Lorong belakang udah mulai lengang. Lampu-lampu gantung memantul di ubin, meninggalkan bayangan kaki orang-orang yang udah jalan pulang dari latihan. Di pojok, tepat dekat tangga menuju ruang staf, ada satu suara panggilan pelan,
"Erine."
Cewek jangkung itu nengok. Jantungnya langsung berdetak nggak karuan pas ngelihat Shani berdiri di depan pintu kaca ruang staf. Sikapnya seperti biasa, kalem, tegas, berwibawa. Tapi justru itu yang bikin deg-degan. Karena Shani bukan staf biasa. Wakil GM sekaligus mantan kapten yang senior banget di mata semua member.
"Iya, ci?" Erine maju pelan. Ekspresi mukanya kaget, tapi langsung berusaha netralin diri.
"Kamu bisa ikut sebentar?"
"Eh... iya ci, bisa." Suara Erine nyaris tercekat. Tapi dia tetap ikut, walau langkahnya ragu-ragu. Di pikirannya, mulai muter semua kemungkinan. Apa salah? Apa ada yang dia lakuin? Apa soal latihan?
Setelah masuk ke ruang briefing kecil, Shani langsung menutup pintu. Lampu ruang itu gak terlalu terang, dan suasananya... kayak lebih sunyi dari biasanya.
Erine berdiri canggung. Tangannya megang botol minum, napasnya gak berani dikeluarin keras-keras.
Shani duduk. Ngeliat Erine sebentar. Lalu, "Duduk, Rin."
Erine langsung nurut. Duduk pelan di seberang meja. Masih gak tau... ini pemanggilan kenapa.
"Kamu tau kenapa aku manggil kamu?"
"...nggak, ci." Erine jawab jujur. Matanya menatap Shani, tapi ada gugup jelas di wajahnya. Ini pertama kali dia dipanggil langsung kayak gini.
Shani narik napas pelan. Nunduk sebentar, lalu mulai bicara pelan-pelan. "Aku dapet laporan. Dari staf lain. Katanya... kamu dan Oline—"
Deg.
Erine refleks langsung kaku. Gak bisa nyembunyiin keterkejutannya. Tapi masih berusaha tenang. "...Kami kenapa, ci?"
Shani memperhatikan ekspresi Erine. Ada ketegangan. Ada ketakutan. Tapi bukan panik yang nyolot—lebih kayak... rasa gak siap dihadapkan ke kenyataan.
"Ada dua member yang ngomongin kalian. Dan staf denger. Mereka bilang kalian pacaran. Dengan kata-kata yang gamblang." Ucap Shani apa adanya. "Staf mau laporan ke kak Melody tapi kebetulan aku datang dan kak Melody ada urusan, jadi aku yang diminta nanganin."
Erine nutup mulutnya sebentar. Matanya menunduk. Jari-jari di pangkuannya mulai mencengkram botol minum yang tadi dia pegang.
"Aku..." suara Erine serak, "Aku gak pernah nyangka akan sampai kayak gini ci..." Erine gak nyoba buat nutupin atau ngelak, terlebih dari awal dia tau Shani telah tau semuanya, bahkan sebelum dia tau bahwa Shani sudah tau tentang hubungannya dengan Oline.
Shani gak langsung komentar. Cuma duduk tenang. Tapi sorot matanya tajam, penuh pertimbangan. "Selama ini aku gak pernah ganggu kalian. Tapi kamu juga tau... posisi aku sekarang beda. Aku gak bisa terus pura-pura gak denger."
Erine ngangguk kecil. Ada genangan bening di matanya, tapi dia tahan.
"Aku gak tahu siapa yang ngomongin, ci. Dan kenapa mereka ngomongin aku sama Oline. Tapi... yang pasti, kami gak pernah sengaja pamer. Kami cuma... ya, deket."
"Tapi kamu juga tau, kedekatan kalian bukan kedekatan biasa. Tatapan kalian bukan tatapan sahabat biasa." Ucap Shani pelan, tapi tajam. "Aku mantan member, Rin. Aku tau bedanya."
Erine gak bisa jawab. Lidahnya kelu.
Shani lanjut. "Waktu aku panggil Oline dulu, aku pikir itu cukup. Tapi sekarang, staf lain udah tau. Beberapa member juga mungkin udah mulai ngomongin."
KAMU SEDANG MEMBACA
Jalan Kita [Orine]
Fiksi PenggemarBerawal dari teman berlanjut dengan jalan berdua. Berawal dari gengsi berakhir dengan saling memiliki, tanpa publikasi.
![Jalan Kita [Orine]](https://img.wattpad.com/cover/379332973-64-k56175.jpg)