Gak mau tau, kalau baca ini play video diatas. Kasih like divideonya juga. Wajib sih dari gue, peduli apa! Udah gue panjangin nih babnya.
Kalau gak bagus viewsnya, chap 35 nya bulan depan HA😈 HA😈 HA 😈
...
Hari itu latihan berakhir lebih cepat dari biasanya. Udara di studio masih hangat, sisa dari gerakan-gerakan cepat yang barusan dipaksa tubuh. Lampu studio mulai diredupkan, menyisakan cahaya temaram yang jatuh samar ke lantai kayu yang masih sedikit licin oleh keringat. Speaker sudah dimatikan, menyisakan hanya suara-suara nafas yang tersengal dan obrolan ringan yang bersahutan.
Beberapa member masih duduk santai di lantai. Ada yang buka tumbler dan nyeruput pelan sambil selonjoran. Ada yang sibuk mengetik cepat di HP dengan ekspresi fokus setengah capek. Beberapa yang lain mengganti kaos sambil kipas-kipas pakai tangan, mencoba mendinginkan badan yang masih gerah.
Erine duduk di dekat tembok, agak terpisah dari keramaian. Dia ngelepas sepatu pelan-pelan sambil ngobrol santai dengan Kimmy yang duduk tak jauh darinya, ngelap keringat dengan handuk kecil warna biru muda. Tawa kecil masih terdengar dari keduanya, meski tubuh mereka tampak lelah.
Tapi suasana yang semula ringan mulai berubah begitu Cathy, Michie, dan Gendis jalan mendekat dan duduk melingkar di seberang. Gerakan mereka terkoordinasi, seperti udah janjian.
Tak lama, Lana, Fritzy, Aralie, Nachia, Kimmy, dan Nala juga ikut nimbrung. Lingkaran makin besar. Mereka yang tadinya duduk acak langsung merapat, mengubah posisi. Tipe-tipe cewek yang siap buat gosip bareng.
Ada yang duduk bersila, ada yang nyandar santai ke dinding. Obrolan awal masih ngalor-ngidul-tentang kaki yang kram karena koreo, tentang tempat makan yang lagi hits buat dinner ramean, sampai akhirnya...
"Rin," suara Cathy datar tapi tajam, menusuk di tengah-tengah tawa yang mulai mereda. "Kamu sama Oline lagi kenapa, sih?"
Erine yang tadi lagi ngikat tali sepatu langsung terhenti. Tangannya menggantung di udara. Dia perlahan menoleh. Matanya sempat melirik wajah-wajah di sekeliling lingkaran. Ada yang pura-pura sibuk mainin botol minum, ada yang berkedip-kedip menatapnya dengan polos.
"Kenapa emangnya kak?" tanyanya, mencoba tenang. Senyum kecil dia lemparkan, tapi senyum itu kaku. Terlalu dipaksakan.
"Ya... kalian keliatan jaga jarak banget sekarang," Michie menyahut, senyumnya setipis garis pensil. "Dulu kan nempel terus. Gak satu frame pun bareng. Sekarang? Bahkan pas formasi latihan kayak sengaja jauhan."
Gendis mengangguk, wajahnya serius. "Kita semua ngeliat, Rin. Kalian kelihatan beda banget dari biasanya."
Kimmy dan Nachia saling lirik, seolah menyadari arah obrolan ini akan masuk wilayah yang gak nyaman. Nala terlihat ragu, tangannya udah nyentuh botol minum dua kali tapi gak jadi buka tutupnya.
"Aku ngerasa kalian berjarak udah dari beberapa waktu lalu. Maksudnya, bukan pengen ikut campur ya. Tapi kalian tuh keliatan... aneh banget sekarang." Cathy kembali menyaut, nada suaranya tegas, tanpa basa-basi.
Lana nyenggol Fritzy pelan, mereka saling lirik, ngerasa kalau suasananya jadi gak enak, lalu ikut buka suara,
"Kayaknya itu biasa aja gak sih, Kak-" Lana mencoba menengahi, nadanya ramah tapi hati-hati.
"Iya, gak ada yang aneh menurut aku," Fritzy menimpali. "Kita semua kan deket. Jadi gak mungkin setiap waktu cuma bareng satu orang doang."
"Tapi mereka selama ini tuh... ya, kayak pasangan gak sih..." Gendis menyelipkan komentar lagi, kali ini suaranya lebih pelan, tapi tetap terasa menusuk.
KAMU SEDANG MEMBACA
Jalan Kita [Orine]
FanfictionBerawal dari teman berlanjut dengan jalan berdua. Berawal dari gengsi berakhir dengan saling memiliki, tanpa publikasi.
![Jalan Kita [Orine]](https://img.wattpad.com/cover/379332973-64-k56175.jpg)