[19] Modus Yang Mulus

4.3K 294 19
                                        


Setelah makan malam seadanya—mie instan dan telur dadar karena Oline malas masak—keduanya duduk di sofa ruang santai. Televisi menyala, tapi tidak ada yang benar-benar fokus menontonnya.

Erine duduk bersandar di sudut sofa, sementara Oline dengan santainya berbaring, kepalanya bersandar di paha Erine.

"Kamu udah ngantuk?" tanya Erine sambil memainkan rambut Oline dengan ujung jarinya.

"Enggak juga," jawab Oline pelan. "Cuma nyaman aja."

Erine tersenyum kecil, matanya menatap lembut ke arah Oline. Dia sendiri tak menyangka bahwa pertengkaran yang sempat membuat mereka saling diam selama seminggu akhirnya berakhir juga.

"Aku beneran minta maaf, Rin," ucap Oline tiba-tiba. "Aku tahu aku keterlaluan waktu itu."

Erine menghela napas. "Aku juga... harusnya aku kasih kesempatan kamu buat jelasin dari awal. Tapi waktu itu aku terlalu marah."

Oline menggenggam tangan Erine yang ada di pangkuannya. "Yang penting kita udah baikan sekarang."

Erine tersenyum tipis, lalu dengan iseng, ia mencubit pipi Oline. "Iya. Tapi jangan nuduh aku yang enggak-enggak lagi ya?"

Oline meringis. "Enggak lagi... janji!"

Mereka tertawa kecil bersama. Suasana di antara mereka terasa lebih ringan sekarang.

..

.

Beberapa saat kemudian, setelah mengganti baju dengan hoodie kebesaran milik Oline, Erine akhirnya merebahkan diri di kasur Oline.

"Kok kasurnya lebih kecil dari yang aku kira?" gumam Erine.

Oline menaikkan sebelah alis. "Kasurku cukup besar buat satu orang. Kalau dua orang, ya pasti mepet. Tapi itu bagus," gumam Oline diakhir yang gak didenger Erine.

Erine mendesah. "Jadi aku harus tidur di mana?"

Oline menyeringai. "Ya di sini lah, bareng aku."

"Kamu pasti sengaja," tuduh Erine dengan tatapan curiga.

Oline mengedikkan bahu dengan santai. "Mau tidur di sofa?"

Erine mendengus. Akhirnya, dengan sedikit pasrah, dia menyelipkan diri di bawah selimut, membiarkan Oline ikut menyusup ke dalamnya.

Awalnya mereka tidur dengan posisi masing-masing, tapi lama-kelamaan, Oline mulai bergerak mendekat.

"Lin..." Erine memperingatkan.

"Diam," sahut Oline pelan, lalu tanpa aba-aba, ia memeluk Erine dari belakang.

Erine bisa merasakan hangatnya napas Oline di tengkuknya, membuat wajahnya sedikit memanas. "Lin, jangan deket-deket..."

"Kenapa? Dingin tau."

"Kamu yang dingin atau alasan aja?"

Oline terkekeh pelan, lalu mengeratkan pelukannya. "Aku cuma mau peluk kamu, boleh kan?"

Erine terdiam sejenak. Ia bisa merasakan detak jantungnya yang sedikit lebih cepat dari biasanya. Namun, alih-alih menolak, ia justru membiarkan Oline tetap memeluknya.

"...Cuma semalam aja," gumam Erine akhirnya.

Oline tersenyum puas, lalu menempelkan wajahnya di bahu Erine. "Makasih, Rin."

Dan malam itu, mereka tidur dalam kehangatan satu sama lain, seolah tidak pernah ada pertengkaran di antara mereka.

..

.

Malam semakin larut, tapi Erine masih terjaga. Dia bisa merasakan napas Oline yang teratur di lehernya, menandakan bahwa gadis itu sudah tertidur lelap.

Jalan Kita [Orine]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang