Cahaya matahari masuk pelan melalui celah tirai tipis kamar Erine, menimpa lantai yang masih lembap dari hujan semalam. Udara segar menyelinap, tapi hangat tubuh Oline yang masih menempel di sampingnya terasa lebih nyaman.
Erine membuka mata perlahan, menatap siluet Oline di kasur. Ia menarik napas pelan, menyadari posisi mereka—Oline masih terlelap, lengan membungkus tubuhnya dengan pelan namun erat.
"Uh... bangun dulu, Lin," bisik Erine pelan, mencoba menggeser tubuhnya untuk lepas dari pelukan itu.
Tapi Oline... tidak bergeming. Malah mengeratkan pelukannya sedikit, menempelkan pipi lebih dekat ke kepala Erine, seolah tak ingin melepas.
"Eh... Lin... bangun dong..." suara Erine sedikit meninggi tapi tetap lembut. Ia menepuk punggung Oline perlahan, berharap membuatnya sadar.
Oline mengerjap, matanya setengah terbuka, tersenyum nakal. "Mmm... kemana kamu mau lari, Rin? Masih pagi... dan aku masih nyaman di sini."
Erine menahan tawa sekaligus kesal gemas. "Aku cuma mau... bangun... jangan peluk aku lagi kayak ini! Aku gak bisa bangun."
Oline pura-pura menguap panjang, lalu menarik napas dalam. "Nggak bisa... pelukan ini... aman. Aku jaga kamu dari dingin pagi. Biar kamu nggak kedinginan."
Erine menoleh, pipinya memerah, tapi tak bisa menahan senyum. "Dasar modus! Kamu cuma mau peluk aku lagi, kan?"
Oline menatapnya serius—tapi tetap dengan mata berbinar nakal. "Bukan modus. Ini demi keselamatanmu. Ntar kedinginan kalau aku lepas pelukannya. Ntar bisa masuk angin."
Erine menghela napas panjang, lalu dengan setengah menyerah, menempelkan kepala lagi ke dada Oline. "Yaudah... tapi cuma lima menit lagi, ya?"
Oline mengangguk, lalu mengecup rambut Erine singkat. "Lima menit... tapi mungkin bakal lebih lama... kalau kamu masih nyaman di sini."
Mereka diam beberapa saat, hanya suara napas dan detak jantung yang terdengar. Hanya ada hangat yang menenangkan, sedikit malu, dan tawa kecil yang tersembunyi di antara senyuman.
"Line..." suara Erine pelan, menatap ke atas.
"Hmm?"
"Jangan dilepas ya... pelukanku sama kamu. Aku... masih pengen ngerasain ini."
Oline tersenyum, mengeratkan pelukannya lagi, dan menempelkan pipi ke kepala Erine. "Aku juga, Rin... masih pengen di sini. Selama kamu mau, aku nggak bakal lepas."
Beberapa menit berlalu, matahari makin tinggi, tapi mereka masih terjebak di kasur. Erine akhirnya mulai bergerak, berusaha bangun sungguhan.
“Line… ayo, kita harus bangun beneran. Nanti kesiangan,” desis Erine sambil menyingkirkan selimut sedikit.
Oline menutup mata lagi, malah menarik Erine lebih dekat. “Nggak bisa… kamu masih hangat… dan aku juga masih… nyaman banget.”
Erine menepuk dadanya pelan, setengah gemas. “Kamu itu modus! Bangun beneran, Lin. Jangan bikin aku kesal!”
Oline membuka mata setengah, senyum nakal muncul. “Kesal? Aku malah bikin kamu senyum kan? Liat, pipi kamu merah, matanya berbinar… sukses modus aku.”
Erine mendorong pelan, tapi Oline menahan tangannya dengan lembut. “Eh, Rin… jangan. Aku cuma mau peluk kamu lebih lama. Sebentar lagi ya, aku masih kangen sama kamu. Rasanya lama banget kita nggak kayak gini. Deket, tenang, tanpa rasa takut.”
Erine menghela napas, “Maaf ya, aku jaga jarak tiba-tiba”
"Jangan minta maaf lagi, udah cukup. Bukan salah kamu, ini hanya karena keadaan." Oline pura-pura serius. “Nyaman banget tau nggak Rin kayak gini. Pelukan pagi anti dingin, anti kesepian, anti bad mood.”
KAMU SEDANG MEMBACA
Jalan Kita [Orine]
FanfictionBerawal dari teman berlanjut dengan jalan berdua. Berawal dari gengsi berakhir dengan saling memiliki, tanpa publikasi.
![Jalan Kita [Orine]](https://img.wattpad.com/cover/379332973-64-k56175.jpg)