[12] Uneg-Uneg

3.1K 294 18
                                        

Haaiii para penggemar Orine.

What's up whatsap whatsap bro??

Apa kabar kalian??

Pada nungguin ya😁

》》》》》

Oline terbangun saat samar-samar mendengar suara tangisan. Dengan gerakan lambat, dia mengusap matanya yang masih mengantuk, mencoba memastikan bahwa suara itu nyata. Bulu kudunya berdiri, dia merinding saat tak menemukan objek yang mengeluarkan suara tangisan itu, tak lama matanya terbuka sempurna dengan kesadaran penuh bahwa tidak mungkin ada hal aneh-aneh yang terjadi.

Dia kembali menetap sekitar saat itu pandangannya jatuh pada seseorang yang duduk di bagian bawah yaitu siempu kamar, Erine, pacarnya yang kadang suka buat puyeng, dengan kepalanya tunduk di atas lutut dan bahunya sedikit bergetar.

“Erine?” Oline memanggil pelan, masih dengan suara serak khas baru bangun tidur.

Erine tetap diposisinya, menyembunyikan wajahnya di balik rambut yang terurai. Tangisannya terdengar lebih nyaring.

“Rin, kamu kenapa?” Oline bangun dari tempat tidur, berjalan mendekat, lalu duduk di samping Erine. Tangannya pelan menyentuh bahu gadis itu. “Hei, kamu nangis kenapa? Ada apa?”

Namun Erine tetap diam, memilih menunduk tanpa menjawab. Justru tangisan Erine semakin nyaring. Membuat Oline panik. Gimana kalau orang satu rumah denger? Gimana kalau dia dikira macam-macam ke anak orang??

“Erine, please! Kamu nggak bisa kayak gini. Aku nggak ngerti kalau kamu cuma nangis. Kasih tahu aku, kamu kenapa? Atau kamu mimpi buruk?” pinta Oline dengan suara sedikit gemetar. Dia beneran takut sekarang. Takut digrebek orang rumah.

"Tunggu, kamu sakit ya?" Pikiran Oline semakin liar.

Erine akhirnya mengangkat wajahnya. Mata sembabnya menatap Oline dengan penuh luka. “Kamu nggak ngerti? Beneran nggak ngerti?” suaranya serak, seperti mencoba menahan emosi yang tertahan.

Oline terdiam sesaat. Dia mengerutkan kening, merasa bingung sekaligus cemas. “Aku nggak ngerti, Rin. Aku ada salah ya?” Tanya Oline dengan sedikit linglung. Kalau Erine gak kenapa-kenapa tapi malah nangis, berarti sumbernya karena dirinya, tebak Oline.

“Kamu berubah!” seru Erine, suaranya pecah. “Kamu nggak peduli lagi sama aku, Lin. Kamu dingin belakangan ini. Aku nggak pernah tahu kamu sibuk apa. Kamu nggak pernah nyari aku duluan. Selalu aku yang harus mulai.  Itu pun kamu gak bisa dibubungi. Aku capek, Lin. Aku capek!”

Oline terkejut dengan tuduhan itu. Dia merasa hatinya seperti ditusuk. Tapi dibalik itu semua, ada rasa sakit yang diam-diam dia pendam selama ini. Rasa kecewa yang membuat dia memilih untuk menjaga jarak pas liburan kemarin.

Akhirnya Oline tau ini arahnya kemana. Padahal dia cuma beberapa hari gak menghubungi, itu juga sekalian menenangkan diri. Plus mencoba ide gila dari kokonya. 

“Rin,” kata Oline dengan nada tegas tapi tetap lembut, “Aku berubah karena kamu.” Bagi Oline mungkin memang sudah saatnya semuanya diomongin.

“Kamu yang mulai jaga jarak duluan. Dan kamu juga yang minta aku  buat jaga jarak.” Suara Oline tapi terdengar tegas.

Erine menghela napas panjang, matanya mulai berkaca-kaca lagi. “Aku minta jaga jarak di depan fans Lin, di depan kamera. Bukan di semua kegiatan pribadi kita,” Erine menatap Oline dengan tatapan terluka. “Aku nggak mau halu fans makin liar, Lin. Mereka udah terlalu banyak bikin cerita nggak jelas tentang kita. Kita ini member JKT48. Kamu tahu kan gimana bahayanya kalau fans mulai halu soal hubungan kita?”

Jalan Kita [Orine]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang