|16|| Kisruh

2.4K 254 18
                                        

...

Erine terbangun dengan badan yang lumayan pegal-pegal. Apalagi bagian kakinya. Kurang ajar memang si Lana, sudah minta tolong ditemani tapi gak sadar waktu. Mereka keliling mall dan muter-muter berjam-jam tapi tidak ada yang dibeli sama member tertua di gen 12 itu.

Malah anaknya dengan santai bilang ‘kalau gak ada yang menarik mata, nanti aja beli online.’ Erine rasanya mau mengumpat tapi dia urungkan. Kalo dari awal bisa beli online ngapain mereka harus muter mall segede gaban di bekasi itu? Mana setiap lantainya diputerin lagi! Malah ada lantai yang gak sekali doang diputerinnya.

Awalnya sih Erine malas buat ngemall, tapi pas lihat chat Oline kalau anaknya lagi main sama yang lain kerumah Delyn dan Erine kalo pulang juga tanggung, dirumah gak ada orang, akhirnya dia nemenin Lana.

Kalau Oline nganggur sih, dia bakalan ngajakin Oline sekalian, tapi karena anak itu sudah ada kegiatan lain, Erine juga gak pengen ganggu. Ada saatnya mereka sibuk sama teman-teman yang lain juga, dan itu gak masalah.

Erine dengan berbesar hati nemenin Lana yang hobi koleksi furniture ini. Itu kosan malah udah kayak rumah pribadi. Lemari, kursi dan perabotan lain banyak banget dengan jumlah yang gak sesuai sama besarnya ruangan.

Erine meraih ponselnya, keningnya berkerut saat melihat chat Oline yang sudah terbuka tapi tidak dia balas. Dia tidak ingat bahwa ada membuka aplikasi chat, mungkin keburu ngantuk dan lelah. Atau pas tidur dia ngigau? Erine gak tau.

[Oline maaf, tadi malam aku ketiduran. Aku bahkan gak sadar kalau sudah buka chat kamu]

[Ini aku baru bangun. Kamu sudah di sekolah ya?]

Erine kemudian bangun, memilih untuk langsung mandi. Lagian matahari udah keliatan cerah banget, udah sampai disudut 45 derajat.

..

[Oline kamu marah?]

[Aku tadi malam gak sempat ngabarin kamu karena kecapean.]

Erine menghela nafas saat chatnya tak kunjung dibalas. Dibaca pun enggak. Dia tau Oline lagi sekolah, tapi biasanya anak itu bisa aja balas pesannya. Ini kenapa gak dibalas sama sekali. Apalagi sebentar lagi Oline seharusnya sudah pulang.

Erine mencoba menghubungi Oline, namun panggilan tidak tersambung. Berdering namun tidak kunjung dijawab

“Oline kemana sih?” Ucapnya mulai kesal. “Awas aja nanti pas di tempat latihan,” Sungut Erine.


Malam itu, di ruang latihan  yang biasanya hangat berubah menjadi medan perang yang dipenuhi ketegangan tak kasat mata. Tidak untuk semua, hanya untuk dua orang yang sejak datang, hingga latihan dua jam itu hampir selesai, dua orang itu tak kunjung bertegur sapa.

Erine beberapa kali mencoba menyapa Oline, tapi Oline sangat jelas sedang menghindarinya. Hal itu justru membuat Erine mulai kesal. Dia bertanya-tanya ada apa sebenarnya.

Saat latihan akhirnya selesai, Erine menatap sekitar dengan kening berkerut. Kemana perginya Oline? Tiba-tiba kekasihnya itu sudah tidak terlihat.

“My lovely ada lihat Oline?” Tanya Erine saat bertemu dengan Lily di lorong sepertinya anaknya baru ngambil air

“Bukannya Oline sudah pulang ya?” Tanya Lily balik dengan wajah polos.

“PULANG??"

Lily mengangguk. “Tadi pas aku tanya katanya sudah dijemput,”

Bahu Erine langsung melorot. Hembusan nafasnya terdengar kasar. Tanda tanya di kepalanya semakin besar, ada apa sebenarnya sama Oline?

“Kamu ada perlu sama Oline?” Tanya Lily saat lihat muka capek bin lelah Erine. Lemes banget kalo dilihat-lihat. Lily jadi kasihan.

Jalan Kita [Orine]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang