"Anjir! Beneran mbak segitu harganya? Sekecil ini tiga ratus juta!"
"Benar, tapi itu sudah di kurangi harga karena tak memiliki surat."
"Jadi mau di jual atau tidak?"
Tera meneguk ludahnya dengan kasar."Ternyata Lava sama Piyo nggak bohong! Berlian ini emang asli. Kecil segini aja harganya sampe ratusan juta! Apalagi sebesar jantung manusia gitu!"
"Mbak, nggak jadi ya. Maaf ..."
Tera meninggalkan toko perhiasan itu. Bukannya ia tak mau dengan uang."Gua takut nanti emak nanyain dari mana dapet duit. Apalagi hidung emak itu bisa nyium bau duit! Nanti gimana gua jelasinnya ke, emak? Nggak mungkin gua bilang dari Varel. Emak kan kan nggak akan pernah mau nerima duit dari Varel! Kecuali bener-bener udah di kasih!"
Ia segera kembali di rumah."Bisa bahaya kalo ada yang tahu gua bawa berlian. Apalagi harganya selangit gini!"
Memang Lava dan Piyo tak diizinkan untuk ikut bersamanya. Walaupun Lava berbentuk manusia, tapi Piyo kan berbentuk Alien. Jadi sebisa mungkin mereka menyembunyikan Piyo. Nanti jika ada yang melihat akan benar-benar bahaya.
"Tera! Bagaimana? Kamu sudah menjualnya?"Piyo yang melihat Tera baru saja sampai pun mendekat.
"Gua nggak jadi jual, Piyo."Ia duduk di kursi dengan lemas.
"Emm? Memangnya kenapa, Tera? Itu pasti asli bukan! Tidak mungkin palsu!"Lagi pula Piyo sudah mendeteksi jika berlian itu memang berharga.
"Emang! Tapi gua nggak berani. Nih simpen lagi, gua bisa aja jual. Tapi mau di tarok di mana duitnya? Kalo ketahuan enak bisa bahaya. Lebih baik simpen aja dulu. Nanti kalo gua butuhin gua ambil lagi."Tera memberikan berlian kecil itu pada Lava lagi.
"Jadi seperti itu, benar juga. Pasti emak akan penasaran uangnya datang dari mana. Secara Tera pengangguran!"
"Congor lu minta di tabok! Enak aja kalo ngomong!"Tera memutar matanya malas. Alien ini pintar juga mengejeknya."Ngomong-ngomong Oren Ama Varel dimana? Bukannya mereka ada di sini ya?"
"Tera, Oren dan Varel tadi bertengkar lagi. Dan Oren menaiki mobil Varel."
"Mobil? Bukannya udah di jual? Eh tapi kan ... bener juga, si Varel kan orang kaya. Tentu aja dia bisa mobil lagi!"Jadi tak heran jika Varel bisa berganti mobil dengan sesuka hati.
Piyo menepuk kaki Lava. Dia mengode Lava agar memberikan bunga pada Tera. Benar sekali. Karena Lava telah jujur sepenuhnya pada Piyo. Jadi Piyo akan memutuskan membantu tuannya ini. Dan sesuai apa yang dia deteksi. Manusia seperti pasangan suka dengan bunga. Jadi dengan susah payah Piyo mencuri bunga agar bisa diberikan pada Lava. Dan tuannya itu memberikan bunganya pada Tera.
Lava ragu, tapi jika tak diberikan maka Tera pasti tidak akan pernah tahu apa yang ia rasakan."Te-ra ..."
"Hah? Apaandah?"Tera asik dengan game yang ia mainkan.
"Emm itu ... ini untukmu."
Tera mendongak, matanya menyipit saat melihat buket bunga."Dari mana dapetnya? Lagian ngapain gua elo kasih ke gua?"
Aneh sekali Lava ini!
"Apa? Kau tidak suka bunga?"
"Enggak lah! Kan gua cowok, yang suka bunga emak gua, pergi kasih ke emak gua aja. Gua mau main game bentaran."
Lava melihat ke arah Piyo."Kata Piyo manusia suka pada bunga, tapi kenapa Tera tak suka pada bunga?"
Piyo juga tampak menggeleng. Ia juga tak tahu kenapa Tera tak suka pada bunga. Apa deteksinya salah?"Cara kedua saja, Pitu!"
Anggukkan ragu tampak jelas dari Lava saat ini. Rencana ketiduran adalah mencium dan mengatakan bahwa dia suka pada Tera. Tapi saat ia pernah mencium Tera. Bukankah Tera sangat marah dan mengamuk, apa jika ia mencoba cara yang disarankan oleh Piyo ini bisa berjalan dengan sempurna?
"Ayo Pitu! Tunggu apa lagi, sebelum Oren dan Varel datang!"
Benar juga, jika mereka sudah datang maka akan susah menyatakan cinta pada Tera nanti.
Melihat Tera yang sibuk dengan ponselnya. Lava segera mendorong Tera untuk berbaring dan mencium bibirnya.
"Emmm!"Tera melotot, apa ini! Kenapa saja Lava tiba-tiba saja menciumnya lagi seperti ini!
"Anjing! Lava setan!"Ia mendorong tubuh Lava menjauh."Kenapa elo nyium gua lagi sih! Kali ini elo bilang nggak sengaja!"
Cukup dua kali Lava mengatakan jika dia tak sengaja menciumnya. Sekarang mau alasan apa lagi!
"Lava bab ... emm!"
Tera kembali di kejutkan dengan Lava yang kembali menciumnya.
"Tera, aku ... aku sebenarnya suka padamu!"
"Anjing ya lu!"Kali ini Tera menjauh."Nggak waras! Gila!"
Tidak bisa di percaya, jin apa yang merasuki Lava hingga dia bisa berkata seperti itu.
"Tera, aku benar-benar ..."
"Diem! Jangan gerak! Berani-beraninya elu nyium gua ya! Alien nggak waras! Homo lagi!"Baiklah init ak wajar. Tera benar-benar terkejut dengan pengakuan dari Lava."Gua udah kaget kalo elo itu Alien, ya Lava! Sekarang elo ngaku elo suka sama gua! Bener-bener nggak waras!"
Lava tak memberikan kesempatan. Ia memeluk dan mencoba mencium Tera lagi.
"Lava! Jangan ngaco! Gua nggak suka! Emmm!"kembali Tera mendorong Lava.
"Elo ..."
"Tera!!"
Tera menutup telinganya saat mendengar teriakan itu. Ia sedikit menoleh melihat Epa yang melihatnya dengan terkejut."Em-ak? Emak jangan salah paham, Mak! Tera nggak begituan sama Lava, dia yang nyium Tera duluan! Maka percaya sama Tera kan? Mak?"
"Elu! Elu gay?!"
Tera menggeleng,"Emak jangan salah paham. Lava liat apa yang lu lakuin! Tanggung jawab anjing!"
Voted →coment →follow
KAMU SEDANG MEMBACA
ALIEN (BL)
HumorTera Parama. -Siswa SMK yang lagi magang. -Suka Drakor. -Anak kesayangan Emak. -Nggak suka Lava. Phi Lava -Alien nyasar ke Bumi. -Melindungi harta berharga. -Tidak terlalu mengerti dunia manusia. -Suka Tera. Semesta itu rahasia, kehidupan didalamny...
