Oline meneguk ludahnya dengan berat saat membaca mention di Twitter dari sang wakil GM. Seharusnya, dia merasa senang-diundang makan sushi bareng? Itu pasti terdengar seperti mimpi yang jadi kenyataan.
Tapi situasinya berubah drastis setelah kejadian kemarin. Setelah dia kepergok melakukan sesuatu yang... ya, sesuatu yang dewasa itu, apalagi dengan sesama member.
Sekarang, dia tidak bisa membayangkan apa jadinya jika makan berdua dengan sang wakil GM. Adem panas? Sudah pasti. Tegang? Itu bahkan belum setengah dari apa yang dia rasakan.
Tak lama setelah itu, Oline membuka aplikasi chat, sesuai instruksi sang ex member yang dapat predikat sempurna itu. Dia memeriksa pesan yang diterimanya sambil menghela napas panjang.
"Jadi ini bakal jadi makan berdua bareng oshi aja atau aku bakal di-briefing abis-abisan ya?" gumam Oline dengan nada setengah frustasi sambil membaca isi pesan di ponselnya. "Kenapa rasanya lebih yakin yang kedua..." Oline cemberut, kenapa hubungannya yang bahkan belum seumur jagung mendapat cobaan seberat ini!
Dia menatap layar dengan nanar, pundaknya terkulai lesu. Seharusnya dia bahagia, bukan?
Tapi kenyataannya, jantungnya malah sibuk melakukan senam disko tanpa henti. Deg-degan yang tak terkendali, perasaan cemas yang menyelimuti, dan berbagai skenario buruk terus berputar di kepalanya.
Bahkan, meskipun waktu dan tempatnya belum ditentukan, Oline merasa sulit untuk bernapas dengan tenang.
Bayangan makan berdua saja sudah cukup membuatnya gemetar. Apalagi jika benar terjadi hal yang lebih serius. Aroma-aroma konfrontasi soal kejadian kemarin seolah sudah tercium dari kejauhan.
Oline menarik napas dalam-dalam, mencoba mengumpulkan keberanian. Dia tahu dia harus membalas mention itu, meskipun rasanya seperti menghampiri lubang maut. Sosok sang wakil GM yang hanya dengan tatapan saja bisa membuat seluruh member kicep, kini menghantui pikirannya.
"Bayangkan aja makan berdua sambil ditatap terus-terusan, sambil ditanyain yang kemarin itu apa..." Gumam Oline dengan wajah pucat pasi. Dia menggigit bibirnya, semakin yakin bahwa sushi yang harusnya enak itu bakal terasa hambar jika benar skenario buruknya terjadi.
Dan sebagai tambahan penderitaan, Oline teringat satu hal yang membuat situasinya semakin ngenes. Dia baru saja merasakan first kiss-nya... dan itu pun ketahuan! Kalau sang wakil GM benar-benar membawa hal itu ke meja makan nanti, Oline yakin dia tidak akan bisa menelan apa pun, bahkan secuil sushi sekalipun.
===
Erine menatap Oline dengan pandangan penuh kekhawatiran. Biasanya, Oline selalu datang dengan energi yang ceria, tetapi kali ini ia tampak lesu dan seperti kehilangan semangat hidup.
"Kamu kenapa?" tanya Erine, nada suaranya mencerminkan keprihatinan yang tulus. Dia memang menunggu Oline di lobi kantor. Mereka janjian buat datang barengan.
Oline yang sedang melamun sambil jalan itu, langsung tersentak. Untung gak nabrak pintu kaca aja sih tadi,
"Aku kenapa?" tanyanya balik dengan ekspresi linglung, seolah-olah dia sendiri tidak tahu apa yang sedang terjadi.
"Ih, Oline kok malah nanya balik sih! Lihat tuh muka kamu kayak orang kurang tidur. Padahal tadi malam kamu pamit tidur duluan. Kita bahkan gak ada video call, kan? Kamu bohong ya? Sebenarnya gak tidur cepat, kan?"
"Nggak- nggak gitu..." jawab Oline dengan panik. Dia mencoba keras menutupi kegelisahannya, tapi jelas usahanya susah berhasil.
Padahal tadi malam dia sudah sengaja tidak video call seperti biasanya, dengan alasan mengantuk. Tapi kenyataannya? Itu cuma alasan untuk menyelamatkan diri. Kalau mereka video call, Erine pasti langsung tahu ada sesuatu yang tidak beres. Dan itu hal terakhir yang Oline inginkan. Oline tidak mau, Erine ikut khawatir tentang hubungan mereka. Mengingat sikap Erine selama ini, Oline menduga membuka keapesan ini akan berdampak buruk bagi hubungannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Jalan Kita [Orine]
FanfictionBerawal dari teman berlanjut dengan jalan berdua. Berawal dari gengsi berakhir dengan saling memiliki, tanpa publikasi.
![Jalan Kita [Orine]](https://img.wattpad.com/cover/379332973-64-k56175.jpg)