucapan gua, tapi kalo boleh jujur. Gua sampe sekarang nggak ada perasaan sama elo."
Tak bicara, Lava hanya menunduk sedih. Benarkah seperti itu, padahal ia sudah menunggu Tera selama ini.
"Aku menyukaimu."
"Gua tahu! Elo udah ngomong itu berkali-kali, tapi apa kata tetangga kalo sampe mereka tahu kalo misalnya gua jadian sama elo, lagian hati nggak bisa dipaksain, Va. Elo cari aja yang lain ya, di depan sana ada banci yang biasanya ngamen. Coba elo tanya, mana tahu dia gay."
Bagaimana Tera ini, jelas-jelas Lava mengiginkan Tera seorang, bukan banci ataupun orang lain.
"Udahlah, mau mandi bentar. Gerah banget seharian di luar, jangan masuk ya! Bukannya apa-apa, elo tahu sendiri kamar mandi gua itu sempit!"
Baru saja Tera hendak berdiri, tubuhnya limbung karena tak sengaja menginjak salah satu tentakel Piyo.
Tubuhnya di tangkap oleh Lava dengan cepatnya.
Piyo yang berada dibawah sana hanya bisa meniup tentakelnya dengan sakit."Kenapa saja Tera selalu memijak kakiku! Sakit sekali rasanya!"
Piyo mendongak keatas, ia melihat Tera dan Lava masih saja menatap satu sama lain dalam diam.
"Ini apa perasaan gua atau apa? Kok Lava tambah hari tambah beda, auranya itu loh, kayak beda aja."
Lava tampak lebih tampan setiap harinya. Lamunannya buyar saat Lava malah mencium keningnya.
"Lava! Kenapa elo malah cium gua! Kurang ajar! Alien nggak tahu diri ya! Udah dikasih hati malah minta jantung!"
Tera memukul tubuh Lava dan pergi dari sana Dnegan kesalnya."Kurang ajar! Awas aja lo!"
Tak marah, Lava tersenyum. Setiap pukulan yang dilayangkan oleh Tera, akan ia ingat karena itu membuatnya hatinya senang.
"Wah wah wah! Piyo melihat ada tanda-tanda keberhasilan, Pitu!"ungkapnya.
Lava menoleh, ia menatap Piyo dengan aneh."Maksudnya apa, tanda-tanda keberhasilan apa?"
Piyo naik ke kursi dan tersenyum."Piyo melihat jika ada rona merah yang berada dipipi Tera! Mungkin saja aoa yang dilakukan oleh Pitu membuatnya malu! Menurut hasil pengamatan Piyo, saat ini Tera sedang salting! Seperti yang selalu manusia katakan!"
"Salting?"
"Benar! Salah tingkah! Itu perasaan normal, kurasa Pitu akan mendapatkan Tera sebentar lagi."
Senyum Lava semakin lebar, hatinya yang sedih saat mendengar ungkapan Tera tadi kembali ceria mendengar ungkapan Piyo.
"Jika itu benar maka aku akan mendapatkan hati Tera sepenuhnya. Dan aku juga bisa seperti Oren, mendapatkan hati pasangannya."
Semakin memikirkannya, semakin senang pula Lava saat ini.
"Tera, aku akan menunggumu, dan menunggu hatimu."
Menunggu agar hati Tera bisa terbuka dan menerimanya.
Dikamar mandi, Tera membasuh wajahnya dengan air berulang kali, ia terus saja mengigat kejadian tadi.
"Emang sialan si Lava!"
Sudah lama Lava tak melakukan itu, menciumnya secara tiba-tiba seperti tadi, apalagi mereka tak tinggal dikediaman yang sama karena kejadian Epa yang marah pada Lava.
Dan kali ini pertama kalinya Tera menerima lagi perlakuan itu.
"Kenapa juga hati gua dari tadi nggak berhenti dag dig dug sih! Gua kenapa ya? Apa sakit?"
Apa mungkin sakit parah? Tapi selama ini Rera tak pernah merasakan hal yang seperti ini.
"Wah bahaya! Gua harus kasih tahu emak nih! Gawat kalo sakit, mending periksa ke dokter lebih dulu, nanti kalo dibiarin lama penyakitnya nyebar!"
Tera bergegas membersihkan diri, ia segera berganti pakaian dan tak memperdulikan Lava yang menunggunya untuk makan bersama, tujuannya saat ini adalah rumah emaknya.
Dengan berlari, Tera bergegas pergi. Sampai disana ia mengetuk-ngetuk pintu rumahnya dengan kerasnya.
"Emak! Emak tolong mak! Emak! Emak bahaya mak! Emak!"
"Tera!"
Tak mau kejadian sama terulang, Tera menunduk saat Epa membuka pintu. Benar dugaannya Epa membawa panci.
"Untung nggak kena!"
"Ya ampun! Punya anak satu tapi bandelnya minta ampun! Udah emak bilangkan kalo mau kerumah jangan teriak-teriak! Ini udah malem Tera! Nanti tetangga pada marah! Diusir kita dari kampung ini baru tahu!"Epa mencubit pipi Tera gemas.
"Aduh, Mak. Lepas! Ini ada yang lebih penting!" Tera memegang tangan Epa dan meletakkannya didada."Mak tolongin Tera! Tera sakit, Mak! Dari tadi jantung Tera nggak berhenti dag dig dug! Yang ada tambah cepet!"
"Hah gimana?" Epa mendengarkan lebih jelas ke dada Tera."Ya ampun! Kok bisa gitu! Emang elu habis ngapain? Lari dateng kesini?"
Walaupun marah, tetap saja Epa khawatir. Bagaimanapun Tera adalah anaknya, ia membawa Tera masuk dan duduk di dalam.
"Emang lari, Mak. Tapi seharusnya udah nggak secepet ini, tapi dari kos'an sampe sini tetap aja nggak berhenti! Mak kedokter yok, Tera takut sakit keras Mak! Lebih baik periksa sekarang dari pada nanti ngabisin duit."
"Bentar dulu, Ra. Elu tenang dulu, coba ceritain. Kenapa elu bisa kayak gini, penyebab pertamanya apa sampe elu bisa gini?"tanya Epa lagi.
"Pertama nggak apa-apa, Mak. Tapi tiba-tiba tadi Lava nyium kening Tera, jadi sampe sekarang jantungnya kayak gitu. Mak gimana mak! Tera takut mati ..."
Epa tercengang, ia menepuk jidatnya. Tapi setelah itu ia tersenyum curiga."Apa jangan-jangan yang dimaksud sama Tera itu, dia deg deg'an dekat sama Lava! Berarti ada kemungkinan kalo Tera suka sama Lava dong!"
Bisa saja seperti itu bukan, secara gejala jatuh cinta seperti itu.
"Kenapa diem sih, Mak! Tolongin nanti Tera mati!" Tera merasa emaknya ini tidak peduli lagi padanya.
Vote→Comment →Follow
KAMU SEDANG MEMBACA
ALIEN (BL)
HumorTera Parama. -Siswa SMK yang lagi magang. -Suka Drakor. -Anak kesayangan Emak. -Nggak suka Lava. Phi Lava -Alien nyasar ke Bumi. -Melindungi harta berharga. -Tidak terlalu mengerti dunia manusia. -Suka Tera. Semesta itu rahasia, kehidupan didalamny...
