Aneh sebenarnya. Mereka sudah pacaran. Sudah melakukan banyak hal yang lebih memalukan dari sekadar bicara seperti ini. Tapi mengucapkan perasaan secara langsung seperti ini selalu terasa lebih sulit. Apalagi untuk Oline yang biasanya memilih diam, lebih tepatnya memendam karena keadaan.
"Pas Kak Lulu bilang 'bilangin pacarnya jangan marah'..."
Erine langsung menegang. Jangan bahas itu lagi. Itu yang ada di wajahnya.
Tapi Oline tetap melanjutkan.
"Aku senang."
"Line-"
"Tunggu dulu." Oline memotong ucapan Erine. Bukan keras. Tapi cukup membuat Erine diam.
"Semua orang ketawa karena mereka nganggep itu bercanda. Mereka cuma ngekapal-kapalin kita. Mereka nggak tau apa-apa."
Suara Oline pelan. Jauh lebih pelan dibanding biasanya. "Tapi aku tau."
Erine tidak bergerak. Diam dan mendengarkan.
"Aku tau kalau itu bukan bercanda."
Sunyi. Tidak ada lagi balasan cepat dari Erine. Tidak ada lagi rengekan marah. Tidak ada lagi protes. Karena dia tahu ke mana arah pembicaraan ini.
"Dan mungkin ini terdengar egois..." Oline tersenyum kecil. "Tapi aku cuma mikir, kapan lagi aku bisa dengar orang lain manggil kamu pacarku, walaupun mereka nganggapnya cuma bercanda."
Deg.
Selesai.
Semua amarah Erine yang dari tadi terkumpul seharian, rasa kesal, bete tiba-tiba seperti kehilangan tempat untuk berdiri. Dia ingin marah. Dia benar-benar ingin melanjutkan ngambeknya. Tapi bagaimana caranya marah setelah mendengar itu?
Apalagi ketika Oline mengatakan itu tanpa bercanda sedikit pun.
Dengan wajah yang terlalu tulus. Dan itu justru yang paling menyebalkan. Erine mengalihkan pandangan.
"Jangan ngomong kayak gitu."
"Kenapa?"
"Memalukan." Erine tau wajahnya pasti memerah.
Oline tersenyum kecil. "Nah, ini lagi."
"Apa."
"Gengsi."
"Aku nggak gengsi."
"Kamu dari tadi merah."
"Karena panas."
"Kosan kamu AC-nya nyala enam belas derajat."
"Berarti AC-nya rusak."
Oline gagal menahan. Dia tertawa. Benar-benar tertawa kali ini. Dan Erine yang tadi hampir luluh langsung mengambil bantal kedua. Benar-benar perusak suasana.
"OLINE."
"Iya, iya. Maaf."
"Jangan ketawa!"
"Maaf." Oline bilangnya memang maaf, tapi senyumnya masih terpatri.
"Jangan senyum juga!"
"Itu susah."
Bantal kedua melayang. Dan kali ini Oline tidak menangkapnya. Dia membiarkan bantal itu mengenai wajahnya, lalu menjatuhkan diri ke samping Erine di kasur, dengan dramatis.
"Udah nggak ngambek?"
"Masih."
"Bohong."
"Nggak." Erine bersungut, melipat tangan di dada.
KAMU SEDANG MEMBACA
Jalan Kita [Orine]
Fiksi PenggemarBerawal dari teman berlanjut dengan jalan berdua. Berawal dari gengsi berakhir dengan saling memiliki, tanpa publikasi.
![Jalan Kita [Orine]](https://img.wattpad.com/cover/379332973-64-k56175.jpg)