[51] Nikmat Dunia

2.8K 284 47
                                        

Mobil akhirnya berhenti pelan di depan rumah Erine. Lampu teras nyala redup, dan angin malam semilir gerakin daun-daun di pohon sekitar halaman rumah. Malam dingin seperti biasanya, namun suasana dalam mobil begitu hangat.

Oline masih belum ngelepas tangan Erine, bahkan setelah mesin mobil mati. Erine cuma ngeliatin tangan mereka yang masih nyatu, nggak berniat ngelepas juga, tapi genggamannya menurun sedikit, malu.

"Line..." Erine akhirnya bersuara, pelan.

"Hmm?"

"Kita udah depan rumah aku." Ingatnya pelan karena tak ada tanda-tanda gerakan dari Oline melepas tautan tangan mereka.

Oline pura-pura gak sadar. "Oh? Masa sih? Kok nggak kerasa ya Sudirman-Bekasi?" Wajahnya terlihat polos, tapi ya Erine jelas tau, itu hanya akal-akalan si Manuel.

"Jangan pura-pura bego."

"Kan kamu nggak narik tangan kamu juga." Bela Oline, lagian genggaman itu nggak searah, saling tertaut dan saling menggenggam.

Erine ngehela napas, tapi senyum. "Karena kamu duluan yang nggak mau lepas."

Oline akhirnya ngelepas pelan, tapi cuma untuk buka seatbelt, habis itu tangannya otomatis balik nyari tangan Erine lagi. Refleks banget. Nggak sih, emang sengaja.

Erine ngedip pelan, terus nahan ketawa. "Line..."

"Hmm?"

"Kamu mau masuk dulu nggak?"

Oline berhenti. "Boleh?"

"Boleh, kenapa nggak? Kayak biasanya aja... ngobrol bentar, trus kamu balik."

Oline angguk. "Oke."

Mereka keluar mobil bareng. Angin malam adem, dan langkah mereka santai menuju pintu rumah. Malam begitu sunyi tapi kesunyian itu tak membuat kosong. Erine sangat merasakan perbedaannya, hanya beberapa hari yang lalu dia uring-uringan di rumah ini, dan sekarang obat itu datang bersamanya hari ini.

Tapi pas sampai di depan pintu, Erine tiba-tiba berhenti. Dia muter badan, ngeliat Oline dari jarak dekat banget. Memperhatikan sembari menimbang-nimbang.

"Line."

"Ya?"

"Nginep di sini ya."

Oline sempet bengong, "Hah?"

Erine nahan tawa karena ekspresi Oline bener-bener lucu. Kenapa harus kaget gitu? Kayak nggak pernah nginep aja, batin Erine.

"Maksudnya...?"

"Maksudnya nginep. Ya nginep. Literally nginep. Kenapa sih?" Erine mulai nggak sabar sama kelolaan Oline. "Nginep Oline tidur disini."

"Beneran?" Oline bukannya lola, lebih ke kaget dapat tawaran nginep alias bisa tidur bareng dan ya... Sekedar tidur.

"Iya. Besok kamu libur juga, kan? Nggak ada kegiatan lain kan?"

"Iya, tapi... kamu yakin?"

Erine ngangguk kecil. "Emang aneh ya tawaranku?" Tanyanya pelan, Erine mulai menyadari jarak mereka sebelumnya ternyata sejauh itu. Bahkan Oline se-nggak percaya itu buat diajak nginep di rumahnya. Padahal beberapa malam yang lalu dirinya sudah nginep di rumah Oline. Seharusnya ini bukan hal yang baru untuk mereka.

"Aku nggak mau kamu pulang jauh-jauh sendiri malem-malem gini." Imbuhnya tambah pelan, nyaris bisik, "Dan... aku masih kangen."

Dahi Oline langsung naik. "Masih?"

"Iya."

"Tadi sepanjang jalan kita gandengan lho."

"Ya terus kenapa?"

Jalan Kita [Orine]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang